SITI Fatimah menyadari kodratnya sebagai kaum Hawa. Mengurus rumah tangga adalah tugas utamanya. Namun, keinginan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat tak lantas membuat Fatimah, begitu sapaan akrabnya, lupa pada tugas utamanya sebagai seorang istri, dan ibu bagi ketiga anaknya.

Membagi waktu secara fleksibel. Itulah kunci keberhasilannya sebagai pamong desa, sekaligus ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang kontraktor. Umumnya ibu-ibu, menyelesaikan urusan rumah tangga menjadi rutinitasnya setiap hari. Dia baru akan berangkat ke kantor balai desa jika semua pekerjaan rumah beres.

“Karena saya dan suami punya waktu yang lumayan padat. Jadi waktunya dibagi-bagi,” ungkap perempuan 50 tahun itu.

Sebelum menjabat lurah, Fatimah adalah aktivis Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) desa setempat. Dia berperan sebagai pengelola keuangan. Pascagempa besar 2006 yang melanda Bantul dan sekitarnya dia aktif menangani pemulihan korban. Fatimah bertindak sebagai fasilitator desa di kecamatan. “Saya sering menyalurkan bantuan kepada warga. Sejak saat itulah saya mulai banyak dikenal masyarakat, meskipun dulunya pendatang,” jelasnya.

Saking seringnya berhubungan dengan masyarakat, singkat cerita, Fatimah pun digadang-gadang menjadi calon lurah. Apalagi anak-anaknya telah beranjak dewasa, sehingga Fatimah dinilai tak akan kerepotan mengurus rumah tangga dan masyarakat. Niat itu pun kesampaian juga. Fatimah berhasil menjadi lurah Sabdodadi sejak enam tahun lalu.

Menjadi lurah bukan hal sepele. Bahkan butuh banyak energi dan pengorbanan. Bekerja tak mengenal tanggal merah. “Seperti tidak percaya saya bisa menjalaninya selama ini,” ungkap Fatimah yang berencana mencalonkan diri lagi sebagai lurah Sabdodadi untuk periode kedua.

Di sela kesibukannya sebagai lurah dan ibu rumah tangga, Fatimah tak pernah melupakan pentingnya pendidikan anak. Untuk hal ini Fatimah membebaskan pilihan pada anak-anaknya. Seperti putra sulungnya, Muhammad Faizal Irfansyah yang kini berusia 30 tahun. Saat kecil Faizal senang memelihara ayam dan mengembangbiakkannya. Dia lantas dijuruskan kuliah bidang peternakan dan belajar ekonomi mikro. Belakangan, dia justru cenderung mengikuti jejak ayahnya sebagai kontraktor.

Sedangkan si bungsu Muhammad Aziz Syahrizal, 24, baru lulus sarjana Geofisika di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta. Aziz mengambil jurusan itu karena hobi mendaki gunung, susur pantai, dan beberapa kali pernah jadi tim SAR. “Karena dulu saya dan bapaknya dipertemukan di organisasi Pramuka. Anak bungsu kami sepertinya mengikuti jejak kami juga. Senang kegiatan yang sifatnya sosial,” ungkap Fatimah. (yog/mg1)

Boks