PERAWAKANNYA terlihat tinggi dan sangar, namun memiliki senyuman yang khas. Saat pertama kali melihat, pasti orang segan untuk menyapa. Namun tidak diperlukan waktu lama untuk akrab dengan sosok ini. Roby Setiawan, begitu orang mengenalnya, pria ini adalah Ketua III FKY 26.Bertindak sebagai Ketua III Roby memiliki tugas yang penting. Ia membawahi divisi pasar seni, pameran seni rupa dan instalasi artistik. Pria kelahiran 12 September 1981 ini mengaku sangat total untuk penyelanggaran FKY 26.”Festival ini sangatlah penting, karena representasi dari Jogjakarta, di mana mampu mewadahi semua potensi. Sehingga untuk penyusunan pasar seni, pameran seni rupa maupun instalasi artistic, haruslah kuat,” ujar lulusan Desain Komunikasi Visual FSR ISI Jogjakarta ini.Ditemui di sela-sela tugasnya sebagai ketua III (4/9), Roby menjabarkan kisahnya. Baginya, menjabat posisi penting di FKY adalah sebuah tantangan. Ia harus mengemas secara maksimal dalam melihat dinamika pengunjung.Bagi Roby, FKY adalah sebuah ruh yang sangat kuat. Terutama bagi iklim berkesenian di Jogjakarta. Sejak dirancang dan diadakan pada tahun 1989, FKY terus menggandeng para seniman. Selain mampu memetakan juga sebagai batu pijakan untuk melangkah lebih serius.”Atmosfir ini tidak hanya dirasakan untuk para seniman tapi juga pengunjung dan warga sekitar. Ini karena FKY merupakan milik kita semua. Kumpul dan guyub bareng dalam suasana festival,” katanya.
Usaha Roby untuk memajukan dunia seni, khususnya seni rupa, sangatlah tinggi. Salah satu programnya yang bertajuk Paperu merupakan bukti nyata. Paperu merupakan akronim dari Pameran Perupa Muda. Sesuai namanya, pameran ini dikhususkan bagi seniman berusia 18 hingga 35 tahun.Tujuan diadakannya pameran ini, menurut Roby, sebagai penjembatan, agar perupa muda di Jogjakarta dapat tampil dan unjuk karya. Hal ini, lanjutnya, untuk melahirkan generasi baru dalam dunia seni rupa. Lebih khusus lagi membaca peta perkembangan perupa di Jogjakarta.”Berbagi kesempatan untuk berani tampil dan menunjukkan karya mereka. Jika tidak ada yang mewadahi, maka potensi ini akan tenggelam. Imbasnya dunia seni rupa di Jogjakarta akan stagnan,” katanya.Pria yang juga dikenal sebagai gitaris grup musik FSTVLST ini tak menampik sempat ragu. Ini karena programnya bisa terbilang refresh. Ini karena pameran seni rupa sejatinya sudah ada sejak FKY berdiri. Tapi tahun ini konsepnya mengalami perubahan dan pembaharuan.
Keraguan ini terletak pada partisipan yang akan mendaftar. Ini karena masih jarang sebuah agenda yang mewadahi seniman muda dan baru. Terlebih para seniman ini bukan berasal dari institusi pendidikan kesenian, khususnya seni rupa.Pertentangan dan keraguan ini terjawab taktala tercatat ratusan aplikasi pendaftaran keluar. Dari semua aplikasi ini didominasi oleh perupa baru dan muda. Dari ratusan ini lalu disaring menjadi 48 seniman ditambah 10 seniman undangan.”Bisa dibilang posisi Paperu FKY ini adalah netral. Di mana terletak di tengah-tengah festival pameran besar seperti ArtJog maupun Biennale Jogjakarta. Karya yang ditampilkan pun mampu mewarnai dunia seni,” kata pria berambut gondrong ini.Paperu pun juga mampu membangkitkan semangat berkesenian di Jogjakarta. Terbukti beberapa seniman senior seperti Nasirun, Syahrizal Pahlevi dan beberapa seniman lainnya tertarik. Namun karena diutamakan perupa muda, maka tidak masuk klasifikasi.Para seniman ini, lanjut Roby, bukan sebagai unjuk karya dan eksistensi. Ketertarikan para seniman ini bergabung karena keguyuban yang terjalin, di mana mampu mengumpulkan para seniman dan saling melihat. “Bagi para seniman senior, Paperu FKY terasa istimewa dan bukan ajang eksistensi. Mereka senang melihat semangat para perupa muda dan ingin berpartisipasi. Masukan ini akan kita godog lagi untuk pameran di FKY ke depan,” kata Roby.Program lain yang turut digagas dia adalah Live Cooking. Program ini mengajak para seniman untuk berkarya melalui memasak. Ide ini cukup unik, karena para seniman diajak keluar dari kebiasaan. Mereka yang kerap berkarya dalam kanvas maupun media seni, tiba-tiba hadir di dapur.”Awalnya program ini lumayan ditentang, karena dianggap menantang eksistensi chef. Tapi memasuki tahun kedua ini justru semakin banyak peminatnya. Pertentangan itu wajar karena proses dari B ke A tidaklah mudah,” tambahnya.
Kepedulian Roby terhadap seni tidak hanya menyasar ke hal baru. Kepeduliannya terhadap seniman tradisi tetap tinggi. Dipilihnya Plasa Pasar Ngasem sebagai penyelenggaran FKY 26 pun memiliki makna tersendiri. Hal itu karena area ini, khususnya Tamansari, terkenal sebagai wilayah perajin batik.Seiring waktu, keberadaan seniman batik justru tergerus. Ini karena dinamika zaman yang memaksa para seniman beralih profesi. Imbasnya, keberadaan batik Tamansari semakin terpinggirkan. Momen FKY 26 pun dimanfaatkan olehnya untuk merangkul kembali.Wujudnya dengan membuat kegiatan melukis batik bersama. Diselenggarakan pada Minggu kemarin (7/9) dengan melibatkan seniman batik Tamansari. Meski terbilang sederhana, setidaknya mampu menunjukan bahwa kekayaan Tamansari ini masih hidup.”Tidak menampik sepeninggal almarhum Harjiman mulai meredup. Inisatif dengan mendatangi rumah satu persatu dan kita ajak guyub. Batik Tamansari sangatlah terkenal, bahkan dulu Bali kerap mengimpor dari sini,” kenangnya.Menjelang berakhirnya FKY 26 , Roby optimistis pasar seni dapat menembus omzet Rp 1 niliar. Patokan yang digunakan adalah membludaknya jumlah pengunjung harian. Data terakahir 4 September, omzet masuk sudah mencapai angka Rp 700 juta.Sebanyak 68 blok pasar seni yang disediakan pun selalu ramai pengunjung. Meski didominasi produk lokal dan tradisi, tetaplah ramai. Tentunya ini mampu menguatkan visi misi FKY dalam menjaga nilai kearifan lokal.”Dampaknya kepada para perajin, seniman maupun warga sangat luar biasa. Terlebih bagi perkembangan ekonomi mikro, sehingga tidak hanya nilai seni budaya, namun juga nilai ekonomi turut terangkat,” katanya. (*/laz)

Breaking News