JOGJA – Pengalaman pribadi dalam kehidupan nyata tidak sekadar menjadi memori. Di tangan Kedung Darma Romansha, pengalaman hidup disulap menjadi novel bertajuk Kelir Slindet. Novel ini merupakan novel bergenre fiksi yang bercerita soal potret kelam masyarakat desa.
Kedung mengungkapkan, novel ini menggambarkan masyarakat desa yang terjebak dalam budaya dan mentalitas kemiskinan yang terstruktural. Novel ini menampilkan beberapa tokoh yang hidup dalam kekelaman dari generasi ke generasi.
“Meski fiksi, untuk latar belakang tempat mengambil dari tanah kelahiran, Indramayu. Kenapa memilih novel, karena tidak semua hal bisa terwakilkan dengan satu wadah, sebut saja puisi atau cerpen. Novel dipilih karena memiliki kesempatan diskpripsi yang lebih luas,” kata Kedung saat peluncuran Kelir Slindet di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Senin malam (14/4).
Tahun 2002 menjadi awal bagi Kedung menggarap novel ini. Proses penggarapan novel tersebut cukup lama. Sebab, Kedung berhenti beberapa kali. Pada 2005, Kedung kembali menggarap novel ini atas bujukan beberapa temannya. Tapi, dia kembali berhenti.
Tiga tahun kemudian, tepatnya 2008, Kedung mengikutsertakan novelnya ini dalam suatu lomba. Di luar dugaan, karyanya ini mendapat peringkat pertama. Alhasil, ia kembali bersangat merampungkan novelnya yang lama tertunda.
“Saya iseng-iseng ikut lomba itu dengan mengirim satu bagian pertama novel saya. Tentunya telah dirombak beberapa cerita dan mengalami banyak pemangkasan. Setelah ada pemicu ini, lalu berkonsultasi dengan Cerpenis Joni Ariadinata,” kata Kedung.
Meski digarap lama, novel ini berwujud trilogi. Kelir Slindet merupakan edisi pertama. Novel kedua berjudul Telembuk (Kisah yang Tak Selesai). Sedangkan Novel ketiga berjudul Sepenggal Kabar dari Kota Mangga.
Ia mengisahkan, novel ini menceritakan soal karut marut dan intrik politik di kampung. Kekacauan terjadi saat pemilihan kuwu atau kepala desa.
Dalam novel ini, ia mengangkat dampak politik dari pemilihan kepala desa dan korban-korbannya.
“Sebenarnya, membaca novel ini membutuhkan ketelatenan, karena tidak hanya cerita cinta Mukimin dan Safitri saja, tetapi beberapa cerita-cerita lainnya di kampung. Ketiga novel ini merupakan satu kesatuan dalam jalan cerita yang lengkap. Untuk edisi kedua dan ketiga akan segera dirilis,” kata Kedung.(dwi/hes)

Breaking News