Tidak hanya para caleg yang sibuk jelang pemilu. Pelaku seni pantomimers Jemek Supardi dan Sujud “Kendang” Sutrisno pun sibuk berkampanye. Tapi, apa yang mereka lakukan?
Dwi Tunggal Seniman Jogja itu membuat pentas di Pendopo Tembi Rumah Budaya Jumat malam (4/4). Mereka membuat parodi khusus dengan menyentil tema-tema khusus, berhubungan dengan pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan ini.
Ya, malam semakin larut namun hiruk pikuk malam itu. Hawa dingin malam semakin menyergap. Tapi justru semakin banyak orang yang memadati pendopo Tembi Rumah Budaya. Bahkan parkir kendaraan pun membludak hingga sisi jalan raya.
Berbondong-bondong mereka menanti pertunjukan spesial malam itu. Mereka pun duduk lantai bawah. Sebagian lagi berdiri mengitari pendopo dari sisi barat, timur dan selatan ini.
Ya, malam itu memang istimewa, karena dua seniman beda ilmu berkolaborasi. Bertajuk Dwi Tunggal Seniman Jogja, Jemek Supardi dan Sujud “Kendang” Sutrisno manggung bareng.
“Pentas ini untuk menyindir, merespon sekaligus mengajak agar para calon wakil dan juga rakyatnya menjadi cerdas. Pemilu ini bukan ajang pemilihan yang asal, karena dari pilihan kita akan menentukan wajah Indonesia ke depannya,”kata Jemek sebelum pementasan.
Untuk melengkapi pentas ini, Pendopo Tembi Rumah Budaya pun disulap dengan sedemikian rupa. Poster besar memajang wajah Jemek dan Sujud dengan panjang 2x 1meter menjadi latar belakang. Aksi ini semakin lengkap dengan adanya poster kecil berukuran kertas A4 menempel di seluruh tiang pendopo.
Setting panggung ini seakan menghidupkan suasana kampanye yang berlangsung saat ini. Baliho raksasa, poster hingga selebaran menghiasi seluruh penjuru.
Mengawali pentas, Jemek dan Sujud keluar bersamaan. Mengenakan jas hitam dan celana kain keduanya terlihat gagah layaknya calon presiden dan calon wakil presiden.
Mengawali pentas, Jemek sibuk membagikan uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu kepada penonton. Uang imitasi itu pun jadi rebutan. Dalam hitungan detik uang dalam koper berwarna hitam itu ludes. ” Ini hanya simbol dari budaya perpolitikan yang sudah menjamur di Indonesia saat ini. Saat ini baik dari kalangan bawah hingga atas seakan menganggap wajar hal ini. Bahkan jika budaya ini tidak ada dianggap tidak wajar,” kata Jemek.
Khas pantomimers, Jemek tak lupa menghias wajahnya dengan riasan wajah berwarna putih. Aksi berlanjut ketika Jemek merespons kursi yang ada di tengah pendopo. Di kaki kursi kayu berwarna emas tersebut terikat beberapa helai bendera berwarna-warni.
Di atas kursi kayu ini tergeletak dua bunga Mawar berwarna merah dan putih. Ini adalah perlambang pertarungan politik saat ini. Setiap partai berusaha meraih kursi kepemimpinan. Dua tangkai bunga mawar berwarna merah dan putih ini merupakan perlambang Indonesia.
“Mau merebutkan kursi kepemimpinan, namun harus ingat tujuannya adalah agar Indonesia menjadi lebih baik. Pertarungan itu sebenarnya wajar asalkan mengedepankan sifat ksatria. Jika menang tidak merasa tinggi, jika kalah tidak marah,” kata Jemek.
Sesi pertama ini diakhiri dengan Sujud menghampiri Jemek ke tengah pendopo. Keduanya kompak bergandengan mengangkat tangan dengan dua tangkai mawar di tangan mereka. Setelah selesai mendeklarasikan diri sebagai calon wakil rakyat tibalah sesi tanya jawab.
