DITEMUI di Galeri Tembi, Ardi menjelaskan ketertarikannya mengangkat daun pisang. Menurut penelitian yang dilakukannya, daun pisang dalam tradisi Jawa sangatlah penting. Dalam ritual apa pun, selalu ada tanaman ini.”Daun pisang bentuknya seimbang antara kiri dan kanan. Kemudian dari serat atas ke bawah mengalir simbol Ketuhanan. Daun pisang juga tidak bisa lepas dari kita, lahir hingga meninggal,” terangnya kepada Radar Jogja (1/9).Ketertarikannya mengangkat objek ini karena pustaka tentang ini masih jarang. Terlebih nilai historis di balik daun pembungkus ini. Dalam keseharian, Apri kerap melihat daun pisang hanya sebagai pembungkus makanan. Padahal, menurutnya, nilai historis dan kegunaan sangatlah tinggi.
Terlebih dalam bidang kesenian kriya kayu sebagai penghalus. Apri menuturkan daun pisang kering memiliki manfaat besar. Jika digosokan ke kayu, maka motif dan aura kayu akan keluar. Namun untuk mencapai hal ini dibutuhkan kesabaran karena dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.”Ini merupakan teknik tradisional sangkling dengan memakai daun pisang. Untuk menghasilkan karya yang maksimal, dibutuhkan waktu hingga berminggu-minggu. Meski saat ini ada bahan kimia yang lebih xceoat, tapi dari segi hasil jauh berbeda,” katanya.Pameran ini memajang 12 karya terdiri atas lukisan, patung dan tiga dimensi. Pameran seni rupa kontemporer ini tetap berpijak pada tradisi Jawa. Peran serta Apri dalam pameran setelah terpilih dalam program Artist in Residence Tembi Rumah Budaya ke-14.Ke-12 karya ini merupakan hasil dari tiga bulan masa residensi. Medianya beragam, mulai dari keramik, resin hingga lukisan dan fotografi. Menurut program officer Artist in Residence Tembi Rumah Budaya Barata, Apri memiliki nilai lebih dalam keseriusan dan ketekunan.
Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, ternyata pengerjaannya tidak sederhana. Pria yang akrab disapa Totok ini mencontohkan pengkilapan batang kayu. Apri menghabiskan waktu selama dua hari sejak pagi hingga sore.”Telaten dan serius dalam menggarap karyanya. Padahal jika memakai bahan kimia, selesai dalam hitungan menit,” katanya.Pengajar ISI Jogjakarta yang juga seniman keramik, Sujud Dartanto, mengatakan Apri salah satu sosok perupa muda yang patut diperhitungkan. Fenomena seperti Handiwirman maupun Rudi misalnya, menurut Sujud, di mana keduanya dari disiplin kriya dan kini diterima di konteks wacana seni kontemporer.”Di sini Apri punya kesadaran diskursif ini. Sebagai sosok dari disiplin kriya, pada pameran tunggal pertamanya ini ia memilih untuk membebaskan medianya, tanpa mengabaikan pilihan bahan dan teknik pengolahan yang ia kemukakan,” tandas Sujud. (*/laz)

Breaking News