JOGJA – Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja gencar berkampanye mengenai cinta terhadap satwa. Gerakan itu diwujudkan dengan membentuk kader cinta satwa di setiap sekolah.
Gerakan kaderisasi tersebut dilakukan untuk memerangi kepunahan satwa di wilayah Kota Jogja.Kepala Bidang Pertanian Disperindagkoptan Kota Jogja Benny Nurhantoro mengatakan, saat ini pembentukan kader cinta satwa terus berjalan.
Ada beberapa sekolah di Kota Jogja yang memiliki kader cinta satwa. Yakni, SD Pangudi Luhur Jogja,SD Muhammadiyah 2, SMP Muhammadiyah 3 Jogja, SDN Gondolayu Jogja, SMAN 9 Jogja, SMAN 6, dan MAN 2 Jogja.
“Kader-kader inilah yang nantinya menjadi ujung tombak dalam memerangi kepunahan satwa di Jogja. Mereka bisa memulai dengan mencintai dan memelihara satwa eksotik seperti burung merpati atau unggas,” terang Benny dalam pembukaan Jogja Cinta Satwa di Pasar Ikan Higienis (PIH) Giwangan Jogja kemarin (28/4).
Nantinya diharapkan di setiap sekolah terdapat sepuluh kader cinta satwa. Mereka akan dibina oleh aggota komunitas pecinta satwa.
Pembinaan terhadap siswa meliputi pemahaman mengenai jenis satwa. Kecintaan itu diharapkan mampu menjadikan para kader cinta satwa memelihara satwa yang disukai seperti reptil, unggas, dan jenis ikan eksotis.
“Siswa juga dapat mempelajari tentang pengembangbiakan satwa yang benar. Itu untuk pelestarian satwa dan alam,” ucapnya.
Sedangkan Pengendalian Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ Diahning menambahkan, upaya pelestarian hewan terus dilakukan untuk mencegah kepunahan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni sosialisasi di tengah masyarakat agar memahami tentang pelestarian hewan dari kepunahan.
“Tidak hanya itu, masyarakat juga harus perlu tahu tentang undang-undang perlindungan satwa. Selama ini banyak masyarakat yang memperjualbelikan satwa yang dilindungi. Tapi mereka tidak tahu saat hewannya disita (karena hewan piaraan masuk katergori dilindungi),” kata Diahning kemarin.
Sejauh ini BKSD telah menyita bintang langka yang dipelihara oleh masyarakat. Termasuk hewan dilindungi yang diperjualbelikan.
Setiap satwa yang disita, ujarnya, akan dilepasliarkan di habitat asli. Itu sesuai Undang-Undang Perlindungan Bintang yakni Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.
Kecuali untuk hewan liar yang belum dinyatakan langka, kata dia, masih diperbolehkan ditangkap. Meski demikian, penangkapan harus sesuai kuota tangkap yang diizinkan.
Diahning menegaskan, BKSDA terus melakukan pemantauan apabila ada warga yang memelihara hewan langka. Di antaranya, kucing hutan, kakak tua jambul kuning, dan elang. (hrp/amd)

Breaking News