BANTUL– Konsep padepokan kesenian berubah seiring berjalannya waktu. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, konsep padepokan kesenian identik dengan pendidikan ala pesantren. Tetapi saat ini padepokan lebih sering diisi dengan berbagai kegiatan, seperti workshop yang tak hanya melibatkan kalangan seniman.Hal tersebut diungkapkan seniman Butet Kertaradjasa dalam acara kunjungan Wakil Presiden (Wapres) Boediono di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja yang terletak di Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan kemarin (10/7). Ikut hadir dalam kunjungan tersebut istri Boediono, Herawati, Wakil Gubernur DIJ Sri Paduka Paku Alam IX, Wakil Bupati Bantul Sumarno dan sejumlah pejabat pemkab Bantul.
“Dulu orang ngendon di padepokan selama enam bulan seperti di pesantren. Sekarang tidak,” terang Butet.Agenda workshop kesenian di padepokan Bagong menyasar sejumlah kalangan. Antara lain guru, polisi, pegawai negeri sipil hingga jurnalis. Menurutnya perubahan konsep padepokan berawal dari pemaknaan terhadap gagasan pendiri padepokan Bagong bernama Bagong Kussudiardja. Yakni padepokan tidak bertujuan untuk mencetak seorang seniman. Melainkan punya tujuan yang lebih luas lagi. “Kesenian itu hanya faktor perantara untuk suatu pengabdian yang lebih luas. Yaitu pengabdian kepada masyarakat dan kemanusiaan,” ungkapnya.Dengan demikian, padepokan saat ini tak hanya milik kalangan seniman semata. Hasil output kalangan nonseniman dalam kegiatan workshop di padepokan diharapkan berupa penularan kekuatan unsur seni dalam profesi mereka. “Saya ingin ada PNS yang kreatif, polisi yang kreatif dan jurnalis yang kreatif,” urainya.
Karena itu, Butet berharap agar pemerintah lebih memperhatikan lagi keberadaan kesenian dan kebudayaan. Bahkan pemerintah diharapkan menjadikan kesenian dan kebudayaan sebagai salah satu strategi.Sementara itu, Wapres Boediono mengaku baru pertama kali menginjakkan kakinya di padepokan. Meskipun sejak lama mantan gubernur BI tersebut telah mendengar berbagai informasi tentang padepokan. “Saya melihat pak Bagong seorang seniman yang multitalenta. Beliau menguasai berbagai aspek. Patut kita hargai dengan keberhasilan beliau mewujudkan impian-impiannya,” pujinya terhadap bapak dari seniman Butet dan Djaduk Ferianto tersebut.Lagipula, menurut Boediono, kesenian merupakan bagian dari masyarakat dan masing-masing individu. Sedangkan pengaruhnya berkaitan dengan etika dan estetika perilaku masyarakat dan setiap individu. (zam/ila)

Breaking News