WONOSARI – Harga sejumlah kebutuhan pangan di Gunungkidul sulit dikendalikan. Seperti sayur mayur misalnya. Mengalami kenaikan dari Rp 1.000 hingga Rp 4.000. Salah seorang pedagang sayuran Pasar Argosari Wonosari Ruswidarmi mengatakan harga sayur mulai bergerak naik sejak beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memengaruhi daya beli masyarakat. Konsumen memilih irit, sehingga dalam setiap pembelian cenderung hati-hati. “Mau bagaimana lagi, harga sayur naik,” kata Ruswidarmi (2/7).Dijelaskan Rus, sapaan akrabnya, kenaikan paling besar pada bawang merah. Per kilogram menembus Rp 20 ribu atau naik Rp 4.000. Harga tomat semula Rp 10.000 per kilogram menjadi Rp 12.000 per kilogram. Kol per kilogram Rp 12 ribu atau naik Rp 2 ribu. Disusul kacang panjang semula Rp 4 ribu menjadi Rp 6 ribu. Termasuk wortel juga naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram.
“Sayuran kebanyakan berasal dari luar daerah. Sekarang pasokan kurang, sehingga memengaruhi harga,” ujarnya.Dampaknya, kata Rus, keuntungan menurun. Pembeli hanya banyak yang melihat-lihat, dan bertanya. Kalau harga tidak cocok memilih pergi. Untuk itu pihaknya harus rajin teriak-teriak menawarkan barang. “Kelihatannya pasar ramai tetapi calon pembeli hanya lewat semua,” ucapnya.Pedagang lainnya, Marsih mengatakan pada hari pertama ramadan lumayan ramai. Namun kemarin sepi. Menurut dia, kenaikan harga memang terjadi pada sejumlah sayur-sayuran. Namun untuk beras dan gula maupun minyak goreng masih stabil. Harga telor turun dari sebelumnya Rp 20.000 perkilogram menjadi Rp 19.000 per kilogram. Namun, harga daging ayam masih tinggi Rp 35.000 per kilogram. “Terjadinya kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan berdampak pada kurangnya daya beli masyarakat,” ucapnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Gunungkidul Supriyadi menawarkan solusi terkait persoalan tersebut. Caranya, masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami sayuran. Sebab, berdasarkan data, hingga kini terdapat 25 ribu lahan berstatus pekarangan nganggur. Dari jumlah tersebut, setelah diidentifikasi ada sekitar 11 ribu lahan potensial dimanfaatkan. “Bisa ditanami sayuran. Nanti dari dinas bersama LSM akan membantu dan melakukan pendampingan,” terangnya. (gun/iwa)

Breaking News