RADAR JOGJA – Rini Hapsari kembali berkiprah dalam dunia politik. Kini menjadi anggota DPRD Kota Jogja. Pilihannya di politik tak mencari materi. Dia bahkan berani mengundurkan diri sebagai guru PNS. Medio 2011 menjadi pengalaman tak terlupakan baginya.

Pada 8 Januari 2021 lalu Rini resmi kembali duduk menjadi legislator. Kini dia menjadi anggota DPRD Kota Jogja. Dia secara resmi dilantik melalui pergantian antar waktu sebagai anggota DPRD Kota Jogja untuk mengisi kekosongan kursi dari Samsul Hadi yang meninggal dunia.

Selain menjabat sebagai anggota DPRD Kota Jogja, Rini juga menerima sampur kepemimpinan sebagai Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kota Jogja sampai periode berakhir 2023. DPP Partai Demokrat menunjuk Rini untuk meneruskan kepemimpinan almarhum Samsul Hadi, periode 2018-2023. “Dalam SK penunjukan dari DPP Partai Demokrat menyebutkan sampai periode lima tahunan berakhir pada 2023,” ujarnya kepada Radar Jogja kemarin.

Dia pun kembali menjadi wakil rakyat. Sebelumnya pada periode 2009-2014 Rini tercatat menjadi anggota DPRD Sleman. Saat itu nyali srikandi Demokrat itu diuji. Dirinya kejatuhan tugas naik mimbar parlemen guna membacakan sikap Fraksi Partai Demokrat Sleman terkait Rancangan Undang Undang Keistimewaan DIJ. Ketika itu Partai Demokrat menjadi sorotan pengunjuk rasa karena perbedaan pandangan tentang keistimewaan DIJ. “Yang perlu diluruskan, kami tidak memasalahkan keistimewaan, kami juga setuju dengan keistimewaan. Namun persepsi publik terlanjur miring. Di tengah situasi itu saya harus membacakan sikap fraksi kami, dan saya mengetahui konsekuensinya,” kenang ibu tiga anak itu.

Usai satu periode duduk di DPRD Sleman, Rini kemudian memilih untuk tidak mencalonkan diri sebagai caleg, namun tetap aktif dalam kepengurusan Partai. Baru di pemilu 2019, Rini merasa terpanggil untuk kembali maju sebagai caleg DPRD Kota Jogja, namun gagal karena hanya meraih suara terbanyak kedua di bawah Samsul Hadi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kota Jogja.

Karena gagal meraih suara terbanyak, Rini pun lebih fokus mengurus bisnis usahanya membantu suami, Priyo Sunggono, yang merupakan seorang pengusaha kayu. Sang suami jugalah yang membuatnya tertarik terjun ke dunia politik. “Mengapa saya terjun ke politik? awalnya menyambut ajakan bapak (suami). Kebetulan bapak saat itu sudah masuk di Partai Demokrat dulu,” terang Rini. Dia kemudian menjadi Wakil Bendahara Pemenangan Pasangan Calon Presiden Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla,di DIJ saat maju dalam Pilpres 2004.

Padahal dia mengaku tidak memiliki background politik. Rini awalnya adalah seorang guru dengan status PNS. Wanita yang berulang tahun tiap 9 Desember itu mengaku hampir sepuluh tahun bekerja sebagai PNS. Hingga akhirnya memutuskan mengundurkan diri.

Berbekal ijazah tamatan strata satu IKIP Negeri Jogjakarta, Rini kemudian mendaftarkan sebagai CPNS pada 1986. Pun, akhirnya ia sukses diterima sebagai PNS sebagai pengajar di sekolahan yang saat itu dengan nama SMEA Bopkri Jogjakarta. Namun sebagai seorang ibu, ternyata tidak mudah menjalani kerja mengajar yang saat itu ditugaskan di jam sore hari. “Saat itu, saya juga harus mengurus anak yang masih kecil, sempat mengajukan mengajar di pagi hari, yang kemudian saya dipindah ke sekolahan lain yang bisa mengajar di waktu pagi,” terang alumnus IKIP Negeri Angkatan 1981, itu.

Rini pun bekerja di tempat barunya, di era saat itu bernama SMEA I di Depok, Sleman. Di tempat barunya itu Rini pun menjalani aktivitas kerja sebagai guru dalam waktu cukup lama, hingga kemudian ia mengambil keputusan besar dalam perjalanan karir hidup yaitu mengundurkan diri bekerja di sekolahan tersebut dan mundur dari status PNS, pada 1996. Saat itu, Rini memilih bekerja mendampingi sang suami, Priyo Sunggono, seorang pengusaha kayu. (*/pra)

Boks