MAGELANG – Kelenteng atauTempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Kota Magelang hingga sekarang masih dipasangi police line atau garis polisi secara keseluruhan. Meski begitu beberapa orang tetap masuk ke dalam halaman dan aula tempat ibadah warga Tionghoa tersebut. Mereka tidak masuk ke police line kedua yang persis melingkari area dimana lokasi kebakaran terjadi.”Kami mau bersih-bersih dan tata-tata. Agar kelenteng bisa digunakan lagi,” kata Ketua Yayasan Tri Bhakti TITD Liong Hok Bio Magelang Paul Chandra Wesi Aji kemarin (17/7).Pantauan di lapangan, terlihat beberapa orang bekerja membenahi administasi di Kantor Yayasan Tri Bhakti yang ada disisi barat kelenteng. Juga ada tiga pekerja memperbaiki toko yang biasa untuk jualan hio, dupa, dan peralatan sembahyangan lainnya. Satu orang perempuan terlihat menyapu puin-puing bekas kebakaran.”Bersih-bersih saja kok mas,” ungkap perempuan berbaju hitam tersebut.
Paul Chandra mengaku, tengah mempersiapkan aula kelenteng untuk digunakan sebagai tempat sembayangan. Rencananya, untuk bersih-bersih total dilaksanakan hari ini (18/7), setelah polisi melepas police line. Keesokan harinya, diusahakan memindah altar dan beberapa alat sembahyangan yang masih bisa dimanfaatkan.”Kebetulan Hari Minggu adalah Ulang Tahun Dewa Kwan Kong. Jadi kami mengusahakan agar Minggu, aula kelenteng bisa dipakai sembahyangan memperingati dewa yang jujur, setia, dan bijak tersebut,” ungkap lelaki yang akrab disapa Awe tersebut.Pada kebakaran Rabu dini hari (16/7/), selain menghanguskan bangunan gedung yang berdiri sejak 8 Juli 1864. Beberapa dewa, rupang, dan alat sembayangan juga ikut rusak terbakar.Penangung jawab kelenteng berupaya menghadirkan 16 patung para dewa yang terbakar. Di antaranya Kwan Kong, Mak Kwan Im, Kwan Hwa Sen, dan lainnya. Mereka menempuh berbagai cara, di antaranya menghubungi pihak yang memilikinya.”Kepepetnya, kalau belum ada ya nanti dipasang foto patung dewa tersebut,” ungkap Awe.
Polres Magelang Kota belum melepas police line. Alasan penyelidikan menjadi dasar utama.”Belum dilepas (police line, Red), karena area tersebut masih butuh diamankan guna penyelidikan,” kata Kapolres Magelang Kota, AKBP Tommy Aria Dwianto.Kelenteng yang terbakar masih menarik perhatian warga untuk melihat. Tak jarang, mereka melakukan foto berlatar belakang bangunan cagar budaya tersebut atau sekedar mendokumentasikan untuk kenangan.”Ya, sekedar dokumentasi saja mas,” kata Wiwid, warga Kaliangkrik.Hanya berselang sebulan dengan kelenteng di Banyuwangi dan sembilan bulan dengan kelenteng di Banyumas,Liong Hok Bio Magelang terbakar Rabu dini hari (16/7/). Api berhasil dipadamkan dalam waktu tiga jam. Tetapi nyaris tidak ada yang bersisa dari bangunan yang ada di Jalan Alun-alun Selatan tersebut.
Dari catatan sejarah, perkembangan masyarakat Tionghoa di Kota Magelang tidak bisa terlepas dari peran keberadaan kelenteng yang berada di ‘pintu gerbang’ masuk ke Kawasan Pecinan. Kelenteng Liong Hok Bio didirikan pada 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Be Tjok Lok. Twa Pek Kong atau patung dewa yang dipercaya menjadi tuan rumah dan paling di puja dari kelenteng tersebut adalah Dewa Bumi atau bernama Hok Tek Tjen Sin atau Tho Tee Kung.(dem/hes)

Breaking News