PAGI itu udara sejuk menerpa pedesaan di kaki Gunung Merapi. Tepatnya di Dusun Padasan, puluhan seniman hadir. Sebuah rumah berarsitektur Jawa menjadi persinggahan para seniman. Para seniman ini memadati rumah Kartika Affandi.Berkumpulnya puluhan seniman ini bukan tanpa sebab. Masih dalam rangka bulan silaturahmi, para seniman ini berkumpul bersama keluarga. Penggagas dari acara ini adalah IKAISYO yang tidak hanya mewadahi seniman, namun juga keluarga dari para seniman.”Acara ini juga wujud guyub atas berdirinya IKAISYO selama 32 tahun. Selain itu juga untuk memperingati HUT ke-69 RI,” kata Ketua IKAISYO Sugiyarti di sela-sela acara.Berkumpulnya para seniman di rumah putri maestro lukis Affandi ini semakin spesial dengan adanya seniman berbagi. Pada ulang tahun ke 32, IKAISYO mengadakan pameran karya seniman untuk amal. Hasil dari penjualan ini disumbangkan kepada Sekolah Luar Biasa khusus Tunanetra Karnnamanohara.Wujudnya adalah dengan melakukan lelang karya para seniman. Dalam kesempatan ini, tuan rumah Kartika Affandi menyumbangkan satu lukisan dan dua patung miliknya. Selain itu seniman lain seperti Subroto, Suminto, Nunuk Ribanu, Godod Sutejo dan Herry Wibowo juga turut menyumbang.”Kita penjualan kupon amal sebanyak 600 kupon. Tentunya kupon ini dijual kepada pengunjung yang datang hari ini,” kata perempuan yang akrab disapa Atik ini.
Selain penjualan kupon, 10 persen dari penjualan karya juga turut disumbangkan. Pameran kali ini diikuti 58 perupa yang tergabung dalam IKAISYO. Kartika Affandi pun menyambut positif langkah para seniman ini.Dirinya berpesan agar sebagai seniman tetap menanamkan rasa kepedulian. Terlebih seniman tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Sehingga wujud saling membantu dan peduli sudah menjadi kewajiban masing-masing.”Mungkin kalau seorang seniman membuat karya butuh waktu yang tidak terlalu lama. Tapi membahagiakan orang lain itu sangat menyenangkan. Terlebih jika bisa melihat senyum mereka, jangka waktunya lebih lama,” katanya.Peran aktif Kartika dalam dunia amal sendiri sudah lama. Ini terbukti dirinya telah mendirikan yayasan peduli disabilitas. Karnnamanohara sendiri merupakan inisiasi dari pelukis wanita ini. Terhitung hingga saat ini sudah ada ratusan anak yang bersekolah di yayasan ini.
Dalam kesempatan ini para siswa Karnnamanohara pun unjuk kebolehan. Selain memainkan alat musik angklung, mereka juga tampil fashion show. Tujuannya untuk membuktikan bahwa disabilitas tidak menghalangi untuk berkarya.”Pesan saya juga kepada para orangtua jangan diskriminatif terhadap disabilitas. Mereka ini juga punya hak yang sama seperti kita manusia normal. Untuk yayasan sendiri setiap tahun harus buka kelas baru. Ini karena setiap tahunnya, anak-anak kita naik jenjang pendidikannya,” kata Kartika.Acara yang digelar di kaki Gunung Merapi ini sangatlah guyub. Terbukti, selain para seniman seni rupa, hadir pula beberapa sastrawan. Salah satunya adalah dedengkot dunia sastra Jogjakarta, Bakdi Soemanto. Bakdi menambahkan kegiatan seperti ini sangatlah penting, di mana mampu memgumpulkan balung pisah. Terlebih dalam kesempatan ini mampu mengguyubkan sebuah perbedaaan. Secara kritis Bakdi juga menyinggung tentang peta perpolitikan.
Saat pemilu lalu beberapa seniman terpecah konsentrasinya. Para seniman Jogjakarta terbagi menjadi dua kubu politik. Ini tentunya sangat tidak bagus bagi dunia seni di Jogjakarta. Maka dari itu dirinya sangat senang jika ada acara yang dikemas khusus untuk keguyuban.”Makin banyak tempat seperti ini makin baik dan menguntungkan. Kita kembali menjadi saudara dalam pertemuan ini. Bahkan saya yakin pertemuan ini akan mengilhami dalam menciptakan karya bagi para seniman,” katanya.Pameran yang memajang 58 karya ini berlangsung hingga 14 September mendatang. Pameran juga memajang karya para seniman yang telah tiada. Seperti almarhum Amri Yahya, AY Kuncana, Bagong Kussudiardja hingga almarhum Abdul Kadir.IKAISYO sendiri merupakan perkumpulan keluarga para perupa Jogjakarta. Pada awal berdirinya kelompok ini justru didirikan oleh istri para perupa dengan tujuan mengumpulkan tulang rusuk para seniman ini.Dalam perkembangannya turut bergabunglah perupa wanita, dan juga keluarga perupa. Tujuannya tentu saja untuk mengguyubkan seniman di Jogjakarta. Berdiri 14 Agustus 1982, kelompok ini telah mewadahi ratusan anggotanya.”Sudah 32 tahun IKAISYO berdiri dan mampu mewadahi semangat para seniman maupun keluarganya. Tentunya semangat ini akan terus kita jaga, dengan wujud pameran maupun amal,” kata Atik. (*/laz)

Breaking News