RADAR JOGJA – Padukuhan Kasuran terbagi menjadi dua wilayah. Padukuhan Kasuran Kulon berlokasi di Kalurahan Margodadi dan Padukuhan Kasuran Wetan berlokasi di Kalurahan Margomulyo, Seyegan. Rupanya, padukuhan ini kental dengan mitos dan sejarahnya. Seperti apa?

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Jika warga di padukuhan lainnya tidur di atas kasur kapuk adalah hal lumrah, berbeda dengan padukuhan ini. Menjadi sakral. Konon ada yang merasakan dililit ular, hingga sakit menahun tanpa diketahui kejelasan penyakitnya apa. Hingga saat ini, mitos larangan tidur di atas kasur kapuk masih dijalankan warga di padukuhan tersebut.

“Kalau warga asli sini sudah paham dan tidak berani melanggar aturan dari cerita sesepuh kampung ini,” ungkap Dukuh Kasuran Wetan Suparman kepada Radar Jogja di kediamannya kemarin (19/9). Warga rata-rata tidur menggunakan alas tikar dan kasur busa.

Dia menceritakan, dulu ada warga yang melanggar karena tak paham. Dia merupakan pendatang dari Jakarta. Hendak tinggal di padukuhan ini. Di bawanya kasur kapuk sebagai tempat tidurnya. Tak selang lama, keanehan terjadi. Mengalami sesak dan merasa saat tidur dililit ular besar. “Itu dulu. Cerita turun temurun,” katanya.

Lalu lima tahun terakhir juga terjadi pada sepasang suami istri. Warga Kasuran yang membawa tempat tidur dari Minomartani, Kalasan. Lantas keduanya merasakan sakit hingga badan kurus. Sudah dibawa ke rumah sakit, tetapi penyakitnya tak jelas. Bertahun-tahun keduanya menderita penyakit yang hampir sama.

Akhirnya warga curiga dan di bukalah kasur tersebut. “Tenyata benar, di dalamnya ada kapuk randu. Setelah kasur dibuang, keduanya bisa sehat kembali seperti sedia kala,” ungkapnya.

Rukinah namanya. Warga yang telah mengalami kejadian tersebut yang tanpa disengaja. Perempuan ini masih hidup dan suaminya telah tiada dalam musibah kecelakaan. “Rumahnya tak jauh dari sini,” tunjuknya.

Diceritakan, pada masa Sunan Kalijaga singgah di padukuhan ini, menyempatkan diri membuat kasur empuk terbuat dari kapuk randu alas. Setelah tidur di atas kasur, dia mengalami sakit. Setelah itu, sunan tidur tidak memakai kasur. Ternyata sakitnya sembuh.

Sekitar 50 meter dari rumah Suparman, juga terdapat makam sesepuh. Namanya Nyi Kasur. Konon, nama inilah cikal bakal padukuhan ini. Nah, rupanya Nyi Kasur tak sendiri. Dia juga memiliki suami bernama Kyai Kasur.
Karena keduanya terlibat cekcok hingga pisah ranjang dan akhirnya bercerai. Nyi Kasur tinggal di Padukuhan Kasuran Wetan, sementara Kyai Kasur tinggal di Padukuhan Kasuran Kulon. Setelah meninggal dimakamkan di wilayah tersebut.

Adanya perceraian dan perjanjian oleh keduanya, maka muncul larangan berikutnya, yakni warga di kedua padukuhan itu dilarang menikah atau menyatu. “Pantangan ini sampai kini berjalan dan belum ada temuan kasus ada pernikahan dari kedua padukuhan ini,” tambahnya.

Kendati begitu, menurutnya, adanya larangan ini memberikan pembelajaran bahwa hidup di dunia itu hendaknya penuh keprihatinan. Jangan terlalu hanyut dengan kemewahan dan kenyamanan. Seperti halnya tidur di atas kasur. “Begitu pesan moralnya,” ujar Parman.

Namun versi lain, nama Kasuran berasal dari peperangan Pangeran Diponegoro, sekitar 1825-1930. Kemudian mengalami kekalahan. Karena ada kekalahan, maka disebut Kasoran, kasor. Dan secara turun temurun terjadi perubahan vokal menjadi kasuran.

Versi ini dibuktikan adanya tempat petilasan Pangeran Diponegoro. Lokasi peperangan itu berada di Mata Air Depok, Padukuhan Kasuran Wetan bagian selatan. Kalau dari rumah Parman jaraknya sekitar 1 km.

Menurut Budi Sunaryo, 77, sesepuh di RT 7, pada era itu Pangeran Diponegoro tengah menghadapi penjajah dari Belanda. Tepat di lokasi mata air tersebut dia menancapkan kerisnya. Lalu muncul air dan berubah menjadi Sendang Depok.

Nah, ke selatan sekitar 80 meter, di sana terjadi peperangan hebat antara Pangeran Diponegoro dibantu bibinya, Ki Ageng Serang dan rakyat melawan penjajah. “Di ujung sana, selatan mata air ini terdapat pemakaman gembong. Mayat londo (Belanda) tanpa kepala dikuburkan di sana,” kata Budi.

Dijelaskan, makam itu berada di atas tanah sultan (Sultanat Ground). Saat ini kondisinya tidak terawat. Sementara air sendang hingga sekarang manfaatnya masih dirasakan masyarakat. “Airnya tak pernah kering,” tambahnya. (laz)

Boks