JOGJA – Dalam bidang teknologi informasi (IT), perempuan acap kali dipandang sebelah mata. Karena bidang IT selalu didominasi kaum laki-laki.
Meski begitu, pandangan tersebut harus diluruskan. Karenanya, FemaleDev yang bergerak di dunia IT menjabarkan, perempuan pun bisa menggeluti dunia ini.
“Saat ini, teknologi menjadi kebutuhan manusia, bahkan termasuk primer. Peran wanita pun besar dalam hal ini. Jadi, tidak hanya sekadar menjadi penikmat saja,” kata Penanggung Jawab FemaleDev Jogjakarta, Osiany Nurlansa, saat Seminar Make Change Happen di Hall Depan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus III, Umbulharjo, Kota Jogja, kemarin (20/4). Dalam kesempatan tersebut, diulas peran perempuan dalam teknologi sangatlah besar.
Osi panggilan akrab Osiany Nurlansa mengungkapkan, perempuan bisa berpartisipasi dalam pembuatan aplikasi. Aplikasi-aplikasi ini nantinya berguna dalam kehidupan sosial masyarakat. Aplikasi ini bisa berbentuk permainan atau aplikasi sosial lainnya.
Bahkan, sebagai ibu rumah tangga, perempuan mampu menjalankan fungsi kontrolnya pada keluarga. Osi menjelaskan, aplikasi permainan saat ini sangat akrab bagi anak. Perempuan bisa mengarahkan dan mengedukasi agar anak bisa mengunduh aplikasi yang tepat.
“Tidak bisa dipungkiri kebutuhan akan teknologi saat sangat besar. Dalam keseharian, teknologi memiliki peran besar. Sehingga para perempuan sudah sewajibnya mampu menjawab tantangan di bidang teknologi ini,” tegas Osi.
Selain di Jogjakarta, seminar tersebut juga digelar di beberapa kota lain. Seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Pontianak. Dalam kesempatan tersebut, juga diluncurkan enam aplikasi yang bisa menjadi solusi atas masalah-masalah sosial.
Beberapa aplikasi tersebut adalah Donate This dan informasi panti asuhan Jogjakarta yang didesain oleh FemaleDev Jogjakarta. Lalu aplikasi web system informasi geografis yang memuat lokasi rumah sakit oleh FemaleDev Pontianak. Adapula Surabaya Heritage yang dirancang FemaleDev Surabaya.
“Ini bukti bahwa para perempuan bisa masuk dalam dunia teknologi. Meski ada yang dalam wujud purwarupa, setidaknya membuktikan pekerjaan ini setara dan sama tanpa ada bias gender,” kata Osi.
Dikatakan Osi, FemaleDev merupakan organisasi yang mewadahi para perempuan pengembang aplikasi di tanah air. Anggotanya, terdiri dari para prempuan yang ahli dan masih belajar di bidang teknologi.
Osi berharap, perempuan yang tergabung dalam FemaleDev atau tidak, tetap mampu berkreasi. Yakni, membuktikan diri dengan menciptakan karya yang bermakna sekaligus memperkuat jaringan.
“Kuncinya, mampu melihat potensi diri dan menyerah dini. Tantangan itu pasti ada dan harus dilakoni, tetapi juga jangan terlalu meminta perlakuan istimewa,” imbuhnya.(dwi/hes)

Breaking News