RADAR JOGJA – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat rancang bangun Automatic Traffic Sign Detector (ATSD) berbasis sensor Active Radio Frequency Identification (RFID). Ini untuk meminimalkan pelanggaran saat berkendara, serta menyadarkan para pengguna jalan akan pentingnya rambu lalu lintas.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

Mereka adalah Hilmi Musthafa Albasyir dan Silvia Ramadhani dari Prodi Pendidikan Teknik Elektronika. Serta Ryan Julianto dari Prodi Pendidikan Teknik Mekatronika. Alasan dibuatnya ATSD berbasis sensor, karena kondisi lalu lintas di Indonesia, terutama di kota-kota besar, saat ini jauh dari kata tertib.
Masih banyak pengguna jalan yang melanggar tata tertib lalu lintas yang ada. Kurangnya kesadaran masyarakat membuat kebingungan untuk menangani ketertiban dalam berlalu lintas. Salah satu yang kerap terjadi yaitu melanggar rambu-rambu lalu lintas.
Misalnya parkir di bawah rambu dilarang parkir, serta berhenti di depan tanda larangan berhenti masih sering terjadi. Hal ini membuat pelanggaran terhadap rambu lalu lintas menempati urutan ketiga pada 10 jenis pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi.
Oleh karena itu, ATSD berfungsi untuk mengurangi pelanggaran rambu lalu lintas akibat rambu yang tertutup pohon atau bendera. Selain itu, ATSD dapat memberi peringatan bagi pengendara mengenai rambu lalu lintas yang tertutup oleh pepohonan, baliho maupun vandalisme. Serta mengedukasi masyarakat dengan menampilkan pada speedometer kendaraan. “Harapannya ATSD dapat menjadi solusi untuk mengurangi pelanggaran rambu lalu lintas,” ujar Hilmi Selasa (17/12).
Ryan menambahkan, untuk bahan dan alat yang digunakan untuk membuat ATSD berupa laptop atau komputer, solder, internet, acrylic dan 3D printing. Penggunaan bahan berupa acrylic dan 3D printing dipilih karena tahan terhadap panas dan hujan, sehingga tidak mudah rusak serta mudah dalam pembentukan desain.
Selain itu, bahan dan alat lainnya yang digunakan adalah NRF, Arduino, Liquid Crystal Display Thin Film Transistor (LCD TFT), dan Global Positioning System (GPS) sensor. Menggunakan sensor active RFID, membuar ATSD yang dirancang bisa difungsikan pada siang dan malam hari.
Dari hasil uji coba, ATSD menunjukkan jarak efektif yang digunakan adalah tujuh meter sebelum rambu dan tujuh meter sesudah rambu. Oleh karena itu, pada jarak kurang lebih enam meter, rambu akan mulai terdeteksi layar pada LCD. “Dengan bergantinya LCD yang akan menampilkan rambu yang terdeteksi,” jelas Ryan.
Pada jarak tiga meter sebelum rambu, tambah Ryan, LCD masih akan menampilkan rambu yang terdeteksi. Hal ini dikarenakan pada jarak tersebut masih merupakan jarak efektif yang diatur oleh transmitter ATSD. Sama halnya dengan jarak nol meter atau tepat pada rambu yang terdeteksi, maupun setelah rambu. Rambu akan selalu terdeteksi pada kendaraan yang terpasang scanner ATSD saat melewati rambu dalam jarak efektif yang diatur.
Oleh kareja itu, ketika kendaraan yang terpasang scanner ATSD telah melewati rambu sejauh 11 meter, maka scanner ATSD tidak akan mendeteksi adanya rambu. “Dan akan berhenti menampilkan rambu,” tandas Ryan. (laz)

Boks