Di teras rumahnya, Padukuhan Grogol, Margodadi, Seyegan, Teguh Suyanto tampak menggeluti hobinya. Membuat tatah sungging wayang kulit. Kecintaannya pada dunia pewayangan, membuatnya ingin melestarikan budaya tatah sungging sesuai pakemnya.

MEITIKA CANDRA L, Sleman, Radar Jogja

Hujan deras mengguyur saat Radar Jogja menuju ke kediaman Teguh Suyanto (20/6). Saat di lokasi, ia sedang mengisi waktu liburnya dengan melakukan tatah sungging wayang kulit. Ketukan palunya sukses mendaratkan ujung tatah tepat sesuai pola. Alhasil, pekerjaannya begitu rapi.

“Ini Batara Bayu. Dalam dunia pewayangan disebut dewa angin,” ungkap Teguh. Sembari beraktivitas, dia menjelaskan, Batara bayu ini ibarat peri. Memiliki watak baik. “Begitu dikodratkan,” celetuknya.

Lalu dua karakter lagi, sudah terpahat rapi, menunggu finishing. Yaitu Buto Raton dan Buto Patih. Keduanya memiliki karakter yang cenderung negatif. Ukurannya lebih besar dari Batara Bayu. Tetapi, tidak semua raksasa memiliki sifat bengis. Ada juga Kumbokarno, raksasa berwatak baik dan berjiwa patriotik.

Tatah sungging ini dia kerjakan dalam waktu tiga hari per wayang. Awalnya pola digambar terlebih dahulu di lembaran kulit kerbau murni. Kemudian dipotong berdasarkan outline-nya. Setelah itu baru ditatah. Hampir mirip mengukir kayu, hanya saja alat dan penekanannya saja yang berbeda. Kalau hasilnya, hampir serupa batik. Lantaran menimbulkan titik dan garis layaknya goresan cat pada batik.

Dari bagian per bagian, wayang itu semakin hidup. Tatahan itu semakin artistik dan memberikan kesan kuat pada karakter wayang dan komponennya. “Tidak sembarangan natah, ini sesuai pakem,” ucap pria yang juga guru SMKN 1 Seyegan itu.

Pakem-pakem itu juga tak sembarangan. Setiap tokoh wayang berbeda. Dia mengambil contoh Gatotkaca atau Klincingwesi. Kompoen pahatan sesuai pakem terdiri atas jamang, gurda, sunting, prabha, ulur-ulur, pengikat praga, ada sampur, jarik, uncal, calunkringan, naganangkrang dan lain-lain. Bahkan posisi muka pada tokoh pewayangan juga tak sembarangan.

Bila menurut pakem, lanjut Teguh, posisi wajah merunduk itu melambangkan bentuk pengabdian. Biasanya dalam pewayangan karakter baru akan digunakan ketika tokoh wayang sedang menghadap sang raja. Sementara karakter muka tegak lurus digunakan pada saat menghadapi musuh atau berperang.

“Kalau udah lakon goro-goro itu, kulit Gatotkaca berubah menjadi hitam. Dalam pewayangan, satu tokoh wayang bisa memiliki tiga sampai lima wujud,” sebutnya.

Disebutkan, wayang-wayang buatannya ini akan dijadikan koleksi pribadi. Dan akan dipakai sendiri oleh Teguh dan keluarganya, yang secara turun-temurun mendalami ilmu pedalangan ini.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Jurusan Seni Pertunjukan, Karawitan itu mengatakan, hobinya ini telah menghantarkan pencapaiannya meraih rekor Muri nasional pada 2004. Membuat wayang kayon gunungan dari tatah sungging raksasa. Tingginya 7,5 meter dengan lebar tiga meter. Atau setara dengan enam lembar kulit kerbau. Karyanya kini dipajang di Museum Muri Borobudur, Kabupaten Magelang.

Dia akan melestarikan tatah sunging pewayangan ini. Melalui desa wisata dan budaya di kampungnya, Teguh mengajak anak muda untuk terus nguri-uri budaya. Agar budaya tradisi ini tidak lekang oleh zaman. (laz)

Boks