Semakin banyak beramal, makin lancar pula rezeki kita. Pepatah itu benar terjadi pada Komunitas Serbut Jogja. Mereka tak pernah kesulitan dana dalam menjalankan misi ibadah. Meski belum genap setahun berdiri, sokongan dana untuk setiap kegiatan terus mengalir tanpa terduga.

“Ini sesuatu yang selalu mencengangkan bagi kami. Setiap akan melakukan kegiatan pasti rezeki selalu ada. Tidak tahu datang dari mana,” tutur Koordinator Komunitas Serbuk Jogja Yogi Liandi kepada Radar Jogja yang menyambangi kediamannya di Gamping, Sleman Minggu (25/3).

Sebelum bergerak, anggota komunitas kerap membuat pesan broadcast lewat grup WhatsApp yang mereka ikuti. Dari situlah mengalir banyak dana untuk kegiatan. Selain mereka juga merogoh kocek sendiri untuk membeli nasi bungkus. “Dalam sehari kami bisa bagikan sedikitnya 30 nasi bungkus. Tapi kami pernah juga menghabiskan dana hingga Rp 1 juta untuk 100 bungkus nasi bagi fakir miskin,” ujar Yogi, sapaannya.

Nama “Serbuk Jogja” dipilih bukan tanpa alasan. Sesuai kegiatan yang dilakukan. Bisa dibilang kependekan dari kalimat “sebar nasi bungkus di Jogja”.

Sasaran utama gerakan komunitas ini adalah para “pejuang jalanan”. Disebut pejuang jalanan karena mereka bekerja mencari nafkah di jalanan. Atau bahkan sekadar untuk mendapatkan sesuap nasi. Seperti tukang becak, pedagang asongan, dan gelandangan.

Adapun lokasi sasaran paling dominan adalah Kotagede, Kota Jogja. “Karena letaknya dekat dengan basecamp kami di belakang kampus UAD 2,” ungkapnya.

Awalnya, anggota Serbuk Jogja membagikan nasi bungkus hanya tiap Jumat siang. Seiring berjalannya waktu, pembagian nasi bungkus juga dilakukan pagi, sebagai ganti sarapan bagi sasaran. Bahkan kadang juga dilakukan malam.

“Kami pilih Jumat karena hari baik bagi umat Islam. Selain berkah, ada anjuran Rasul untuk bersedekah Jumat,” tutur pria asal Palembang itu.

Jumlah anggota Serbuk Jogja memang tak banyak. Hanya 15 orang. Mereka berasal dari beberapa kampus. Seperti UAD, UNISA, STTN, dan Instiper.

Menu andalan mereka berupa ayam sambal. Semua menu dimasak dan disiapkan oleh anggota komunitas secara gotong royong.

Pria yang berulang tahun tiap 18 Juli itu meyakini bahwa kegiatan komunitas menuai respons positif. “Beberapa teman bilang jika kegiatan kami selalu ditunggu-tunggu,” ungkapnya. (yog/mg1)

Boks