JOGJA – Jumlah gunung api di Indonesia yang mencapai ribuan, ternyata tak sebanding dengan ahli vulkanologi yang ada. Padahal, pengamatan rutin terhadap aktivitas gunung api menjadi satu hal penting dalam mitigasi bencana.Hal ini menjadi pemikiran Kepala Badan Geologi Dr Surono di sela pembukaan Pameran Vulcano Edu 2014 di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, kemarin (8/9).Surono menjelaskan, idealnya sebuah gunung api ada sebuah balai khusus, seperti di Merapi yang memiliki BPPTKG. “Idealnya seperti ini. Tapi kalau dipenuhi, jelas kekurangan sumber daya manusia (SDM),” terang Mbah Rono, sapaan akrabnya.
Kebutuhan vulkanologi ini, lanjutnya, sangat dibutuhkan. Terlebih beberapa gunung api sama sekali tidak ada vulkanolognya. “Ada pencatatan transmiter. Itu untuk alatnya. Untuk kebutuhan SDM-nya masih kurang,” tambahnya. Kepala BPPTKG Jogjakarta Subandriyo mengungkapkan, pameran ini sebagai pemanfantaan edukasi mitigasi Gunung Merapi. Hal ini mengingat kondisi Merapi masih tenang. Akan sangat efektif jika ada edukasi kepada masyarakat mengenai aktivitas salah satu gunung api yang aktif di dunia tersebut. “Saat Gunung Merapi tenang, sosialisasi mitigasi dan teknologi kegunungapian bisa dilakukan lewat volcano edu ini,” katanya.
Subandryo menjelaskan, pameran yang terbuka untuk umum ini selalu memiliki tema berbeda-beda tiap dua tahun sekali. Misalnya di tahun 2010 lalu, saat hendak digelar pameran serupa, Merapi statusnya meningkat dan butuh perhatian. “Dulu dilaksanakan bulan Oktober, menjelang pameran malah ada erupsi 2010. Nah, kali ini dengan kondisi Merapi yang tenang, kita lakukan edukasi soal mitigasi bencana. Sekaligus membuka ‘rumah’ BPPTKG untuk semua yang ingin tahu lebih dekat tentang kegunungapian, mitigasi bencana,” katanya. Wawan Irawan, Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang disebutkan sangat positif dalam upaya edukasi langsung ke masyarakat di sekitar gunung berapi, agar lebih tanggap bencana.
Dalam acara ini digelar pameran sains, teknologi kegunungapian dan open house 7-14 September 2014. Pada pembukaan diisi hiburan seni tari Bambangan Cakil, tari Gebyar Batik dari Padepokan Bagong Kussudiardjo. Juga dikenalkan sejumlah hasil penelitian terkini tentang sistem mitigasi bencana. Kusdaryanto, Panitia Pameran Sains, Teknologi Kegunungapian dan Open House, Volcano Edu 2014 mengatakan, panitia sengaja memilih tari Gebyar Batik karena dalam batik ada sejumlah motif yang terinspirasi dari keindahan gunung berapi. Selain pameran teknologi kegunungapian, pengunjung bisa juga menyaksikan sejumlah film dokumenter terkait gunung Merapi, termasuk koleksi terbaru yang diluncurkan pekan lalu. “Mahaguru Merapi” diputar tiap hari selama pameran. Acara lain yaitu kegiatan temu pakar untuk guru-guru SD/sederajat yang diadakan Selasa (9/9) dengan tema Pendidikan Dasar Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gunung Api,” terangnya. (eri/laz)

Breaking News