JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X meminta pers atau media massa bersikap netral dalam mengawal berita tentang pemilihan presiden (pilpres) 2014. Netral, kata HB X, berarti jangan memihak ke salah satu capres dan cawapres karena dilihat dan dibaca publik yang berbeda-beda
“Pilpres ini head to head, jadi isu black campaign sudah tidak akan bisa dihindari lagi,” kata HB X di Kepatihan kemarin (3/7).Dia mengatakan, mendekati coblosan, segala kemungkinan bisa terjadi. “Kami hanya berharap jangan gunakan kekerasan,” tandasnya.Raja Keraton Jogja itu menyatakan,sikap pers yang tidak netral ini menyebabkan masyarakat bingung, terutama mereka yang belum menentukan pilihan (swing voters). Mereka bingung karena mendapat informasi yang berbeda-beda. “Lihat TV satu calone dibenerke, lihat TV lain calone disalahke. Ini kan (pers) memihak,” kritiknya.
HB X mencontohkan pemberitaan di Metro TV dan TV One. Menurut bapak lima putri itu, kedua televisi tersebut sudah berpihak ke salah satu capres dan cawapres. “Sekarang tidak ada lagi MetroTV atau TV One. Yang ada Jokowi TV dan Prabowo TV,” keluhnya.Diketahui suhu politik kian memanas. Seminggu menjelang hari H pemilhan presiden 9 Juli mendatang, kantor biro TV One menjadi sasaran vandalisme pendukung Jokowi-JK. Massa yang sebagian besar dari PDIP itu juga sempat menyegel kantor biro yang terletak di Timoho Regency Jalan Kenari, Rabu malam (2/7).Massa mencoret-coret tembok kantor biro TV One tersebut dengan cat semprot warna merah. Sebelas kendaraan bermotor yang parkir di depan kantor tersebut tak luput dari aksi vandalisme massa. Vandalisme tersebut berupa kata umpatan. Tak hanya itu, beberapa stiker bergambar Jokowi mengenakan baju kotak-kota tersenyum tertempel di tembok tersebut.
“Tadi malam itu dari massa PDI P yang datang merusak Biro TV One. Kata-kata itu tak pantas ditulis,” kata Ketua RW setempat Siswoyo, ditemui kemarin (3/7).Dia menyampaikan, dari informasi yang dia terima, massa yang mengendarai sepeda motor langsung memarkir di depan rumah. Kemudian, terlihat marah karena kondisi kantor dalam keadaan kosong. Mereka kemudian mencoret-coret dinding, lantai hingga 11 sepeda motor yang tak luput dari aksi itu. “Ada satpam tapi tak bisa mencegah karena jumlah massa banyak,” ungkapnya.Atas aksi coret-coret tersebut, Kepala Biro TV One DIJ Hendrawan Setiawan mengaku telah melaporkan aksi tersebut ke Polda DIJ. “Saya belum ke kantor. Ini saya masih melaporkan ke polda,” terang Hendrawan.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogjakarta ini menyesalkan aksi penyegelan disertai perusakan yang dilakukan massa PDIP itu. Sebab sesuai UU Pers, jika tak terima dengan pemberitaan bisa menggunakan hak jawab. “Tak perlu cara-cara seperti itu,” pintanya. Ketua Divisi Penggalangan Massa Tim Pemenangan Jokowi-JK DIJ Chang Wendryanto menepis terjadi aksi perusakan. Aksi Rabu malam itu hanya sebuah vandalisme. “Vandalisme, coret-coret iya, tapi tidak ada aksi anarkhistis apalagi sampai melakukan perusakan di kantor biro TV One,” kata ketua Komisi A DPRD Kota Jogja ini. Dia mengaku, kedatangan massa simpatisan pendukung Jokowi-JK ke Biro TV One itu tidak mendapatkan sambutan baik. Tak ada satu pun yang menemui massa karena kru TV One sedang melakukan peliputan di luar DIJ.
“Tadi malam itu kedatangan teman-teman itu kan untuk minta klarifikasi tentang pemberitaan yang menyebut Jokowi dan PDIP komunis. Itu pemberitaan tidak benar sama sekali,” tandasnya.Ketua Tim Kampanye Jokowi-JK Bambang Praswanto menyerukan semua pihak menahan diri agar tidak membuat fitnah. “Di bulan suci ini seluruh pihak bisa menahan diri. Jangan lagi membuat fitnah yang dibungkus lewat tayangan televisi, tidak melakukan serangan seperti pemberitaan di TV One,” terang Bambang. (eri/ila)

Breaking News