Menjadi seorang juru bicara (jubir) penanganan Covid-19 tentu bukanlah persoalan mudah. Banyak proses dan kendala yang dihadapi saat melakukan tugas. Terlebih harus menyampaikan informasi yang akurat dan cepat untuk masyarakat. Seperti halnya yang dialami Jubir Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

“Informasi yang diberikan harus cepat, akurat, dan sesuai dengan prosedur dan pedoman yang sudah ditetapkan,” begitu kata Berty  Murtiningsih saat dihubungi Radar Jogja kemarin (19/7).

Berty, sapaan akrabnya, menyampaikan menjadi seorang jubir Covid-19 tidaklah mudah. Banyak suka duka yang dialami saat harus menyampaikan hasil atau perkembangan Covid-19 di DIJ. “Suka jika tidak ada banyak kasus, kemudian yang sembuh banyak. Dulu DIJ juga pernah kasusnya nol, yang sembuh banyak, itu tentu sangat melegakan. Dan menyampaikannya juga senang, tidak ada beban,” sambungnya.

Selain itu, masyarakat yang selalu menanti-nanti berita atau terkait perkembangan Covid-19 juga menjadi salah satu semangat buatnya. “Terlebih semangat untuk tim Gugus Tugas untuk terus semangat dalam melakukan tracing. Artinya, masyarakat peduli dengan bahaya Covid-19,” jelas dia.

Berbeda jika harus menyampaikan atau mengumumkan kasus yang banyak. “Itu sedih. Dulu pernah, kalau tidak salah menyampaikan kasus dalam sehari bisa sampai 12 kasus,” tuturnya.

Duka yang lain ketika melihat masyarakat yang tidak patuh dengan protokol kesehatan Covid-19. “Di dalam benak saya itu akan ada berapa kasus lagi besok. Itu yang membuat saya perihatin,” lanjutnya.

Dikatakan, menjadi seorang jubir Covid-19 juga tidak ada liburnya. Karena setiap hari harus stand by dan memantau perkembangan Covid-19. Berty menjelaskan, setiap pagi dia biasanya mendapatkan informasi dari laboratorium-laboratorium. Setelah itu dia akan memberikan informasi tersebut ke kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

“Nanti pukul 12.00 siang itu waktunya cross-check ke pusat. Akan kami cocokkan terkait jumlah dan sebagainya. Kemudian pukul 14.00 saya harus membuat laporan, juga membuat narasi dan laporan cepat untuk humas. Baru pukul 16.00 bisa di-share informasinya,” papar dia.

Dia dan timnya sedapat mungkin menyampaikan informasi yang real dan tepat. Sebab jika keliru dalam menyampaikan data atau informasi,  akan berdampak pada keresahan masyarakat dan juga berujung kesalahpahaman.

Saat melakukan tracing juga bukan perkara mudah. Sehingga terkadang informasi yang diberikan tidak memuaskan. Kadang kala dia hanya bisa menyampaikan bahwa kasus sedang atau masih dalam penelusuran. “Karena memang kenyataannya seperti itu. Tracing membutuh waktu, tetapi informasi harus segera disampaikan,” ucapnya.

Ketika tracing, pasien terkadang tidak jujur. Hal itu yang menjadikan kendala. Apalagi harus men-tracing para OTG (orang tanpa gejala). Berbeda dengan PDP (pasien dalam pengawasan) yang sudah jelas mereka berada di rumah sakit.

Dia berharap masyarakat masih tetap dan terus peduli dengan protokol kesehatan, meski aktivitas terus berangsur normal. Pasalnya, kenormalan baru bukan berarti meninggalkan atau melepaskan protokol kesehatan.

“Kita memang tidak bisa harus mengurung diri terus. Wisata harus tetap jalan, perekonomian, dan sebagainya juga harus jalan. Makanya di situasi tanggap darurat ketiga ini kami siapkan segala sesuatunya terkait protokol dan lain-lain. Kemudian kami ujicobakan,” ungkapnya.

Berty menambahkan masyarakat mau tidak mau harus bisa beradaptasi dan mengikuti kenormalan baru dengan segala macam protokol kesehatan. “Ayo masyarakat kita ikuti prosedur, hadur disiplin. Aktivitas boleh biasa, tetapi protokol tetap harus ditegakkan seperti cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, dan sebagainnya. Karena dari penelitian kami, jika patuh dengan protokol, penularan itu bisa ditekan,”  ujarnya. (laz)

Boks