RADAR JOGJA – Potensi ekonomi ikan hias cukup tinggi. Salah satunya terhadap ikan hias jenis guppy. Pengungkit nilai ekonomi terhadap ikan hias dengan nama latin poecilia reticulate ini dapat dilakukan dengan kompetisi.

Rigen Maherizki Hidayat sengaja membawa beberapa ikan guppy koleksinya dari Purworejo, Jawa Tengah ke Bantul. Tujuannya untuk mengikuti kompetisi ikan guppy se-Jawa yang diadakan digelar di Pendopo Puro Manunggal, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak Bantul, Minggu (13/6). “Saya mengikuti dua kelas kompetisi, ikut di middle tuxedo dan juve tuxedo,” bebernya kepada Radar Jogja.

Alasan utama Rigen mengikuti kompetisi adalah untuk menguji kecantikan ikan miliknya. Karena itu, dia tandingkan. “Siapa tahu, dengan proses yang saya jalankan di farm saya sendiri mampu bersaing di skala regional dan nasional,” sebutnya.

Selain itu, Rigen menyadari prospek ikan guppy, yang semakin bagus ke depannya. Lantaran peminat dan pencintanya semakin hari semakin ramai. Mulai dari segi peminat, hobi, atau dari sisi bisnis. “Makin banyak orang yang menekuni atau membeli. Untuk hobi, dijual kembali, atau ternak juga ada. Dan ingin diikutsertakan ke kontes juga ada,” paparnya.

Diakuinya, kontes ikan guppy pun turut mendongkrak harga ikan yang memenangkan kompetisi. Selain itu, popularitas farm yang membudidayakan, akan turut terdongkrak secara ekonomi. “Selain untuk menguji kecantikan ikan, (kompetisi) juga bisa menaikkan reputasi ikan maupun farm. Dari harga atau kualitas ikan (bisa bertambah),” jelasnya.

Perwakilan penyelenggara kompetisi, Dedi Wahyu Ardianto membeberkan, kompetisi yang digelarnya menuai antusias. Peserta berdatangan dari berbagai penjuru, seperti Tanggerang, Banten; Jakarta; dan Surabaya, Jawa Timur. Kontes Guppy Bantul Regional Jawa yang digelar pun diikuti oleh sekitar 600 peserta. Kemudian terdapat penambahan 200 peserta.

Dalam kontes ini, panitia menerapkan Fancy Guppy Indonesia Scoring System (FISS) Delta. Di mana guppy di bagi menjadi 22 kelas dengan pemenang tiga kontesan per kelasnya. “Scoring system, dalam kontes pakai yang baru launching. Ada 22 kelas, tiap kelas ada tiga juara,” jelasnya.

Ditemui di lokasi kompetisi, anggota Komisi B DPRD DIJ, Andriana Wulandari mendukung pembudidayaan ikan guppy. Kunjungannya pada gelaran kompetisi membuka pengetahuannya tentang potensi ekonomi ikan mungil ini. “Kami banyak support ke lele, gurame, kambing, sapi. Setelah melihat situasi (kompetisi ikan guppy, Red), ternyata ini luar biasa,” cetus Ndari, sapaan akrabnya.

Apalagi kompetisi diikuti banyak peserta yang antusias terhadap ikan guppy. Hal ini tentu bisa menjadi salah satu motivasi komisinya untuk mendorong Pemprov DIJ maupun dinas terkait. Dalam rangka memberikan dukungan terhadap kegiatan terkait budidaya ikan guppy. “Ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dan ketika saya tanya, perawatan, atau pembudidayaan ini cukup mudah. Ini bisa menjadi salah satu hal yang bisa men-support taraf ekonomi, kalangan kolektor, penyuka, atau pembudidaya ikan hias di DIJ,” ujarnya.

Karena itu, Ndari, akan dorong agar ada bantuan anggaran dan kegiatan. Guna pengembangan budidaya ikan guppy, misalnya pelatihan. Dengan begitu diharapkan, ikan guppy dapat berkembang dan menjadi ikon DIJ. “Khususnya di Kadisoro atau wilayah Kabupaten Bantul secara keseluruhan. Ini menjadi salah satu program atau kegiatan masyarakat, untuk menambah taraf ekonomi di tengah pandemi seperti ini,” ucapnya. (pra)

Boks