Masjid ini terletak di komplek nDalem Mangkubumen, Kadipaten Kulon, Jogja. Untuk menuju ke salah satu bangunan cagar budaya ini tidaklah sulit. Karena tempat ibadah umat muslim ini masih dalam satu komplek dengan Universitas Widya Mataram Jogjakarta.Melihat bangunannya, masjid ini tidak memiliki ukuran yang terlalu besar. Masjid ini memancarkan ciri khas bangunan Jawa kuno. Sederhana namun memiliki nilai filosofi. Terlihat dari pintu bangunan yang berukuran pendek. “Sehingga ketika orang mau masuk ke dalam harus sedikit membungkuk. Membungkuk ini memiliki nilai dan arti filosofi kehidupan,” kata Ketua Takmir Drs Ali Mansur kemarin (11/7).Masjid ini awalnya berdiri sebagai tempat ibadah para pangeran Keraton Jogja. Seiring berjalannya waktu, warga sekitar ikut beribadah salat berjamaah di sana. Sehingga saat ini kepengurusan masjid dipasrahkan kepada warga sekitar.
Tentang sejarah masjid, Ali mengaku belum mengetahui pasti kapan berdirinya. Namun dari cerita para sesepuh Kadipaten Kulon, masjid ini berdiri bersamaan dengan nDalem Mangkubumen. Bangunan masjid ini tak memiliki prasasti tahun berdiri. “Kalau tidak salah saat masa pemerintahan Sri Sultan HB VI, didirikan sebagai tempat pangeran atau calon pengganti sultan pada waktu itu,” kata Ali.Dari sejarah yang Radar Jogja dapatkan Kompleks nDalem Mangkubumen, masjid Kadipaten awalnya digunakan sebagai tempat mendidik atau tempat belajar bagi calon pangeran. Ndalem Mangkubumen sendiri diperuntukkan bagi Adipati Anom putra dari HB VI.Pada awalnya nDalem ini bernama nDalem Pangeran Kadipaten. Saat Adipati Anom menjadi raja, rumah pangeran ini digunakan sebagai kediaman Pangeran Mangkubumi, yang merupakan adik dari Adipati Anom.
Sepeninggalan Pangeran Mangkubumi pada tahun 1918, nDalem ini ditempati oleh GPH Buminoto. Bahkan saat Jogjakarta menghadapi agresi militer Belanda 1948, komplek ini pernah menjadi tempat tinggal sementara Jenderal Sudirman.Dalam perkembangannya, kompleks nDalem Mangkubumen juga pernah digunakan sebagai Perguruan Tinggi. Mulai dari kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, sekolah tinggi pertanian dan sekolah tinggi kedokteran hewan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dari tahun 1949 sampai tahun 1982. “Kalau saat ini difungsikan sebagai SMA Mataram dan Kampus Universitas Widya Mataram Jogjakarta. Kampus ini didirikan oleh Alm HB IX dan anaknya Sri Sultan HB X yang pada waktu itu masih menjadi pangeran,” kata Ali. Selama rentang waktu ini, Masjid Kadipaten terus digunakan sebagai tempat ibadah. Meski kompleks nDalem Mangkubumen telah beralih fungsi beberapa kali tapi masjid ini tetap kokoh berdiri. Masjid ini juga sempat mengalami beberapa pemugaran.Namun untuk pemugaran tetap harus mendapatkan izin dari Keraton Jogja. Perubahan yang paling mencolok dari masjid ini adalah hilangnya kolam di sekitar masjid. Ciri khas masjid keraton memang memiliki kolam yang mengitari masjid. Fungsinya selain sebagai tempat padasan juga penghias masjid.
Ali mengungkapkan kolam ini menghilang semenjak dirinya belum lahir, tepatnya tahun 1954. Dalam medio di bawah tahun ini kolam diperkecil menjadi kalenan. Namun atas pertimbangan matang diubah lagi untuk pelebaran serambi masjid. “Dari cerita sesepuh, masjid ini sangat mirip dengan masjid Kauman dan beberapa masjid kagungan Keraton Jogja lainnya. Kolam lalu dihilangkan untuk perluasan serambi masjid. Ini karena jumlah jamaah yang bertambah dari waktu ke waktu,” kata Ali.Bentuk dari bangunan ini masih terlihat keasliannya dari sisi luar. Sedangkan di sisi dalam, dinding sudah berlapiskan keramik. Sedangkan untuk sisi arsitektur masih tetap dipertahankan. Keunikan dari masjid ini adalah banyaknya soko atau tiang penyangga.Bangunan inti masjid memiliki 16 tiang dengan ukuran kecil. Fungsinya sebagai penyangga atap masjid. Sedangkan di bagian serambi terdapat 8 tiang atau soko yang berukuran lebih besar. Tinggi dari masjid ini juga tetap dipertahankan untuk menjaga filosofi dari kearifan lokal Jawa. “Dulu saat almarhum GBPH Joyokusumo berkunjung kita memohon izin meninggikan atap masjid. Tetapi pihak keraton keberatan, karena mengurangi keasliannya. Juga pernah mengubah nama masjid menggunakan bahasa Arab, Baitul Makmur. Tetapi akhirnya dikembalikan atas permintaan Keraton Jogja,” kata Ali.Mengisi bulan Ramadan ini, sejumlah agenda khusus telah dipersiapkan oleh takmir Masjid Kadipaten. Mulai dari kultum Subuh, pengajian, TPA anak, salat tarawih dan agenda rutin lainnya. Setiap sorenya masjid ini juga menggelar takjil dan buka bersama. (*/ila)

Breaking News