BANTUL – Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) mencanangkan program pengeboran sumur di sejumlah kecamatan. Ini sebagai solusi permanen menyusul kerapnya sejumlah kecamatan di Bantul mengalami kekeringan selama musim kemarau. Kepala Bappeda Bantul Tri Saktiana mengatakan pihaknya telah melakukan kajian dan pemetaan sumber mata air di sejumlah kecamatan yang menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau. Diantaranya kecamatan Piyungan, Dlingo, Imogiri dan Pleret. “Kita memang ingin ada solusi permanen,” tegas Tri, sapaan akrabnya, saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (12/9).
Dalam mengidentifikasi titik-titik sumber mata air, Bappeda menggandeng ahli dari perguruan tinggi. Agar program pengeboran sumur tepat sasaran. Sehingga nantinya sumur-sumur tersebut dapat dimanfaatkan warga untuk memperoleh air bersih sekalipun saat musim kemarau.Tri mengakui sejumlah kecamatan memang kerap menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau. Tetapi kekeringan di kabupaten Bantul tidak terjadi secara masif. Berbeda dengan kekeringan yang terjadi di luar pulau jawa. “Misalnya di Selopamioro, Imogiri. Di sana kekeringan ternyata hanya terjadi di beberapa dusun. Tidak menyeluruh. Begitu pula dengan wilayah lain. Jadi jangan digebyah uyah,” ujarnya.
Dari situ, program dropping air yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat musim kemarau dinilai masih cukup sebagai solusi sementara. Meski demikian, kata Tri, pemkab menginginkan solusi permanen atas persoalan tahunan ini. “Kalau tahun ini belum ada anggaran untuk pengeboran sumur. Akan kita anggarkan pada tahun depan,” tandasnya.Terpisah, Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto menargetkan dampak kekeringan saat musim kemarau selalu berkurang setiap tahunnya. Salah satu caranya dengan optimalisasi sumber-sumber mata air. “Kita cari sumber-sumber mata air untuk dibuat sumur dalam,” bebernya.
Tahun ini, terang Dwi, BPBD mengajukan anggaran untuk pembuatan sumur di empat titik. Agar program tersebut dapat direalisasikan pada tahun depan. “Di Piyungan, Pleret, Dlingo, dan Pandak,” urainya.Senada dengan Tri, Dwi berpendapat program dropping air hanya bersifat sementara. Sebab, program jangka panjang pemkab adalah tidak adanya warga yang kesulitan memperoleh air bersih saat musim kemarau. “Alhamdulillah. Warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dari tahun ke tahun berkurang. Tahun ini kita anggarkan 200 tangki. Sampai hari ini baru 90 tangki yang telah disalurkan untuk dropping,” ungkapnya. (zam/ila)

Breaking News