RADAR JOGJA – Memanfaatkan libur Natal dan tahun baru (Nataru), Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta memberikan ruang pertunjukan yang bisa dinikmati para wisatawan di Jogja. Pertunjukan berupa pagelaran wayang kulit di pelataran Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Kamis malam (26/12).

Ratusan orang memadati pelataran Monumen SO 1 Maret di kawasan Titik Nol untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit itu. Dua dalang beraksi dalam pertunjukan ini, Ki Utoro Widayanto dan dalang cilik Pandhanalas Damar Wicaksono.

Acara dibuka dengan sambutan Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Drs Kadri Renggono MSi, dilanjutkan penyerahan wayang kepada para dalang yang akan beraksi malam itu. Hadir pula Kepala Bidang Adat, Seni, dan Tradisi Disbud Kota Yogyakarta Dra Mukti Wulandari MSi, dan Kepala Seksi Adat, dan Tradisi Tri Sotya Atmi SSos.

Pagelaran wayang kulit ini bertujuan untuk nguri-uri kabudayan di Kota Jogja. UNESCO pada tahun 2003 telah menetapkan pertunjukan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya yang tak ternilai dalam seni berkultur.

Menurut Kadri, wayang kulit memiliki filosofi yang mengakar kuat. Bukan hanya cerminan dari budaya Jawa, tetapi juga mencerminkan filosofi yang mendasar terhadap kehidupan. Oleh karena itu, perlu dijaga eksistensinya.

“Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mengadakan festival dalang anak dan remaja setiap tahun. Kegiatan malam ini menjadi salah satu wujud apresiasinya,” papar Kadri.

Kepala Seksi Adat, dan Tradisi Tri Sotya Atmi memaparkan, program kegiatan akhir tahun ini merupakan program kerja Pemkot Jogja. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta memilih pagelaran wayang sebagai apresiasi untuk pada dalang, baik dalang muda maupun dalang yang sudah senior.

“Harapannya banyak masyarakat, terutama wisatawan baik dari luar maupun dari Jogja sendiri dapat menyaksikan pagelaran wayang ini. Kami terus menggali budaya-budaya lokal yang ada di Jogjakarta untuk kemudian ditampilkan semacam ini,” ucap Sotya saat ditemui di tengah kerumunan penonton.

Penonton yang hadir pun dari berbagai macam kalangan. Salah seorang penonton, Yanuarika Wulan Rahmadhani, mahasiswa yang datang dari luar Jogjakarta mengaku, baru sekali menonton wayang kulit yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini.

“Semoga Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bisa lebih sering menggelar kegiatan semacam ini, lebih-lebih yang tidak berbayar seperti ini. Karena pasti lebih banyak pengunjung yang akan datang,” tutur mahasiswi asal Cilacap ini.
Dalam kegiatan yang menggunakan dana keistimewaan

(Danais) 2019 ini, dalang Ki Utoro Widayanto membawakan lakon Sinta Suci. Itu menceritakan Sinta yang membuktikan kesuciannya pada sang suami, Rama, dengan membakar diri. Sedangkan dalang cilik Pandhanalas Damar Wicaksono membawakan lakon Sekar Dewa Retna, yang menceritakan perebutan Bunga Pusaka Sekar Dewa Retna. (*/mg1/laz)

Boks