DWI AGUS/RADAR JOGJA
INDUSTRI KREATIF: Desainer produk Harry Anugrah Mawardi. Foto kanan, beberapa produk hasil karyanya yang memanfaatkan bambu untuk perangkat dapur, furniture, dan fesyen.

Potensi Bambu, dari Cangkir hingga Dasi Kupu-Kupu

Pemanfaatan bambu sebagai produk kreatif dengan nilai jual tinggi belum banyak dilirik. Pasalnya, selama ini bambu hanya dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan konvensional tanpa melihat sisi artistiknya. Namun, di tangan desainer produk Harry Anugrah Mawardi bambu bisa berubah bentuk menjadi lebih menawan. Dia menyuguhkan Amygdala pada calon konsumen.

DWI AGUS, Jogja
AMYGDALA, mendengar kata ini tentu masih asing di telinga. Namun siapa sangka, dibalik nama ini tersimpan kesuksesan sebuah produk kreatif. Mengandalkan bambu sebagai bahan baku, Amygdala mampu meramaikan pasar industri kreatif Indonesia hingga luar negeri.

Konsep dari produk Amygdala ini sebenarnya sederhana. Memanfaatkan bambu secara maksimal menjadi produk kreatif. Bambu diubah ke dalam beberapa produk. Mulai dari tableware atau perangkat dapur, seperti gabungan cangkir dengan pegangan bambu. Juga dibuat dalam bentuk furniture. Paling menarik, bambu digunakan untuk produk fesyen yakni sebagai tangkai kaca mata.

Harry Anugrah Mawardi, adalah sosok dibalik lahirnya Amygdala. Dia adalah lulusan Desain Produk Institut Teknik Bandung. Ide kreatif ini muncul dari kegelisahannya atas hasil penelitian mahasiswa dan dosen.

“Penelitian yang ditempuh dalam waktu lama terkadang hanya berakhir sebagai makalah semata,” ungkapnya di sela penghargaan Wirausaha Muda di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (9/3) lalu.

Menurutnya, dalam penelitian, mahasiswa dan dosen kerap menggandeng perajin. Terutama dalam mewujudkan sebuah ide menjadi produk jadi. Sayangnya, ketika penelitian sudah terekspose, justru ide mewujudkannya sebagai produk jadi untuk dipasarkan kendor.

“Saya merasa kurang sreg jika penelitian hanya sebatas makalah, jurnal dan mentok hanya di pameran. Jika setengah-setengah seperti ini justru yang dikorbankan adalah perajin,” jelasnya.

Sebagai desainer, dia ingin mengubah hal itu. Dia juga ingin mematahkan mitos bahwa desainer tak tahu pasar.

Awalnya, untuk memasarkan Amygdala, Harry harus berjibaku. Memasarkan sendiri hasil desain kreatifnya ke konsumen. Bahkan tak jarang, dia melakukan direct selling agar product knowledge dapat tersampaikan.

“Di Indonesia sebenarnya banyak desain bagus, tapi karena mereka tidak terdorong untuk bisnis maka jatuh di tengah-tengah,” ungkap pria kelahiran 5 April 1986 ini.

Selain itu, Harry juga ingin mengubah stigma barang kreatif dengan bambu tidak memiliki nilai jual. Karena bambu ternyata juga memiliki pangsa pasarnya sendiri.

Untuk bahan baku, Harry menggunakan dua jenis bambu, apus dan petung. Pengaplikasian bambu apus pada produk tableware dan furniture. Sedangkan bambu petung digunakan pada produk fesyen seperti kacamata dan dasi kupu-kupu. “Respons cukup baik. Promo melalui media online,” jelasnya.

Harry menjabarkan keinginannya untuk mengangkat potensi produk lokal. Terutama dengan memanfaatkan bahan baku dan perajin lokal. Kerja sama yang dilakukan oleh Harry dengan perajin bambu sudah dilakukan sejak 2013 lalu.

“Saat ini untuk pemasaran, Amygdala telah merambah hingga pasar ekspor. Mulai dari pembeli personal maupun reseller. Ekspor ke Korea, Jepang, Tiongkok, Australia, dan Italia,” ungkap peraih predikat Best of The Best Wirausaha Muda Mandiri 2016.

Keinginan Harry selanjutnya adalah mengubah pola konsumsi. Saat ini produk kerajinan tergolong dalam produk tersier. Artinya, warga tidak akan membeli jika memang tidak membutuhkan. Makanya, dia ingin menaikkan level menjadi produk sekunder. “Caranya dengan mengolah menjadi ragam produk fashion,” tuturnya. (ila/ong)

Bisnis