ABRAHAM G. BUWANA/DEWI SAMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
RENOVASI: Suasana di Stadion Mandala Krida, bulan ini pembangunan tahap empat segera dilaksanakan. Foto kanan, Kepala BPO Disdikpora DIJ DIJ Eddy Wahyudi.

Bersolek Diri agar Tetap Jadi Kebanggan Warga Jogjakarta

Stadion Mandala Krida terus bersolek diri. Berbiaya Rp 41 miliar pada tahap ke empat, pembangunan stadion kembali dimulai April ini. Setelah jadi kelak, harapannya Mandala Krida tetap menjadi kebanggaan masyarakat Jogjakarta.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
ATAP-atap tribun sisi timur masih belum seutuhnya terpasang. Beberapa material berat masih tersisa di bagian timur stadion. Jalan di sekitarannya pun tergenang air hujan yang beberapa hari mengguyur kawasan stadion dan sekitarnya.

Kompleks stadion yang dibangun sejak tahun 1976 ini akan memasuki renovasi tahap empat di bulan April ini. Sudah hampir 40 tahun, stadion ini gagah berdiri. Bahkan, stadion berkapasitas 2.500 penonton ini sempat menjadi kebanggan klub-klub sepakbola sebagai venue pertandingan. Bertandang ke Jogja, akan semakin afdol jika pertandingan digelar di Mandala Krida. Namun seiring berjalannya waktu, banyak daerah sudah membangun stadionnya sendiri yang lebih modern dengan sarana terbaiknya. Hal itu membuat Mandala Krida kalah langkah.

Tahun 2013, Mandala Krida mulai dipoles dan dipercantik. Saat ini, memasuki tahap keempat renovasi. Meski sempat tertunda, karena harus dilakukan pelelangan ulang pengadaan konstruksi bangunan.

“Seharusnya sudah mulai dikerjakan lagi awal April ini, tapi harus mundur sekitar tiga minggu karena ada pelelangan ulang,” ujar Kepala Balai Pendidikan dan Olahraga (BPO) Disdikpora DIJ DIJ Ir Eddy Wahyudi baru-baru ini.

Surat perintah kerja seharusnya sudah turun, namun dikarenakan lelang ulang, maka surat perintah kerja dijadwal ulang menjadi tanggal 22 April mendatang. Eddy menuturkan, dalam tiga minggu ini kontraktor harus segera didapat, sehingga bisa langsung dilaksanakan penandatanganan kontrak. Dengan begitu pengerjaan tahap empat pun bisa berjalan.

Untuk tahap ini, dijadwalkan akan memakan waktu sekitar delapan bulan dan berakhir pada pertengahan Desember 2016. “Semoga tidak ada kendala lagi, sehingga pengerjaan tidak tertunda,” ujarnya.

Menelan biaya Rp 158 miliar dari Anggaran pendapatan Belanja Daerah (APBD), renovasi tahap keempat ini memakan biaya yang paling besar dari tahap sebelumnya. Tahap pertama tahun 2013 dengan biaya Rp 6 miliar, tahap kedua tahun 2014 berbiaya Rp 30 miliar. Kemudian tahap ketiga tahun 2015 menelan biaya Rp 32 miliar. Sedangkan tahap keempat ini menelan biaya mencapai Rp 41 miliar.

Menelan biaya tertinggi, lanjut Eddy, dikarenakan pengerjaan yang lebih rumit dan material bahan yang tidak murah. “Targetnya nanti sisi timur dan utara selesai. Sisi barat yang bangunannya sama dengan sisi timur, dan sisi selatan yang sama dengan utara pengerjaan strukturnya harus selesai,” ujarnya.

Tahap pertama, renovasi dilakukan untuk membangun pagar. Dengan tujuan pengamanan suporter agar tidak mudah loncat ke tengah lapangan. Setelah itu, tahap kedua mulai penataan di sisi selatan. Antara lain pengerjaan arena panjat tebing, bola voli pasir, musala, dan lapangan basket outdoor. Sedangkan tahap ketiga, penyelesain sisi selatan dan membangun struktur sisi timur dan utara.

Eddy mengatakan selama renovasi berlangsung, praktis stadion tidak dapat digunakan untuk pertandingan. Namun, masih bisa digunakan untuk latihan, misalnya untuk persiapan Popwil dan Popda. Juga latihan sepakbola, seperti yang dilakukan PSIM. Namun belum bisa dijadikan home base.

“Kalau sisi selatan sudah bisa digunakan untuk pertandingan, seperti Popwil dan Popda besok. Ya kami berharap semua lancar, agar stadion ini bisa kembali menjadi kebanggan masyarakat Jogja,” ujarnya. (ila)

Boks