RADAR JOGJA – Dr Edhy Sutanta, ST, M.Kom, baru saja mendapatkan amanah yang tidak mudah. Dia baru saja dilantik sebagai rektor baru IST AKPRIND Jogjakarta. Kebiasaanya sejak kecil membuatnya berani mengambil tantangan tersebut.

Dr Edhy, begitu ia akrab disapa, menyatakan siap mengemban amanah tersebut. Namun, diakui ia sempat ragu dan agak takut karena amanah itu tidak mudah. Apalagi mengelola Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti ini yang serba tidak pasti.

Pria kelahiran Sentolo, Kulonprogo itu akan menjabat sebagai rektor IST AKPRIND hingga lima tahun kedepan. Tantangan yang harus dihadapi pun tidak mudah. Apalagi kondisi pandemi Covid-19 belum juga reda.

Hal itu sangat mempengaruhi situasi perkuliahan di kampus tersebut. Juga di kampus-kampus lain. Kendati demikian, Dr Edhy tidak mau menyerah pada keadaan. Ia dan timnya sudah menyiapkan berbagai program khusus agar tetap bisa mendapatkan mahasiswa baru dengan jumlah yang cukup besar pada penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2021-22 nanti.

Selain itu, ia juga bertekad terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh mahasiswa IST AKPRIND sekarang ini. Tak lupa, ia juga memiliki harapan khusus terhadap perkembangan institusi pendidikan tersebut di masa mendatang. Salah satunya ia berharap IST AKPRIND menambah lebih banyak lagi doktor yang kompeten. “Kedepan semoga semakin banyak lagi doktor yang kami miliki,” kata Dr Edhy dalam perbincangan santai dengan Radar Jogja di ruangannya Jumat (19/2)..

Proses panjang dilalui Dr Edhy sebelum menempati posisi seperti sekarang ini. Sejak kecil, pria kelahiran 1972 itu terbiasa hidup dengan disiplin dan mandiri. Bahkan, ia mengisahkan bagaimana orang tuanya terutama sang ayah yang sangat keras dalam mendidik anak-anaknya.

Terutama soal kemandirian dan kejujuran. Dua hal itu terus diajarkan oleh sang ayah sejak kecil. Dikisahkan Dr Edhy, bahkan ia harus beternak ayam untuk membantu membiayai kuliahnya di IST AKPRIND ketika S1. “Sebenarnya ayah saya itu mampu untuk membiayai, tapi tampaknya saya dilatih betul untuk mandiri,” ungkapnya.

Dahulu Dr Edhy tentu merasa bingung dengan pendidikan yang diterapkan oleh kedua orang tuanya terutama sang ayah. Namun, belakangan ia memahami dampak positif dari pendidikan yang cenderung keras itu. “Sampai sekarang saya pegang itu kejujuran dan kedisiplinan,” tegasnya.

Ada cerita menarik ketika Dr Edhy Sutanta lulus dari bangku SMA dan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Ketika itu Edhy muda sangat ingin berkuliah di perguruan tinggi negeri. Semangatnya pun sangat menggebu-gebu kala itu. Ia bersama dengan enam teman lain dari SMA sama-sama mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta. Namun, apa daya, enam teman-teman Edhy tersebut diterima di perguruan tinggi negeri, sementara ia tidak diterima.

Padahal dikisahkan Dr Edhy, dahulu ia yang membeli koran yang membuat pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri tersebut. “Waktu itu ya saya nyesek sekali, bahkan koran yang saya beli sempat saya jual lagi ke tukang koran,” katanya kemudian tertawa.

Kendati demikian, Dr Edhy tak pernah menyesali jalan hidupnya dan jalur pendidikan yang ia jalani selama ini. Menurut dia, jika dahulu diterima di perguruan tinggi negeri, ia tak akan kuliah di IST AKPRIND dan jalan hidupnya tidak seperti sekarang ini.

Bahkan kini diamanahi menjadi rektor di almamaternya. Sesuatu yang tidak bisa dicapai rekan-rekannya. Kebanggaan tersendiri buatnya. (kur/pra)

Boks