DI sisi lain, kondisi bentang alam Indonesia, yang menjadi bagian sabuk gunung api dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi pemerhati gunung api di berbagai belahan benua.Didorong keberhasilan kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengembangan sistem peringatan dini, mitigasi, kesiapsiagaan, proses evakuasi serta rehablitasi, rekonstruksi dan edukasi terhadap erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Itu menjadi bagian penting dalam sistem informasi dan komunikasi dalam forum internasional. Dalam hal ini, World Conference Cities on Volcanoes 8 (CoV 8) sebagai salah satu jawaban ketertarikan masyarakat dunia terhadap kondisi gunung api di Indonesia.
CoV 8 merupakan konferensi bergengsi kegunungapian tingkat dunia yang digelar setiap dua tahun sekali. Kali ini, forum tersebut diselenggarakan di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada pada 9 – 13 September 2014. Konferensi tingkat dunia ini terselenggara atas kerjasama antara Badan Geologi – Kementrian ESDM, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman dan Universitas Gadjah Mada. CoV 8 diikuti 487 peserta dari 38 negara dari lima benua, yakni Afrika, Eropa, Asia, Amerika, dan Australia. Konferensi diikuti peserta yang terdiri atas para peneliti/akademisi bidang kegunungapian dan mitigasi bencana, pemerintah, praktisi, tokoh masyarakat, dan budayawan.
Konferensi bertema ‘Living in Harmony with Volcano: Bridging the Will of Nature to Society”, merupakan wadah bagi para pemerhati gunungapi dalam mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan temuan teknologi keguningapian terkini. Tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Untuk merespons tingginya perkembangan penduduk, permukiman dan infrastruktur di wilayah gunung api. Oleh karena itu pengembangan strategi adaptasi masyarakat terhadap gunungapi dan peningkatan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap perilaku gunung api menjadi suatu keniscayaan. Seminar internasional telah menjadi kebutuhan mendesak masyarakat dunia untuk mengomunikasikan hasil-hasil penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan praktiknya, dalam pengelolaan gunung api demi mengurangi risiko bencana.
Konferensi selama 5 hari tersebut memiliki topik mencakup pengetahuan kondisi interior bumi dan proses pembentukan gunungapi, mekanisme dan proses erupsi, produk-produk gunung api, bahaya primer maupun bahaya sekunder gunung api, dampak letusan gunung api terhadap berbagai bidang serta cara dan upaya respons masyarakat menghadapi letusan gunung api. Ada sesi khusus di sela seminar terkait “Indonesian Session”. Tujuannya, menjadi wadah bagi para praktisi, relawan, tokoh masyarakat dan ahli gunung api untuk mendiskusikan praktik-praktik baik yang dilakukan oleh masyarakat dalam pengurangan risiko bencana gunung api di berbagai wilayah di Indonesia.
CoV 8 tidak hanya menyajikan kegiatan seminar bagi pesertanya. Pada 11 September, para peserta diajak field trip mengelilingi area bekas kawasan terdampak lahar hujan akibat erupsi Gunungapi Merapi di Kali Putih, Desa Jumoyo, Muntilan. Selanjutnya, peserta berkeliling ke desa-desa wisata di Sleman. Di antaranya, Pentingsari, Cangkringan dan Trumpon, Tempel. Serta mengunjungi hunian tetap Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan dan beberapa lokasi terdampak erupsi di kawasan lereng Merapi. Di setiap lokasi yang dikunjungi para peserta CoV 8, pengunjung disuguhi berbagai produk karya usaha kecil mikro (UKM), khususnya yang berasal dari wilayah terdampak erupsi Merapi 2010.Field trip ditutup pada hari ke tiga dengan mengunjungi kawasan Candi Prambanan. Pungkas rangkaian kegiatan CoV 8, peserta disuguhi pementasan sendratari Ramayana di panggung terbuka Taman WIsata Candi Prambanan dan gala dinner bersama penyelenggara.(yog/din)

Breaking News