RADAR JOGJA – Botol-botol plastik berisi cairan berwarna berjajar di meja ruangan Kantor Humas Pemkab Sleman, Jumat sore (5/3). Sang empunya, Kepala Humas Shavitri Nurmala Dewi dan staf persidangan Setwan DPRD Sleman Pipit Damayanti mengaku telah memulai perilaku hidup sehat. Salah satunya dengan mengonsumsi cairan yang disebutnya ramuan EKD.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Jika kombucha dibuat dari fermentasi jamur teh, sementara susu difermentasi menjadi produk yakult. Nah, kalau buah-buahan ini difermentasi menjadi ramuan EKD. “Ini,” ucap Shavitri Nurmala Dewi menunjukkan botol berisi berbagai ramuan hasil fermentasi buah-buahan, saat di temui di kantornya, Jumat (5/3).

Perempuan yang akrab disapa Evi itu menunjukkan satu persatu hasil ramuan yang dia buat. Ada fermentasi buah anggur, ada pula buah naga, dan campuran daun sirsak, jambu biji, dan kulit manggis. Sebagian proses fermentasi dibuat di sela-sala kedinasannya di kantor.

Proses fermentasi memanfaatkan galon air minum. Dimulai dari membuat fermentasi ragi atau biangnya. Dibutuhkan campuran rempah-rempah yang diberi ragi, lalu direndam dalam air selama berhari-hari. “Nah, di galon ini sebagai biangnya atau disebut cairan F1,” ungkap Evi, sembari menunjuk galon di sebelah timurnya.

Lalu, pandangannya beralih pada galon sisi barat dari dia berdiri. Galon itu berisi ramuan EKD buah anggur. Komposisinya, satu kilogram (kg) buah anggur, satu kg gula pasir, 300 ml cairan F1 dan dimasukkan dalam 19 liter air atau sepadan dengan volume sebuah galon. Dan, dibiarkan selama 14 hari. “Jika lebih lama dari 14 hari, semakin enak,” katanya.

Soal nama EKD, itu merupakan kepanjangan dari Ermina Komala Dara, nama penemu formula ini. Ramuan ini dibuat untuk meningkatkan mikroba, yang dibutuhkan oleh tubuh. Formula EKD ini disebut kaya manfaat. Sebab dapat dimanfaatkan sebagai starter atau bidang fermentasi bahan organik untuk pupuk, pakan biopestisida, bioherbisida, ramuan alamiah kecantikan dan lain-lain. “Aman dikonsumsi dan bagus untuk kesehatan,” terang Evi.

Saat di temui itu Evi tak sendiri. Melainkan bersama Pipit Damayanti. Memiliki hobi yang sama, mereka mengembangkan ramuan EKD ini pada Januari 2021 lalu.

Evi dan Pipit lebih dulu tertarik dengan kombucha. Setelah mendapatkan informasi terkait ramuan EKD yang kaya manfaat, maka keduanya tertarik mempelajari dan mengembangkan. “Dan baru-baru ini ramuan EKD berhasil,” ungkap Pipit.

Setelah dilakukan pengujian sampel, ternyata nol alkohol dan nol kadar gula. Itu artinya ramuan ini aman dikonsumsi. Cocok bagi mereka yang memiliki pola hidup sehat, orang yang berdiet, juga aman bagi penderita diabetes.
Khasiat untuk lingkungan, ampas buah-buahan ramuan EKD dapat dimanfaatkan untuk pupuk dan kesuburan tanah. Cara mengonsumsinya, ramuan EKD dapat dicampurkan ke dalam makanan atau minuman. Fungsinya untuk menetralisasi.

Konon, ramuan ini oleh Ermina Komala Dara dipelajari langsung dari dukun suku dayak ngaju, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sejak kecil Ermina sakit-sakitan. Lalu diobati oleh seorang dukun dayak asli. Kemudian dia tertarik belajar bagaimana mengobati sendiri dari resep dukun itu. “Kalau dari dukun ramuan kan belum diuji empiris. Nah EKD dia maintenance itu. Mempelajari takaran dan melakukan uji laboratorium,” ungkapnya.

Ramuan EKD dalam F1 terdiri atas 24 rempah yang difermentasikan selama 14 hari. Fungsinya sebagai booster. “Jika fermentasi biasa khasiatnya hanya 15 persen, kalau dicampur ramuan EKD ini bisa 70 persen,” ungkapnya. (laz)

Boks