Padepokan Bumi Mataram menggelar tradisi larung bumi Mataram di pelataran Candi Kalasan. Kegiatan ini menjadi secuil rangkaian mangayubagyo peringatan ke-267 Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.
Hujan lebat mengguyur pelataran Candi Kalasan sore kemarin (10/4). Air hujan mengguyur tubuh puluhan bregada Padepokan Bumi Mataram. Namun, itu tidak menyurutkan semangat para bregada mengirab sesaji dan umbul-umbul lambang dua keraton.
Mereka pun basah kuyub dan tentu saja marasakan kedinginan. Apalagi mereka juga berjalan sejauh satu kilometer dari Candi Kalasan menuju Dusun Gendukan, Tirtomartani, Kalasan. Mereka berbaris berjajar rapi mengikuti iring-iringan. Sesampai di bantaran Kali Opak, para bregada disambut sesepuh desa setempat.
Selanjutnya, tiga sesepuh padepokan segera menuju ke tepi kali. Masing-masing membawa uba rampe berupa tumpeng nasi kuning, jajan pasar serta empat gelas kopi, dan baju takwa. Ketiganya lantas menceburkan diri ke sungai sebatas pinggang orang dewasa. Lalu melarung baju takwa. Tumpeng dan ubarampe dibawa kembali ke Pendopo Kali Opak Tempuran untuk didoakan.
“Itu sebenarnya baju saya. Dilarung sebagai simbol saja, untuk membuang sengkolo,” ungkap RM Puspolelono Cokronegoro, pengasuh sekaligus pendiri Padepokan Bumi Mataram. Acara itu tak hanya diikuti punggawa dan abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ada juga dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Puspolelono sengaja melibatkan dua trah keraton mengingat ritual yang diselenggarakan menggunakan label “Bumi Mataram”. “Makanya harus mengakomodir dua-duanya,” ucapnya.
Melalui kegiatan yang baru pertama kali digelar tersebut, Puspolelono ingin mengembalikan adat budaya yang hilang. Secara kebetulan, hari yang dipilih tepat pada tanggal kelahirannya, yakni 10 April. Puspolelono berusia 48 tahun. Tempat yang dipilih pun di Dusun Gendukan, sebagai tempat kelahirannya. Hal itu dianggapnya momen yang tepat untuk memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa agar dirinya dan masyarakat dijauhkan dari mala petaka. Sekaligus wujud syukur atas ketentraman dan kelancaran proses pemilu 2014. “Ukuwah dan kerukunan antarumat. Itu yang utama ingin dicapai melalui kegiatan ini,” ungkap guru besar padepokan yang juga menangani rehabilitasi pencandu narkoba.
Pak Keman, sesepuh dusun setempat, menuturkan makna utama labuhan adalah permohonan maaf kepada Tuhan atas sikap dan tingkah laku pribadi dan masyarakat. Agar dijauhkan dari permasalahan rumit dan tindakan yang dilarang oleh agama. “Mugi-mugi diparingi kesaenan lan berkah kalian Gusti (Semoga diberikan kebaikan dan berkah oleh Tuhan, Red),” harapnya.
Melalui kegiatan ini Puspolelono mengajak generasi muda mengingat kembali perjalanan sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang turut berperan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan disemarakkan dengan kegiatan sosial berupa pengobatan alternatif gratis. Acara ditutup dengan pagelaran kethoprak Hangesti Budaya bertema Babad Alas Mentaok yang dimainkan oleh seniman Jogjakarta. (*/din)

Breaking News