RADAR JOGJA – Penyegelan Keraton Agung Sejagat (KAS) oleh Polda Jawa Tengah disambut gembira warga Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo. Ini karena aktivitas ritual yang diadakan kelompok itu sangat mengganggu dan dinilai tidak sejalan dengan budaya di desa tersebut.

Penggunaan aneka sesaji yang menimbulkan bau menyengat, menjadikan suasana seputar tempat itu terasa mistis. Padahal selama ini warga tidak pernah menggunakan sesajian untuk kegiatan keagamaan.
“Kalau sudah ditutup seperti sekarang, pasti tidak ada orang gemrudag-gemrudug (datang silih berganti, Red). Kalau ada, ya orang biasa yang penasaran dengan tempat ini,” kata Sumarmi, 54, yang rumahnya berhimpitan dengan bangunan tempat takhta raja KAS, Rabu  (15/1).
Dia mengaku bersyukur keberadaan kelompok itu tidak menganggu akidah warga sekitar. Karena dari sekian banyak anggota, warga yang dari Pogung hanya empat orang saja. Dia sempat takut jika keberadaan kelompok itu dibiarkan akan mengganggu masyarakat dan menjadikan hilang akidah.
“Terus terang saya sempat marah dengan aktivitas mereka. Seakan mereka itu menjual akidah,” tambah Sumarmi. Satu hal yang amat menggangu dia dan warga sekitar adalah batu besar yang ditempatkan dalam sebentuk pendapa.
Kedatangan batu itu pada sekitar Oktober 2019 membuat masyarakat sekitar bertanya-tanya. Apalagi saat datang, batu itu dibungkus dengan kain mori. “Setelah datang langsung di seputar batu dilengkapi aneka sesaji. Ini membuat anak-anak takut dan mereka tidak mau mengaji karena takut,” katanya.
Dengan penyegelan itu, Sumarmi juga menanyakan apakah batu yang kini telah terbentuk mirip prasasti itu akan tetap ada di tempat itu atau tidak. Jika masih ada dan tetap akan menjadi titik ritual, dia dengan tegas akan melakukan penolakan. “Kalau akan tetap jadi tempat ritual, sebaiknya dipindah saja dari desa kami,” tandas Sumarmi.
Hanya saja dia memiliki sedikit harapan. Lokasi kerajaan yang berada di atas tanah milik tetangganya, Cikmawan, itu bisa dipergunakan untuk hal yang lebih positif. Dia berharap Cikmawan selaku pemilik tempat benar-benar merealisasikan seperti perizinan awal.
“Dulu disebutkan kalau tempat ini untuk Taman Kebudayaan Jawa Tengah. Kalau memang seperti itu, kami akan sangat mendukung karena bisa mengangkat nama desa. Sekalian saja dikelola profesional, sehingga bisa mendapatkan hasil. Kalau tidak mampu, ya datangkan investor, apalagi ada saudara Cikmawan yang jadi pengusaha,” ungkap Sumarmi.
Lebih jauh diungkapkan, penataan dari tempat terbuka yang ada di KAS itu sudah bisa dimanfaatkan untuk wisata. Apalagi dari pihak pengelola keraton diungkapkan di kawasan itu memang akan dilengkapi kulier, tempat bermain anak dan sebagainya. Luas lahan di situ sekitar 4 hektare. “Tapi kalau tidak diperbolehkan, ya tidak apa-apa. Tapi syaratnya batu yang ada ditempat itu harus dipindah,” tegas Sumarmi.
Sementara itu, salah seorang penggawa Keraton Agung Sejagat, Puji Widodo mengaku masih percaya dengan apa yang disampaikan raja dan ratu keratonnya. Menurutnya, ada tujuan mulia yang diemban oleh KAS. “Di sini ada misi mulia. Untuk mensejahterakan dan memulihkan kesejahteraan orang sedunia,” kata Puji.
Orang-orang yang didudukkan sebagai pemimpin dalam keraton itu juga tidak sembarangan. Mereka memiliki trah dan punya hak untuk memegang kekuasaan. “Yang berkuasa itu tidak sembarangan. Ada garis keturunan yang jelas,” tuturnya.
Dia mengibaratkan seseorang yang memiliki mobil, pasti akan memiliki bukti kendaraan kendaraan bermotor (BPKB). Kepemilikan BPKB itu akan membuat orang tersebut bebas dan leluasa untuk menggunakannya. “Ya, kalau semua sudah jelas dia pemiliknya siapa, ya tentu semuanya juga jelas,” ungkapnya.
Satu hal prinsip yang tetap dipegangnya adalah menanam kelapa. Dalam pandangannya, orang yang menanam akan memanen hasilnya. Pohon kelapa yang memiliki waktu panjang untuk bisa panen, memang tidak menutup kemungkinan sang penanam akan bisa memanen.
“Di sinilah kesabaran itu diuji. Kita harus percaya kalaupun kita tidak menikmati, anak dan cucu kitalah yang akan menikmati hasil atau memanennya,” tambahnya.
Dalam hal ini, kesejahteraan yang diupayakan oleh keraton tidak hanya akan dinikmati oleh anggotanya saja, tetapi oleh warga seluruh dunia. “Syaratnya kita semua harus sumeleh dan taat pada aturan beliaunya. Saya meyakini ini akan berhasil,” kata lelaki asal Kelurahan Borokulon, Banyuurip, Purworejo, ini. (udi/laz/by)

Boks