JOGJA – Jogjakarta aman. Jogjakarta damai. Jogjakarta penuh rasa persaudaraan.Situasi yang menegaskan Jogjakarta merupakan wilayah yang damai tersebut ditunjukkan oleh berbagai komunitas saat menggelar aksi simpatik dengan membagikan stiker bertuliskan Kita Semua Bersaudara di Titik Nol Kilometer Jogja kemarin (12/7). Selain membagikan stiker, mereka juga membagikan nasi bungkus ke pengguna jalan.Aksi simpatik ini terkait dengan pelaksanaan Pilpres 2014 lalu. Selama perhelatan pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin negeri ini untuk lima tahun ke depan tersebut, sempat memunculkan benih “perselisihan” di antara masyarakat. Aksi simpatik ini sekaligus untuk upaya mengingatkan kembali pentingnya mengutamakan semangat persaudaraan yang sempat renggang saat pilpres lalu.
Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas Brigjen TNI Sabrar Fadhilah menyatakan, setelah coblosan pilpres pada 9 Juli lalu situasi masih memanas. Ini membuat pertemanan menjadi kurang cair. Untuk itu, dia mendukung setiap kegiatan yang dilandasi semangat ingin kembali mempersatukan pihak-pihak yang sempat berjauhan dalam pilpres. Termasuk mendekatkan pihak-pihak yang berlawanan dalam rangka aksi dukung mendukung capres-cawapres antara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.Menurut Danrem, dalam kompetisi wajar jika suasana memanas. “Dalam sepak bola saja kompetisi bisa panas. Apalagi, ini pilpres,” ujarnya.Dia menegaskan, situasi usai pilpres yang sempat memanas itu sebagai hal wajar. Meski begitu, dia mengingatkan supaya semua elemen tetap menjaga tali silaturahmi setelah pilpres usai.
“Silaturahmi bisa kembali dijaga. Apalagi ini memilih presiden yang akan memimpin kita semua,” terangnya.Harapan yang sama juga diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran indonesia (PHRI) DIJ Istidjab M. Danunegoro. Menurut dia, gelaran pesta demokrasi memilih presiden 9 Juli lalu berpengaruh besar terhadap tingkat okupansi hotel di Jogjakarta. Saat coblosan lalu tingkat hunian hotel menurun. “Saat coblosan kemarin drop. Okupansi hanya 23 persen,” tuturnya.
Selain itu, beberapa peristiwa yang terjadi di Jogjakarta selama masa kampanye juga menjadi perhatian para tamu yang berniat berkunjung. Banyak wisatawan yang menelepon pengelola hotel untuk menanyakan situasi di Jogjakarta. Mayoritas penelepon itu adalah mereka yang tinggal di Jogjakarta.Calon wisatawan itu, kata dia, butuh kepastian mengenai jaminan keamanan dan kenyamanan selama berlibur. Mereka ingin menikmati Jogjakarta dengan penuh kebahagiaan. “Kita jelaskan kondisi Jogja tetap aman dan nyaman dikunjungi,” tegasnya. (pra/amd)

Breaking News