JOGJA – Kuota kursi untuk siswa pemegang Kartu Menuju Sejahtera (KMS) dalam pendaftaran siswa baru level sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kota Jogja tak terpenuhi. Ada sebanyak 13 kursi yang tidak diisi oleh siswa KMS. Berdasar data di Dinas Pendidikan Kota Jogja, jumlah keseluruhan kursi SMP yakni 3.462 kursi. Dari jumlah itu, disediakan secara khusus sebanyak 865 kursi untuk siswa pemegang KMS. Tidak semua kursi untuk KMS itu terisi. Dari 865 kursi tersebut, tercatat ada 852 kursi yang diisi oleh mereka yang menyandang status siswa KMS. “Kuota siswa KMS yang tidak terpenuhi diisi siswa non-KMS,” jelasnya (4/7).
Tak hanya jatah siswa KMS jenjang SMP yang tak semuanya terisi. Untuk jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK), disdik menyediakan 808 kursi. Jumlah itu sekitar 25 persen dari total sebanyak 3.232 kursi. Kuota siswa KMS itu juga tak semuanya terisi. Dari 808 kursi, tercatat ada 752 kursi yang diisi. Ini berarti terdapat 56 kursi untuk siswa KMS yang lowong.Khusus level sekolah menengah atas, hampir semua kursi bagi siswa KMS terisi. Dalam pendaftaran periode ini terdapat 2.682 kursi dengan sebanyak 134 kursi khusus untuk siswa KMS.
Di sisi lain, persaingan untuk mendapatkan kursi di SMP negeri berlangsung ketat. Hari terakhir pendaftaran kemarin (5/7), pergerakan nilai para pendaftar melalui program Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara real time online (RTO) terbilang dinamis. Pergeseran nilai terus terjadi di beberapa sekolah.Di sejumlah sekolah, pagi kemarin terlihat banyak pendaftar yang memasukkan berkas pendaftaran. Menjelang tengah hari, ada sejumlah pendaftar menarik berkas pendaftaran.Langkah itu mereka lakukan setelah mencermati perkembangan nilai pendaftar secara online. Nilai terendah digeser nilai yang lebih tinggi.
“Iya, ini mau pindah. Di sini nggak masuk,” jelas Umiyanti, orang tua siswa usai menarik berkas di SMPN 14 Jogja.Hal serupa terjadi di Sleman. Sebanyak 29 sekolah yang menerapkan sistem real time online (RTO) kebanjiran peminat hingga detik terakhir penutupan PPDB SMP negeri kemarin (5/7).Itu artinya ratusan calon siswa (casis) yang nilai ujian sekolahnya tak mampu bersaing harus rela tak bisa sekolah di SMP yang menjadi pilihan. Mereka harus pindah ke sekolah lain yang tak menerapkan sistem RTO atau ke SMP swasta. Total pendaftar di 29 SMP yang menerapkan sistem RTO mencapai 5.218 orang, sedangkan daya tampung tersedia hanya 4.276 kursi. Dengan begitu , sebanyak 942 siswa tergeser.
Itu lantaran sistem RTO hanya memberi satu kesempatan casis untuk memilih dua sekolah tujuan. Jika di sekolah pilihan nilai casis tak mampu bersaing, otomatis mereka tergeser dan tak bisa pindah ke sekolah ber-RTO lainnya. Demikian pula yang dialami ratusan casis SMA.SMPN 1 Depok tercatat paling diminati casis. Jumlah pendaftar mencapai 298 orang, sedangkan daya tampung 190 kursi. Kendati begitu, berdasarkan jurnal hari terakhir PPDB RTO,SMPN 2 Pakem tercatat sebagai satu-satunya sekolah yang jumlah pendaftarnya jauh lebih sedikit dari kuota. Dari kebutuhan 128 kursi, hanya ada 97 pendaftar. Kekurangan 31 siswa. Padahal range nilai pendaftar tergolong medium. Antara 20,40 sampai 27,75. Kekurangan siswa juga terjadi di SMPN 1 Ngaglik. Sekolah ini tersedia kuota 188 kursi. Sedangkan jumlah pendaftarnya tercatat 187 siswa.
Sedangkan range nilai ujian sekolah pendaftar tertinggi diSMPN 1 Godean yakni 27,95-29,75.Sistem RTO memang hal baru di kalangan masyarakat Sleman. Hal ini pertama diterapkan di kabupaten berslogan Sembada. Beragam komentar dari orang tua calon siswa terkait sistem tersebut. Mulai yang mendukung, menganggap ribet karena tak paham internet, hingga perasaan tak adil.Sistem RTO memang memungkinkan terjadinya pemerataan kualitas sekolah. Casis dengan hasil nilai ujian yang relatif bagus tapi tak mampu bersaing dengan calon yang bernilai lebih tinggi di sekolah pilihan “terpaksa” pindah ke sekolah lain yang tidak tertempel label “favorit”.
Ada orang tua siswa yang menyatakan, kondisi itu memungkinkan sekolah-sekolah “pinggiran” berpotensi menelurkan lulusan yang bagus tiga tahun ke depan. Itu setelah sekolah tersebut kehadiran casis bernilai lumayan, yang gagal menembus sekolah RTO.Dengan begitu, kualitas pendidikan di Sleman bisa lebih merata. Dan, tak didominasi oleh sekolah-sekolah favorit saja. Kondisi serupa juga menjadi momentum bagi sekolah-sekolah swasta untuk unjuk gigi bersaing dengan sekolah negeri. (yog/eri/pra/amd)

Breaking News