DWI AGUS/RADAR JOGJA
DEDIKASI: Sudihardjo alias Sronto (kiri) saat pentas terakhirnya bersama Ketoprak Tjontong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Tetap Ingin Menuntaskan Peran, Menolak Digantikan

Sudihardjo, akrab disapa Sronto, meninggalkan kesan tersendiri bagi keluarga dan para sahabatnya. Meski kondisi kesehatannya tidak
DWI AGUS, Jogja
TAWA riuh penonton tetap membahana di gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (9/7). Malam itu sedang ada pementasan Ketoprak Tjontong dengan lakon Sorak Bogowonto. Ternyata, di balik canda tawa para pemainnya, mereka menyimpan duka mendalam.

Ya, sejak Jumat (8/7) malam salah satu pemeran utamanya, Sudihardjo atau yang akrab disapa Sronto harus absen. Kesehatan menjadi alasan utama pria kelahiran 2 Februari 1951 tidak diizinkan tampil. Setengah jam sebelum panggung dimulai, tiba-tiba saja dirinya ambruk.

“Mas Sronto waktu hari H datang lebih awal dan sudah siap dengan dandannya. Tiba-tiba saja dirinya drop, kemudian kami larikan ke Panti Rapih. Hingga akhirnya ada kabar beliau berpulang saat Subuh, Sabtu (9/7),” kata penulis naskah Susilo Nugroho.

Pria yang akrab disapa Den Baguse Ngarso ini memang sangat dekat dengan sosok Sronto. Maklum saja, bertahun-tahun keduanya kerja bareng mengisi program Bangun Ndeso di TVRI Jogjakarta. Susilo sangat hafal karakter dan kegigihan Sronto dalam dunia seni.Susilo mengenang almarhum sebagai seniman berdedikasi tinggi. Terbukti, setiap kali ber-latih Sronto selalu bersemangat tinggi. Sakit menjadi alasan bagi Sronto untuk beristirahat. Bahkan, semangat berlatihnya justru meningkat seiring kon-disi kesehatannya yang menurun.

“Ada kejadian dia sakit lalu saya minta pada anaknya, Wira, untuk menggantikan. Ternyata naskah disembunyikan dan tidak boleh dibaca oleh anaknya. Pertanda dia tidak mau diganti. Akhirnya tetap dia yang pentas,” kenang Susilo.

Ini terjadi ketika Ketoprak Tjontong membawakan lakon Tresnaku Patimu. Hal itu terulang selama proses latihan Sorak Bogowonto. Sronto tetap ber keras hati ingin pentas dalam lakon ini. Meski Susilo menghimbau untuk beristirahat, Sronto tak mengindahkannya.Hanya, dalam lakon itu porsi bermain Sudihardjo banyak di-kurangi. Rencananya, Sronto hanya dijadwalkan tampil di awal dan akhir pementasan.

“Setengah jam sebelum pentas dia bilang kedinginan. Kami lantas berinisiatif membawanya kerumah sakit. Peran mas Sronto diganti aktor lain,” jelasnya.

Sang sutradara Marwoto juga sangat menganggumi Sronto. Pria yang masih memiliki hu-bungan darah dengan Sronto ini menceritakan beragam pe-ngalamannya. Malam takbiran tepatnya saat berlatih, Sronto izin pulang untuk salat di rumah.

“Ternyata beliau pulang duluan untuk mencari obat. Tidak ingin teman-temannya tahu kalau dia sedang tidak fit,” ungkapnya.Saat berada di rumah sakit, Sronto masih memikiran urusan panggung. Almarhum merasa tidak enak hati ketika harus absen secara mendadak. “Sebagai seniman tradisional, sosok Pakde Sronto itu unik,” lanjut Marwoto.

Di mata anaknya, Wira Adritama, Sudihardjo adalah sosok yang sederhana. Tentang kerasnya hati Sudihardjo untuk tampil tuntas dalam setiap pementasan merupakan wujud pembelajaran akan arti penting tanggung jawab.

“Bapak selalu bilang proses menuju sebuah keberhasilan itu-lah yang terpenting,” kenangnya.Amanah yang harus dijalankan hingga selesai. Itulah mengapa beberapa kali Sudihardjo me-nolak untuk digantikan. Atau sekadar istirahat untuk tidak mengikuti pementasan. “Prinsip ini dipegang bapak sejak manggung pada 1970-an,” ujarnya. (yog/ong)

Boks