• Tanamkan Nilai Sosial dan Buka Kepekaan Anak Didik.

Tidak ada acara fashion show dan lomba di TK Negeri 1 Sleman ini. Anak didik justru diajak mengunjungi panti asuhan. Pengasuh TK ini ingin anak-anak ini punya kesan mendalam lewat kegiatan ini.
ZAKKI MUBAROK, Sewon
Dengan mengendarai tiga bus sekitar 170 anak didik TK Negeri 1 Sleman tiba di halaman Panti Asuhan Gotong Royong sekitar pukul 10.30 WIB. Agenda kunjungan ke panti asuhan yang terletak di Dusun Jaranan, Panggungharjo, Sewon ini merupakan kali kedua pada peringatan hari Kartini kemarin (21/4). “Sebelum ke sini, kami tadi ke Panti Asuhan Sayap Ibu di Kalasan (Sleman),” terang ketua panitia peringatan hari Kartini TK Negeri 1 Sleman Waljito di sela-sela mendampingi anak didiknya berkunjung ke panti asuhan yang berdiri pada tahun 2004 ini.
Waljito tidak sendirian. Dia didampingi sejumlah tenaga pengajar dan jajaran pengurus TK Negeri 1 Sleman. Itu dilakukan agar mereka dapat memberikan pengarahan kepada seluruh anak didik yang mengikuti agenda kunjungan di panti asuhan ini.
Ya, TK Negeri 1 Sleman sengaja memeringati hari Kartini dengan cara yang berbeda. Biasanya mayoritas TK maupun SD mengisi peringatan yang jatuh pada tanggal 21 April ini dengan peragaan busana tradisional yang melibatkan seluruh anak didik. “Hari Kartini ini kami peringati dengan kegiatan lain yang kami nilai lebih bermakna bagi anak-anak,” ujarnya.
Peringatan dengan model yang tidak biasa ini bukan tanpa alasan. Melalui agenda kunjungan ini tenaga pengajar dan pengurus TK ingin menanamkan nilai-nilai sosial kepada seluruh anak didik. Harapannya agenda ini mampu membuka kepekaan sosial anak didik. “Supaya lebih peka dengan masyarakat yang kurang mampu,” tuturnya.
Sebab, saat kunjungan ke panti asuhan seperti ini anak didik tidak hanya sekadar memberikan bantuan sosial. Melainkan juga melihat langsung kondisi 21 balita yang hidup di dalam panti asuhan. Dengan berurutan seluruh anak didik diajak berjalan menyusuri sepanjang lorong yang membelah sisi kiri dan kanan bangunan panti asuhan.
Di sisi kiri berderet sejumlah ruangan tidur. Demikian pula di sisi kanan lorong. Tidak sedikit balita penghuni panti asuhan tidur di depan ruangan tersebut. Alasnya berupa kasur lipat.
Balita yang usianya rata-rata berkisar empat bulan hingga dua tahun ini hidup tanpa pelukan hangat dari kedua orangtuanya. Berbeda dengan keseharian anak didik yang selalu dalam limpahan kasih sayang kedua orangtuanya. “Melalui acara semacam ini kita juga ingin menyampaikan pesan agar hari Kartini tidak selalu diisi dengan seremonial belaka,” ungkap Ketua Komite TK negeri 1 Sleman Bambang Supriyanto.
Bambang menegaskan, salah satu upaya mengenang jasa pahlawan adalah dengan memperjuangkan nilai-nilai adiluhung. Sebagaimana yang telah diperagakan oleh para pahlawan, termasuk diantaranya Raden Ajeng Kartini. Bukan dengan seremonial semata.”Ini baru pertama kali. Tahun depan akan kami lanjutkan lagi,” jelasnya.
Bambang menuturkan, berbagai agenda TK negeri 1 Sleman selalu dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan para wali murid. Termasuk di antaranya agenda kunjungan ke sejumlah panti asuhan ini. Bahkan, hampir seluruh bantuan yang diberikan kepada panti asuhan bersumber dari para wali murid.
Sekretaris Panti Asuhan Gotong Royong Supriyati menyambut hangat kedatangan rombongan TK negeri 1 Sleman. “Anak-anak (penghuni panti asuhan) ini mayoritas berasal keluarga kurang mampu,” tandasnya.
Sejak berdiri pada 2004 panti asuhan sedikitnya telah merawat sekitar 90 anak. Saat ini, penghuni panti asuhan sebanyak 21 anak. Dari tahun ke tahun lalu lintas keluar masuknya balita terbilang lumayan. Sebab, selain merawat panti asuhan juga berupaya mencarikan orangtua angkat.”Dan kami juga menyekolahkan mereka sampai tingkat yang mereka kehendaki,” tambahnya.(*/din)
 

Breaking News