JOGJA – Meski ada saran dariKomisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan dukungan penuntasan kasus hukum Florence Sihombing secara kekeluargaan, Polda DIJ tetap bergeming. Polisi menegaskan tetap akan memproses mahasiswa pascasarjana kenotariatan UGM itu. “Proses sudah berjalan,” tandas Kapolda DIJ Brigejend (Pol) Oerip Soebagyo, usai menghadiri pamitan jamaah haji di Kepatihan, kemarin (2/9). Kapolda menegaskan, dalam ketentuan Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tahun 2008, pelanggaran yang dilakukan Florence tak masuk delik aduan. Artinya, ada atau tidak ada pengadu, polisi berwenang untuk melakukan penyidikan. Pelapor, lanjut Oerip, tak menentukan kasus yang menimpa Florence. Meski misalnya pelapor kemudian mencabut laporan, proses hukum di kepolisian tetap berjalan. “Bukan delik aduan. Jadi, masih tetap berjalan,” tambah jenderal bintang satu asli Blora ini.Lalu, bagaimana dengan keberadaan sejumlah LSM menyusul ditangguhkannya Flo oleh penyidik Polda DIJ? Sesaat sebelum Flo dilakukan penahanan pada Sabtu (30/8), beberapa elemen gabungan di DIJ saat itu ngotot agar proses hukum tetap berjalan. Meskipun secara pribadi Flo telah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat dan Sultan HB X.
Saat itu, Ketua LSM Jatisura Fajar Rianto menuturkan, ada aturan yang memang mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Jika ada pelanggaran yang diperbuat, tentu ada sanksi yang harus diterima. Apalagi, Flo secara sadar diduga memperkeruh suasana di Jogja dengan komentar di media social path.”Semua ada aturan mainnya. Termasuk yang dilakukan Flo, juga telah mengandung unsur pelanggaran UU ITE,” kata Fajar. Pelapor yang lain, Ryan Nugroho, mengatakan, posisi mereka bersama elemen gabungan di DIJ adalah saksi korban. “Gabungan ormas dan komunitas yang awalnya mau melaporkan itu, akhirnya hanya menjadi saksi korban. Begitu konstruksi alurnya,” kata Ryan.Ditanya soal mereka mewakili warga Jogja, Ryan menegaskan ia atas nama diri sendiri sebagai warga Jogja, sekaligus mewakili rekan-rekan yang merasakan hal yang sama. “Kan tidak harus satu Jogja yang laporan. Sebagai warga Jogja, saya tidak terima makanya saya lapor. Komunitas ataupun ormas, juga bagian dari warga Jogja,” ujarnya. Sementara itu, Komite Etik Fakultas Hukum (FH) UGM kemarin telah melakukan klarifikasi terhadap Florence. Klarifikasi berlangsung lebih dari 2,5 jam, mulai pukul 13.55 hingga 16.30. Klarifikasi dibuka langsung Dekan Fakultas Hukum UGM Dr Paripurna dan diketuai wakil dekan bidang akademik didampingi enam anggota etik yaitu pembantu dekan, dosen, dan sejumlah guru besar Fakultas Hukum.
Saat akan memasuki ruang sidang di Gedung Dekanat FH UGM, Florence terlihat tegar. Sesekali mahasiswi asal Medan ini menundukkan kepala untuk menghindari sorotan kamera fotografer. Sebelum sidang dimulai, awak media diberikan kesempatan mengambil gambar. Usai klarifikasi, komite etik langsung menggelar rapat tertutup untuk memutuskan dugaan pelanggaran norma/etik yang dilakukan Flo. Hasil rapat memutuskan, perbuatan Florence masuk kategori pelanggaran sedang.”Tapi kami belum bisa sampaikan sanksinya ke publik. Sebab, sanksi tersebut belum kami sampaikan kepada pribadi Florence. Dia juga memiliki hak untuk melakukan pembelaan atas pelanggaran yang diputuskan komite etik,” kata Paripurna kepada wartawan usai mengikuti sidang etik. Menurut Paripurna, GKR Hemas akan memfasilitasi antara Florence, Fakultas Hukum UGM dengan LSM sebagai pihak pelapor. Rencananya, pertemuan akan dilakukan Kamis besok. “Tapi saya tidak tahu pertemuannya terbuka atau tertutup. Kami hanya diundang untuk mengikuti mediasi tersebut,” jelasnya.Ketika disinggung mengenai proses hukum yang tengah berjalan, Paripurna menerangkan pihaknya tidak berkepentingan mengenai proses hukum. Sebab, fakultas hanya membahas mengenai etik sesuai Keputusan Rektor No 711/PSK/HD/2012. Kami fokus pada etiknya saja,” paparnya.
Florence Menyesal dan Minta Maaf Lagi
Florence kembali mengaku sangat menyesal atas perbuatannya tersebut. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di masa akan datang. “Saya mohon maaf kepada masyarakat Jogja, kepada Kapolda DIJ, dan kepada Sultan,” kata Florence sambil terisak menahan tangis.Florence menambahkan, dirinya akan menerima sanksi apa pun yang akan diberikan komite etik. Namun sebelumnya ia akan memberikan pembelaan atas pelanggaran dan sanksi yang diputuskan itu. “Saya akan menerima sanksi. Saya benar-benar menyesal dan minta maaf,” pintanya.Sahabat Florence, Wibowo Malik menerangkan secara personal sosok Florence sangat baik dan cerdas. Dalam perkuliahan, Florence cepat memahami materi perkuliahan. Hanya, Florence memang memiliki kekurangan yaitu tidak dapat mengendalikan emosi ketika merasa tersinggung atas perbuatan atau perkataan orang lain. (eri/fid/mar/laz)

Breaking News