MAGELANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang melarang aktivitas pengamen dan pengemis di Kawasan Kuliner Tuin van Java, Alun-alun Kota Magelang. Alasannya, mereka menganggu konsumen yang tengah menikmati makanan dan suasana kawasan tersebut.Tidak main-main dengan aturan tersebut, pemkot memasang peringatan di area pusat kuliner setempat yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kemarin (9/9).Kepala Kantor Satpol PP Kota Magelang Singgih Indri Pranggana mengatakan, keberadaan pengamen dan pengemis di kawasan kuliner menjadi perhatian pihaknya sejak lama dan saat ini sudah pada tahap meresahkan. Karenanya, pemkot mengeluarkan larangan tersebut. “Yang kami tekankan pada pengunjung adalah jangan ada yang memberi uang pada mereka. Kami melarang aktivitas mereka (pengamen dan pengemis, Red), karena tingkat keluhan masyarakat sudah tinggi. Hampir setiap hari dikeluhkan,” ungkap Singgih, kemarin (9/9).
Pelarangan tersebut terpaksa dilakukan, karena pengemis dan pengamen dianggap tidak kooperatif. Sudah berkali-kali diimbau, tetap saja mereka mengais rezeki di tenda PKL. Bahkan, tidak jarang mereka memaksa pengunjung untuk sekadar mendapatkan rokok. “Padahal sudah dilarang agar mereka enggak masuk tenda. Dulu sudah ada tenda khusus pengamen, tapi justru disalahgunakan. Malah dibuat ndeprok, tidur-tiduran,” paparnya.Tujuan utama pemkot memberi fasilitas tenda dan sound sistem pada pengamen supaya di kawasan tersebut terlihat rapi. Bahkan, mereka juga diberi seragam khusus. “Karena disalahgunakan, ya terpaksa kami bongkar saja. Ke depannya, setelah pemasangan plang, kami juga enggak mau lagi beri toleransi. Siapa saja yang masih mengamen dan mengemis, akan diciduk,” ancamnya.
Selain kawasan Alun-alun, Satpol PP juga rutin menyisir di kawasan lain. Termasuk Kompleks Masjid Kauman Magelang. Tidak jarang pada hari Jumat, gerbang masjid terbesar di Kota Magelang itu banyak dipenuhi barisan pengemis. “Sebaiknya pengemis itu enggak usah diberi uang. Biar mereka ada psikologis sendiri. Agar ketertiban Kota Magelang bisa terwujud dan semuanya bisa merasa nyaman,” katanya.Salah satu PKL di Tuin van Java, Luis mengaku setuju dengan kebijakan pemkot melarang pengamen dan pengemis di tenda jualan. Sebab, selain mengganggu konsumen, seringkali mereka tidak memperhatikan pengunjung saat asyik makan, tetapi justru dimintai uang. “Terkadang ini yang membuat mereka jadi tidak nyaman dan enggan datang ke Tuin van Java. Saya setuju dengan kebijakan ini,” katanya.Hal senada diutarakan salah satu pengunjung kuliner di Alun-alun tersebut, Susanto, 34, yang merasa terganggu dengan aktivitas pengamen dan pengemis. “Intinya, kalau ada aturan larangan ini, kami merasa nyaman. Enggak khawatir lagi kalau ada pengamen, enggak perlu bawa uang recehan,” kata warga asal Kaliangkrik, Kabupaten Magelang ini.(dem/hes)

Breaking News