RADAR JOGJA – Kawasan Malioboro selalu menyimpan nostalgia dan romantisme tersendiri. Tak hanya bangunan, ada pula ragam kuliner yang menghiasi kawasan ini sejak lama. Salah satunya adalah toko Djoen Lama. Terletak di utara gapura Kampung Ketandan, spesialis roti dan kue ini sudah eksis sejak 1935.

Tak sulit untuk mencari toko ini, tinggal melihat papan hijau bertuliskan Bakery and Shop Djoen Lama. Mendatangi lokasi Djoen Lama seakan diajak melihat Jogjakarta tempo dulu. Bangunan masih bercirikan arsitektur lawas. Langit-langit berjarak cukup tinggi dari lantai. Rak-rak lawas berjajar di sisi kanan dan kiri.

Toko roti Djoen Lama yang berada di kawasan Malioboro. (DWI AGUS/RADARJOGJA)

“Tidak tahu pastinya kapan (berdirinya) tidak sempat tanya, tapi sekitar 1930an. Lalu saya jadi mantu tahun 1959. Itu sudah jualan roti,” jelas sang pemilik Djoen Lama, Hadinah, ditemui di tokonya, Jumat sore (17/7).

Perempuan berusia 84 tahun ini adalah penerus utama Roti Djoen. Warisan ini tetap dia pertahankan bersama salah seorang anak perempuannya Widowati.

Beragam produk awal tetap bertahan hingga saat ini. Sebut saja roti tawar, roti sobek aneka rasa, roti sus beraneka rasa hingga bagelen. Pelanggannya tak hanya dari Jogjakarta, ada pula pembeli asal Magelang, Solo bahkan Jakarta.

“Dulu banyak yang dari luar kota sekarang tidak. Sekarang paling cuma dari Jakarta, Magelang dan Solo. Biasanya beli roti kering untuk oleh-oleh,” katanya.

Bertahan dengan ciri tentu bukan tanpa konsekuensi. Satu persatu pelanggannya terus berkurang. Ada beragam penyebabnya. Namun tak bisa dipungkiri berputarnya jaman turut menggerus selera pecinta kuliner roti.

“Pelanggan lama ada yang datang tapi yang tua-tua sudah engga kelihatan. Yang muda ini tidak tahu siapa, mungkin sudah anak sama cucunya,” ujar generasi kedua Djoen Lama ini.

Hadinah, 84, generasi kedua penerus Roti Djoen Lama. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Hadinah memilih untuk tetap bertahan dengan tetap mempertahankan resep asli Djoen Lama. Baginya Djoen Lama bukan sekadar bisnis roti semata. Dimatanya ada sebuah semangat dalam setiap roti racikan rotinya.

Begitupula harga setiap roti yang tak banyak berubah. Salah satunya adalah roti tawar. Dulu untuk roti tawar ukuran besar seharga Rp 7 ribu, kini menjadi Rp 15 ribu. Bahkan harga terakhir ini sudah bertahan selama 10 tahun.

“(Resep) Masih sama, terus rotinya yang kuno gitu. Tapi harus dipertahankan. Anak sempat bilang tutup saja, tapi saya masih belum mau. Inginnya lanjut terus, nerusin nama Djoen ini,” keukeuhnya.

Perempuan paro baya inipun menceritakan sejarah Djoen Lama. Usut punya usut nama ini ternyata bukanlah warisan keluarga. Sosok dibalik nama ini adalah Tan Po Djoen. Dia adalah pemilik pertama bangunan yang kini menjadi toko dan dapur Djoen Lama.

Selang waktu berganti, mertua Hadinah akhirnya membeli bangunan tersebut. Tak sekadar itu, transaksi ini juga meliputi beragam peralatan pembuat roti. Lalu disepakatilah penamaan unit usaha tetap mengusung nama Djoen.

“Iya itu dulu yang punya rumah ini sebelum dibeli mertua sak oven pembuat rotinya. Dia orang Temanggung. Dulunya juga pembuat roti,” ceritanya.

Generasi kedua penerus Djoen Lama ini lalu bercerita masa kejayaan tepatnya era Presiden Soeharto. Kala itu dia memiliki pegawai cukup banyak. Hampir setiap hari produksi roti dalam jumlah banyak. Tak hanya untuk kebutuhan toko tapi juga diedarkan hingga pedesaan.

Sayangnya semua itu kini tinggal kenangan manis. Satu persatu pegawainya mulai berkurang hingga tersisa tiga orang. Imbasnya produksi roti juga tak bisa maksimal. Disamping memang berkurangnya jumlah pelanggan setia.

Tentang berhentinya penjualan roti keliling ada alasan tersendiri. Ternyata Hadinah kerap merugi karena banyak pedagang yang menunggak pembayaran. Adapula yang pindah tanpa memberi kabar.

“Soalnya banyak yang enggak bayar. Jadi sistemnya ambil dulu bayarnya nanti. Tapi ternyata malah itu, tidak dibayar. Jadi sekarang enggak keliling lagi sejak tahun 2000,” kenangnya.

Radar Jogja sempat melihat dapur pembuatan roti. Cara mengolah masih tergolong tradisional. Beragam alat tua terlihat di beberapa sudut ruangan. Salah satunya adalah oven batu yang terletak di belakang rumah. 

Kini diusianya yang tak lagi muda, Hadinah berharap ada penerus dari bisnisnya. Berharap warisan Djoen Lama tetap bertahan hingga masa kedepannya. Walau dia juga menyadari dunia persaingan kuliner roti semakin ketat. 

“Akan diturunkan ke anak, tapi belum tahu juga. Katanya mau dikembangkan, tapi ingin saya resep kuno tetap dijaga,” katanya.

Sang penerus Widowati mengaku ingin meneruskan warisan ibunya. Hanya saja dia sedang mencari konsep yang tepat. Salah satunya mengubah wajah Djoen Lama layaknya sebuah cafe.

Cara ini untuk masuk pangsa pasar yang baru. Diakui olehnya tren pecinta kuliner roti terus berubah. Apabila tak mampu mengikuti, maka berimbas pada eksistensi Djoen Lama. 

“Pinginnya seperti cafe itu ada mejanya. Pelanggan tentu terus berganti. Ini sekarang saja yang datang sudah suruhan, entah anak, cucu atau apanya pelanggan lama,” katanya. 

Teknik tradisional juga menjadi ciri khas dari toko roti ini. Namun inipula yang menjadi kendala dalam produksi harian. Untuk satu kali pemanggangan harus dalam jumlah banyak. Padahal tidak semua roti harus diproduksi dalam jumlah banyak.

“Sehari produksi untuk roti tawar besar sampai 16, kalau kecil 7, tawar wijen 3. Itu saja tidak mesti habis. Ovennya masih konvesional tidak bisa bikin sedikit. Kalau bikin sedikit malah gosong rotinya,” ujarnya. (dwi/tif)

Boks