RADAR JOGJA – Awalnya obsesi memenangkan Ramadan Sains Fair. Namun saat perlombaan akan dimulai, malah mengundurkan diri. Hanya karena dia meminjamkan baterai kepada temannya bernama Joni. Inilah secuil kisah Nussa, tokoh utama film animasi berjudul Nussa.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Bocah SD membuat roket dari barang bekas. Bagian bawah roket menggunakan sendok garpu. Badan roket memakai botol plastik. Sayapnya dari kardus dan baling-baling roket terbuat dari stik es krim. Itulah karya Nussa sang jenius yang dikemas dalam film animasi drama keluarga berjudul Nussa yang diproduksi The Little Giantz dan Visinema Picture 2021.

Nussa adalah anak berkebutuhan khusus. Kaki kirinya cacat, sehingga disambung kaki imitasi. Karakternya khas memakai peci putih. Namun di balik keterbatasannya itu, dia anak tangguh dan jenius. Rasa kesetiaannya terhadap teman, juga tinggi. Dia periang dan banyak kawan.

Suatu ketika di sekolahnya kedatangan murid baru. Namanya Joni, dari keluarga berada. Sama halnya dengan Nussa, Joni tertarik dengan sains. Dia juga bereksperimen membuat roket. Berbeda dengan buatan Nussa. Roket buatan Joni menggunakan alat-alat canggih. Dijalankan dengan remote control.

Sejak kedatangan Joni, sekolah Nussa dihebohkan dengan temuan-temuan canggih buatan Joni. Hal ini menyebabkan Nussa kecil hati dan hendak menyerah dengan impiannya menjadi seorang ilmuwan. Rendah diri karena alat-alat yang dia miliki terbatas dari barang bekas. Tidak seperti Joni.

Namun karena rasa optimisme yang tinggi, juga dukungan teman-teman dan keluarganya, dia mampu bangkit untuk terus bereksperimen mengembangkan roket buatannya. Tiba saatnya yang ditunggu-tunggu, Ramadan Sains Fair. Karena keduanya sama-sama jenius, mereka terpilih sebagai peserta kompetisi sains antarsekolah.

Hari itu, hari yang mereka tunggu-tunggu, semua keluarga Joni dan Nussa berkumpul menyaksikan kompetisi tersebut. Keduanya sudah menyiapkan roket yang apik. Tiba giliran keduanya unjuk kebolehan, roket Joni justru rusak. Dia menangis, tidak bisa mengikuti pertandingan.

Lantas, Nussa mengambil baterai roket miliknya. Memasangkannya ke roket milik Joni. Yang lebih mengharukan lagi, dia mengambil baut pada kaki imitasinya untuk menopang baterai agar tak lepas.

Berkat bujuk rayu Nussa, akhirnya Joni siap bertanding. Sangat memukau. Roket buatan Joni terbang dengan luar biasa. Memancarkan cahaya warna-warni dan menebarkan permen. Tepuk tangan dan semangat pun berkobar. Menghantarkan Joni pada kejuaraan pertama.

“Juara ini bukan untuk saya, melainkan juga Nussa. Tanpanya, saya tidak bisa di panggung ini,” ungkap Joni dalam film itu. Lantas, dia meminta Nussa naik ke atas panggung.

Dengan berjalan terseok-seok karena kaki imitasinya yang hampir lepas, akhirnya Nussa berkesempatan membawa piala itu bersama Joni. Keduanya pun menjadi sahabat. Joni mampu membuktikan kepada kedua orangtuanya bahwa dia berhasil dengan eksperimennya. Begitu juga keluarga dan teman-teman Nussa. Mereka bangga atas apa yang dilakukan Nussa.

Film animasi Nussa, perdana diputar di Bioskop XXI Ambarukmo Plaza itu berhasil membius penonton. Ismoyo Sedjati, 33, warga Sleman mengatakan, film Nussa mengajarkan untuk tidak egois dalam mencapai tujuan. Dengan semangat kolaborasi, mampu menunjukkan hasil yang lebih baik, lebih sempurna.

“Film ini mengedukasi. Dari segi keluarga, dibalut religi, pendidikan, jiwa patrotisme, dan kesetiakawanan. Endingnya mengharukan,” ungkap Jati, sapaannya, usai menyaksikan film imi kemarin (26/9).

Film Nussa diproduseri Anggia Kharisma. Dalam film ini, Anggia ingin menunjukkan rasa nostalgia. Mengenang masa-masa kecil. Sesuai tampilan animasi tiga dimensi yang penuh imajinasi di dalamnya. (laz)

Boks