RADAR JOGJA – Prof. Adi Utarini punya cara tersendiri untuk mengenang setahun kepergian suaminya Prof. Iwan Dwiprahasto karena Covid-19. Dengan menggelar konser musik secara online. Bertajuk “Life, Passion, and Music Vol 2: Tribute to Prof Iwan Dwiprahasto”. Dana yang terkumpul akan didonasikan untuk kegiatan amal.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

Selama ini Prof. Adi Utarini dikenal sebagai peneliti demam berdarah. Hingga mengembangkan nyamuk wolbachia sebagai penangkal nyamuk aedes aegypti. Tapi tak banyak yang tahu tentang kemampuannya dalam bermusik.
Wanita yang akrab disapa Uut ini pun menyiapkan kembali konser amal virtual. Ini adalah kelanjutan dari konser amal sebelumnya. Bertemakan Life, Passion, and Music yang digelar pada 2018 silam. “Konser menampilkan Prof. Adi Utarini and friends,” ungkap Uut melalui keterangan tertulis Selasa (2/3).

Selain Uut, konser akan menampilkan para musisi klasik, pop-jazz dan art rock yaitu Budi Utomo Prabowo, Safarina G. Malik, Jodi Visnu, Afriza Animawan serta Rachmat Zia. Penampil lainnya adalah Putri Karina Larasati, Heni Kusumawati, SKE Band, Oldies Section Band, dan Psiline & Mix line dance. Selain konser, ada pula talkshow mengenang Prof Iwan oleh keluarga dan kerabat, serta pembacaan puisi karya Prof Iwan. “Pertunjukan ini akan membawa penonton dalam suasana optimisme,” harapnya.

Uut membocorkan, lagu yang akan dibawakan dalam konser memiliki keterkaitan cerita dalam kehidupan suaminya maupun keluarga, serta inisiatif Shelter Tangguh dan shelter-shelter Desa. Yang kemudian ingin mengajak kalangan luas, untuk terus menyebarkan semangat kebaikan dengan menolong sesamanya. “Pada puncak acara, akan ditampilkan satu lagu baru yang terinspirasi oleh Prof Iwan yang berjudul Inspirasiku,” ungkap Uut.

Prof Iwan adalah suaminya. Yang juga merupakan guru besar Universitas Gadjah Mada. Prof Iwan meninggal setelah dinyatakan positif Covid-19 pada 24 Maret 2020 lalu. “Karena itu, home concert kali ini akan dirangkai dengan momen nostalgik karya-karya, maupun aktivitas Prof. Iwan Dwiprahasto semasa hidupnya,” imbuh Uut.

Perbedaan lainnya, dana yang terkumpul pada konser pertana didonasikan kepada Yayasan Kanker Indonesia DIJ. Konser kedua nantinya, dana yang terkumpul akan disalurkan untuk mendukung strategi penta helix Shelter Tangguh Covid-19. Serta shelter Kalurahan atau Desa di Sleman dan Bantul.

Bagi Uut, munculnya shelter-shelter saat ini adalah respon karena penularan Covid-19 di DIJ masih tinggi. Mengingat, kemampuan rumah sakit untuk menambah kapasitas, tidak sebanding dengan peningkatan jumlah pasien positif Covid-19. “Aspirasi masyarakat telah memunculkan usulan pembentukan Shelter Tangguh di tingkat kabupaten yang mampu merawat pasien Covid-19 bergejala ringan-sedang,” lanjutnya.

Usulan tersebut, juga disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten. Dukungan dari pemerintah diwujudkan dengan bentuk komitmen pendanaan Shelter Tangguh melalui refocusing APBD Kabupaten Bantul. Di tingkat Desa, para lurah dan masyarakat membangun Shelter Desa, sebagai lokasi isolasi mandiri bagi pasien tanpa gejala, dengan memanfaatkan bangunan yang ada di Desa.”Penanggulangan Covid-19 di Bantul, adalah contoh sinergi penta helix dalam menghadapi pandemi yang merupakan public enemy,” beber Uut. (pra)

Boks