Dipandu Anang Batas, sesi tanya jawab ini berjalan dengan kocak dan unik. Plesetan-plesetan segar meluncur dari Anang Batas. Belum lagi pertanyaan dari penonton yang memaksa Jemek dan Sujud untuk berpikir keras. Seperti pertanyaan visi dan misi, atau kenapa menggandeng Sujud sebagai calon wakil presiden.
Lagi-lagi aksi kocak ditunjukan duet seniman ini ketika menjawab pertanyaan. Jemek yang kurang begitu pandai dalam mengutarakan kata, terlihat susah mengutarakan visi dan misinya. Meski begitu pertanyaan ini dengan sukses mampu dijawab oleh pria kelahiran Jogjakarta 14 Maret 1953 ini. Tiba giliran Sujud menjawab pertanyaan, gelak tawa pun pecah.
“Ya saya kira sudah cukup sesi tanya jawabnya, terima kasih untuk warga yang sudah hadir di sini. Berikutnya giliran saya menyampaikan suara melalui tembang-tembang yang akan saya nyanyikan,” kata Sujud tanpa menjawab pertanyaan dari penonton.
Tembang-tembang parodi pun sukses dibawakan oleh Sujud malam itu. Sebut saja Mata Indah Bola Pingpong milik Iwan Fals, lalu Cucak Rowo milik Didi Kempot dan beberapa lagu lainnya. Bersenjatakan kendang kecil berwarna hijau, Sujud mampu menggubah lagu-lagu yang awalnya serius menjadi parodi.
Aksi Sujud ini semakin lengkap ketika dirinya melengkapi aksinya dengan efek manual. Semisal saat lagu akan memasuki akhir, Sujud menyanyikan secara fade out. Sehingga lagu akan terdengar semakin lirih ketika mendekati ujung lirik.
“Lagu-lagu ini yang sering bawakan untuk menghibur saat menjadi Petugas Pemungut Pajak Rumah Tangga (PPRT) dari rumah ke rumah. Melalui lagu dan seni berharap Indonesia bisa menjadi bangsa yang berkarakter,” kata pria kelahiran 22 September 1953 ini.
Aksi yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Jemek berkolaborasi langsung dengan Sujud. Dalam sesi ini, Jemek kembali merespons tangkai mawar dan kursi di tengah pendopo Tembi Rumah Budaya. Kali ini Sujud mengiringi aksi pantomime Jemek dengan nyanyiannya.
Aksi menunjuk diri sendiri dan mengangkat bunga menghiasi sesi kali ini. Sesi ini menggambarkan seorang pemimpin atau wakil rakyat selayaknya instropeksi diri. Sebelum menyalonkan diri alangkah baiknya memiliki visi dan misi yang jelas, tidak hanya egois diri.
“Sadar akan potensi diri yang dimiliki bagaimana membuat kesejahteraan dan nama Indonesia semakin harum. Tidak hanya mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau gitu anak kecil saja juga bisa, jadi orang yang bisa ngayomi dan membuat rakyatnya bangkit,” kata Jemek.
Persiapan Dwi Tunggal Seniman Jogja ini dipersiapkan secara matang. Meski begitu Jemek dan Sujud mengaku tidak memerlukan waktu yang lama untuk berlatih. Ini karena keduanya hanya merespon suasana yang ada.
Budayawan Ons Untoro mengungkapkan pementasan ini adalah format yang pas. Kedua seniman yang tampil memiliki karakter yang kuat. Ons mengutarakan slogan Jemek, sedikit bicara banyak bekerja sangat pas dengan jiwa Sujud sebagai PPRT.
“Pesan kepada pejabat untuk selalu banyak bekerja dan sedikit bicara, apalagi mengeluh kepada rakyat. Sejalan dengan Sujud, melakukan pelayanan dulu baru memungut uang. Harusnya pejabat juga demikian, melakukan pelayanan sebaik mungkin dulu terhadap rakyat,” kata Ons Untoro.(*/din)

Breaking News