RIZAL SN/RADAR JOGJ
BEATLEMANIS: Pieter “Lennon” Budie Yatmo saat beraksi membawakan lagu-lagu The Beatles belum lama ini.

Hapal Ratusan Lagu Beatles, Diajak Kolaborasi Musisi Jerman

Dua buah lagu dari grup band asal Liverpool, Inggris, The Beatles, berjudul From Me to You dan Obladi-oblada mengalun di ruang tamu si empunya rumah. Dengan gitar dan harmonika lagu itu dibawakan. Yang membawakan dua lagu itu adalah Pieter Lennon. Apa hubungan dia dengan John Lennon pentolan The Beatles?
RIZAL SN, Jogja
NAMA aslinya adalah Pieter Budie Yatmo, 60. Tapi, orang mengenalnya dengan sebutan Peter Lennon. Mahasiswa di Jogjakarta tahun 1990an tentu banyak yang mengenalnya. Sejak medio 1990an, dia mulai mengamen di sepanjang Jalan Kaliurang, Sleman.

Berpotongan rambut poni mangkok dan mengenakan kaca mata bundar mirip personel The Beatles, dia pun dipanggil sebagai Pieter Lennon. Pieter konsisten membawakan lagu-lagu dari band yang digawangi oleh John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr ini setiap kali mengamen.

“Kenapa The Beatles? Karena mereka itu legenda, punya nilai jual dan historis, langka dan terkenal di dunia,” kata pria yang sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UPN, tapi tidak lulus ini kepada Radar Jogja di rumahnya di Dusun Terban, Gondokusuman, Jogja belum lama ini.

The Beatles, bagi pria asal Salatiga kelahiran 29 September 1955 itu adalah band yang tak lekang dimakan zaman. Band yang daya tariknya mendunia. Bagi penikmat dan penggemar Beatles, lagu-lagunya pasti akan terus terngiang-ngiang. Itu pula yang dirasakan oleh Pieter.

“Selain mengamen, saya juga ingin memperkenalkan pada anak-anak muda bahwa ada band legenda dan hebat dengan lagu-lagu yang bagus,” ujarnya.

Salah satu ciri khas Pieter selalu berpenampilan rapi. Tidak seperti pengamen kebanyakan yang berpakaian seadanya. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak atau polos dipadukan dengan celana jeans pensil dan sepatu. Dia konsisten berpenampilan seperti itu, jauh sebelum tren celana pensil marak sepuluh tahun lalu.

Dalam mengamen, Pieter juga punya prinsip. Dia tidak mau dikasih uang kalau lagu yang dibawakannya belum selesai dimainkan. Setelah lagu selesai dimainkan, dia lalu menyebutkan judul lagu The Beatles tersebut. “Saya ingin para pendengar menikmati dulu musik yang dimainkan,” ungkapnya.

Pria yang hapal sekitar 150an lagu The Beatles itu menuturkan, mulai mengamen sejak masih berkuliah pada sekitar tahun 1984. Itu dilakukannya untuk menambah penghasilannya. Mengamen dia lakoni antarkota sampai berminggu-minggu.

Sempat pula menjalankan usaha di bidang makelar properti. Hasilnya, beberapa usaha kos-kosan sempat menjadi penopang hidupnya beberapa tahun. Namun, karena tidak memiliki penghasilan tetap dia lalu mencari usaha yang sesuai dengan kemampuannya. “Lalu pada 1990an saya mulai mengamen lagi,” ungkapnya.

Rutenya, dari tempat makan ke tempat makan lain. Alasannya, rumah makan merupakan tempat umum dan bebas. Pengunjung tidak memberikan duit juga tidak apa-apa. “Kalau keliling kampung risiko. Pernah mau dibunuh, digebyur banyu hingga diusir orang. Sudah pernah semua,” kenangnya.

Meski hanya mengamen, bagi Pieter itu adalah profesinya yang harus dijalani dengan profesional, tekun, dan konsisten. Dia mengatakan, Tuhan selalu memberi rezeki kepada seseorang yang melakukan aktivitas.

“Saya yakin Tuhan tidak mendiamkan. Ini saya lakoni sebagai pekerjaan, bukan hanya senang-senang,” tegasnya.

Disinggung mengenai tempatnya mengamen yang hanya di Jalan Kaliurang dan tidak memilih di Jalan Malioboro yang lebih ramai. Dia mengatakan, Malioboro terlalu ramai dan tidak semua tahu lagu The Beatles. Sementara di Jalan Kaliurang banyak mahasiswa yang tahu lagu-lagu The Beatles.

“Kalau nyanyi saya menghindari lagu melankolis, membuat ngantuk. Kecuali ada request. Saya punya misi membuat pendengar gembira,” jelasnya.

Dia mengaku, dalam sehari bisa mengamen sampai empat jam. Siang hari sampai jam satu dan di malam hari mulai 19.00 sampai 22.00 WIB. “Kalau sepi minimal Rp 200 ribu, kalau pas ramai bisa Rp 400 ribu. Kalau yang ngasih sampai Rp 100 ribu ya ada,” ungkapnya.

Selain mengamen, Pieter juga kerap diundang manggung bersama beberapa musisi. Mulai dari Star and Rabbit, White Shoes & The Couples Company dan musisi luar negeri. Salah satunya penyanyi juara tiga ajang pencarian bakat di Jerman, Stevie Krammer. “Kita kolaborasi buat lagu, saya yang aransemen. Judulnya Perempuan Mulia,” ujarnya.

Pieter yang lahir sebagai anak tunggal ini mengaku menyukai musik sejak remaja. Selain The Beatles, dia sebenarnya menguasai lagu-lagu musisi dunia lainnya. Sebut saja Rolling Stone, The BeeGees, lagu-lagu dari musisi Amerika Latin dan country seperti Bob Dylan. Namun, dalam setiap pertunjukannya, dia lebih suka membawakan lagu Beatles.

“Nama Pieter Lennon itu dari fans. Karena saya konsisten membawakan lagunya Beatles. Lagu lain sebetulnya ya bisa, kalau ada yang request,” ungkapnya.

Di sela-sela obrolan dengan Pieter, seorang ibu datang membawakan dua gelas kopi. Dia lalu menyilakan tamunya. Pieter mengaku bisa sampai pagi hari menikmati musik dari video di internet. Ya, dia masih tekun melihat video The Beatles dan musisi dunia lainnya.

“Masalah kuota internet, saya boros. Sekitar jam 03.00 sampai 04.00 pagi masih ngamati musik. Bagi saya lagu Imagine, tetap yang paling enak,” kata bapak tiga anak dan satu cucu itu.

Imagine adalah salah satu lagu The Beatles yang menyuarakan humanisme, hak asasi manusia dan kesetaraan. Selain musiknya enak didengar, lagu ini mempunyai cengkok lembut, natural dan lirik yang sarat makna. “Jangan hanya didengarkan, amati juga liriknya. Walaupun lirik dan artinya bagus, kalau musik nya tidak menarik, ya ndak bagus,” selorohnya. (riz/ila/ong)

Boks