RADAR JOGJA – Sosok Yusuf Bernadion Marcelino memang bukan seorang tokoh yang terkenal. Pria berusia 30 tahun ini tadinya berprofesi sebagai chef. Sejak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melanda, dia dirumahkan.

Namun Yusuf justru tak berpangku tangan. Dia memilih untuk bergabung dengan gerakan Rakyat Bantu Rakyat. Kemampuannya sebagai juru masak dia salurkan agar bisa membantu sesama.

“Dari yang biasanya sibuk sekarang hanya masuk seminggu sekali. Merasa tidak produktif banget, lalu buka twitter dan ada poster dibutuhkan relawan masak. Akhirnya lanjut sampai sekarang,” jelasnya ditemui di dapur umum Rakyat Bantu Rakyat di Umbulharjo Kota Jogja, Jumat (23/10).

Di sinilah rasa sosial Yusuf diuji. Dari yang biasanya mendapat gaji, kini bekerja atas dasar kepedulian. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tak mempermasalahkan. Bahkan dukungan juga datang dari sang istri.

Yusuf justru merasa bahagia bisa membantu sesama yang membutuhkan. Baginya nominal uang bukanlah segalanya. Rasa kemanusiaan jauh lebih dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Bisa membantu yang saling membutuhkan, rasanya lebih plong DNA enak. Meski capek tapi ada rasa senang karena bisa saling membantu,” katanya.

Menilisik profil Yusuf, dia telah menggeluti profesi chef sejak 2016. Awalnya dia bekerja di dunia pelayaran. Lalu memutuskan untuk fokus pada dunia perhotelan. Lebih spesifik lagi pada spesialisasi memasak.

Dipilihnya profesi ini berawal dari pesan dokter yang memeriksa ibunya. Yusuf diminta untuk tak asal dalam memberikan makan kepada ibunya.

“Dokter menganjurkan agar ibu tidak asal makannya. Lalu kepikiran untuk fokus di kemampuan memasak saja. Agar bisa menyajikan makanan yang sehat untuk ibu,” ujarnya.

Pasca dirumahkan, Yusuf dan istri menjajal usaha rumahan di bidang kuliner. Usaha yang saat ini digeluti adalah rice bowl. Sistem penjualannya adalah pre order atau pesan terlebih dahulu.

Sayangnya usaha ini tak rutin setiap hari. Apabila tak ada pesanan, maka Yusuf dan istri tak bekerja. Upaya promosi berlangsung getol melalui sosial media. 

“Untuk kebutuhan sehari-hari apa saja, modalnya keahlian masak. Sablon juga bisa kalau diminta bantu. Selama ini PSK alias pekerja serabutan komersial,” katanya. (dwi/tif)

Boks