RADAR JOGJA – Mas Bekel Anom Suraksosihono atau yang akrab disapa Mas Asih memiliki tugas berat. Ia melanjutkan tugas ayahnya, almarhum Mbah Maridjan, menjadi Juru Kunci Gunung Merapi. Namun, sehari-hari Mas Asih juga bekerja seperti kebanyakan orang kantoran. Ia menjadi karyawan di Universitas Islam Indonesia (UII) sejak masih muda. Mas Asih pun bercerita banyak mengenai dua pekerjaan yang dijalani itu.

HERY KURNIAWAN, Sleman, Radar Jogja

Sehari-hari Mas Asih bertugas sebagai karyawan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Ia biasanya mengurusi urusan kemahasiswaan di fakultas ini. Mulai registrasi, nilai dan segala urusan yang lain. “Monggo Mas, sejak pandemi ini kampus memang sepi, tapi bukan berarti pekerjaan juga berkurang,” kata Mas Asih sembari mempersilakan Radar Jogja duduk.

Mas Asih sangat menghargai betul pekerjaannya tersebut. Maka dari itu ia berusaha sebisa mungkin memisahkan mana yang urusan dengan pekerjaannya di kampus, dan mana yang urusannya dengan juru kunci Merapi.

Menjadi juru kunci Merapi, apalagi meneruskan tugas sang ayah diakui Mas Asih sangat berat. Sejak menjadi juru kunci, ia harus lebih berhati-hati dalam bersikap. Bahkan untuk bergaul dengan masyarakat, juga harus memberikan contoh yang baik. “Ya karena tanggung jawab juru kunci itu kan masyarakat banyak, yang terkait dengan Merapi,”  ujarnya.

Banyak masyarakat yang menilai bahwa pekerjaan sebagai juru kunci itu identik dengan klenik. Namun Mas Asih tak setuju dengan itu. Menurut dia, selama ini tugas yang ia jalankan adalah menjaga nilai-nilai tradisi dan budaya yang ada di Merapi. Selain itu, ia juga bertugas untuk menjaga kelestarian alam di sekitaran gunung api ini.

Gunung Merapi dilabeli status siaga atau level tiga oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta sejak tiga pekan lalu (5/11). Dengan status seperti itu, Mas Asih menjadi sedikit lebih sibuk dari biasanya.

Ia mengaku rutin berkomunikasi dengan BPPTKG terkait perkembangan terkini Gunung Merapi. Disebutkan Mas Asih, terkadang sebelum ia bertanya pun, BPPTKG sudah memberikan info terbaru. “Iya, komunikasi terus sama Mbak Hanik,”  jelasnya. Yang dimaksud Mbak Hanik adalah Hanik Humaida, kepala BPPTKG.

Mas Asih yang sejak kecil hidup di lereng Merapi pernah mengalami saat gunung api teraktif di dunia itu beberapa kali erupsi. Termasuk ketika erupsi tahun 2010, di mana ayahnya ikut meninggal dunia. Erupsi tahun itu, menurut Mas Asih, menjadi erupsi yang paling mengerikan.

Dikisahkan Mas Asih, selama tiga hari berturut-turut, rumah-rumah yang ada di lereng Gunung Merapi seakan digoyang-goyang. Banyak kaca yang pecah. Selain itu banyak juga material yang menimpa rumah-rumah warga.

Pada erupsi 2010 juga timbul banyak korban jiwa. Tak kurang dari 277 orang meninggal dalam erupsi yang menurut para ahli geologi terbesar dalam 130 tahun terakhir. Kendati demikian, menurut Mas Asih, erupsi itu juga memberikan banyak pelajaran untuk masyarakat. Terutama soal pentingnya mitigasi bencana. “Sekarang ini masyarakat sudah jauh lebih mengerti,” katanya.

Beberapa ahli gunung api, termasuk BPPTKG, memperkirakan potensi erupsi Gunung Merapi tahun ini tidak sebesar erupsi tahun 2010. Mas Asih pun berharap demikian. “Ya, kalau bisa malah jangan erupsi, agar kehidupan bisa berjalan normal,” tandas pria berusia 54 tahun ini. (laz)

Boks