Melihat Semangat Penyandang Tunanetra Rayakan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI

Matanya memang tak bisa melihat. Tapi, semangat Tusiyo terus berkobar untuk mencegak gol ke gawang lawan. Itulah gambaran pertandingan sepak bola para penyandang tunanetra menyambut HUT Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia di Kulonprogo.
Hendri Utomo, KULONPROGO
“Endi bale?” teriak Tusiyo, striker tim sepak bola tunanetra Dusun Kroco, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo. Pria 52 tahun itu berusaha mencari letak bola untuk ditendangnya ke gawang lawan.
Tusiyo menjadi bintang lapangan dalam pertandingan yang digelar di Padukuhan Terbah, Pengasih, Sabtu (5/8), setelah mampu memborong tiga gol.

Bersama 13 pemain lainnya, Tusiyo mengolah si kulit bundar di lapangan berukuran 8 x 4 meter persegi. Tiap tim terdiri atas tujuh pemain. Semuanya tunanetra. Mereka mengandalkan insting dan kepekaan pendengaran untuk membangun serangan dan bertahan. Si kulit bundar pun dipasangi lonceng, sehingga terdengar gemerincing saat menggelinding atau ditendang.

Suara lonceng memang untuk membantu pemain mengetahui posisi bola. Namun, tetap saja antarpemain sering terlibat saling tendang atau bertabrakan meski bola berada di titik lain.

Tak pelak teriakan antarpemain mampu menghibur para penonton. Unik dan lucu. Gemuruh tawa dan tepuk tangan penonton pun tak terbendung setiap kali para pemain berebut dan menendang bola.

“Sebisa mungkin kami juga ingin ikut menyemarakkan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia,” ucap Tusiyo usai pertandingan.

Tusiyo sebenarnya memiliki banyak peluang dalam pertandingan sore itu. Hanya dua peluang yang berhasil diubahnya menjadi gol di babak pertama. Satu gol lain diciptakannya di babak kedua, sekitar lima menit setelah turun minum.

Memang tidak mudah bermain bola di lapangan terbuka. Orang dengan kondisi fisik sempurna saja belum tentu bisa bermain apik. Apalagi bagi para penyandang tunanetra. Namun, Tusiyo dkk berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik (mata) tak menyurutkan semangat mereka seperti orang biasa. Meski sulit dibayangkan, tapi pertandingan itu benar-benar terjadi. Para pemain pun tak mau kalah dengan pesepak bola profesional. Mereka juga mengenakan seragam, mesti satu sama lain tentu saja tak bisa membedakannya kecuali melalui teriakan suara masing-masing.

“Memang sulit, tapi asyik. Ini bukan pertama kali saya main bola,” ungkap Tusiyo. Tak ada persiapan khusus bagi Tusiyo menghadapi pertandingan itu. “Bermain lepas saja dan tendang (bola) sekuat-kuatnya,” lanjutnya.

Semangat serupa ditunjukkan Kawit,59, warga Siwalan, Sentolo. Keterbatasan fisik memang menjadi kendala baginya untuk beraktivitas sehari-hari. Namun, demi merayakan HUT kemerdekaan RI, semua kendala itu dia kesampingkan.
“Acaranya menyenangkan. Kalau tahun depan ada lomba lagi saya pasti ikut,” ujarnya.

Meski telah dipasangi lonceng, bukan hal mudah bagi Kawit mencari posisi bola. Sebab, suasana sore itu memang begitu riuh dengan canda dan tawa penonton.

Acara yang digelar Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Kulonprogo itu memang untuk menyambut dan menyemarakkan perayaan HUT ke-72 RI. “Melalui pertandingan ini para tunanetra membuktikan bahwa mereka tak kalah dengan orang biasa. Semangat mereka patut diteladani,” ujar Rahmat Sugianto selaku ketua panitia kegiatan.

Bagi para penonton, pertandingan sepak bola tunanetra tak sebatas sebagai hiburan. Hal itu mampu memantik hati para penonton untuk berempati. “Mereka hebat. Jarang dijumpai ada pertandingan semacam itu,” puji Kanti, penonton asal Pengasih.(yog/ong)

SAMBUNGAN: Bermain Lepas, Tendang Bola Sekuat-kuatnya

Boks