HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
JELAJAH: Suasana di kampung Sosrowijayan, Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja. Di kampung inilah Pasar Kembang berada.
Pagar Biru Jadi Pembatas Perkampungan di Pasar Kembang
Jika kita searching kampung Sosrowijayan di mesin google engine, yang akan keluar adalah ketenarannya sebagai kampung internasional. Itu terlihat dari keterangan sejumlah website, mulai wikipedia sampai situs lokal seperti yogyes. Tapi, saat melihat langsung demografis kampung tersebut ada yang berbeda.

HERI SUSANTO, Jogja
 

SAPAAN salah seorang guide langsung terdengar begitu memasuki sebuah bangunan tua yang disebutWisma PTPM. Dengan ramah, sang guide menanyakan kebutuhan penulis yang saat itu dianggap sebagai turis. “Mau jelajah kampung wisata,” jawab penulis.

Jawaban itu langsung direspons dengan menunjukkan tempat yang dijaga empat orang mengenakan seragam bregada prajurit. Ya di Wisma PTPM itu, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja mengumpulkan seluruh stakeholder pariwisata. Tujuannya, mengenalkan kampung Sosrowijayan. Di kampung inilah Pasar Kembang (Sarkem) berada.

Selama kira-kira 30 menit, Ketua Paguyuban Kelurahan Wisata Sosromenduran Ipung Purwandari menjelaskan panjang lebar mengenai potensi kampung wisata itu. Salah satunya, potensi di Sosrowijayan Kulon. Kampung yang terkenal dengan Sarkem, yang menurut Kementerian Sosial sebagai lokasi prostitusi. Meski begitu, Sarkem berbeda dengan lokalisasi yang memang resmi seperti di Dolly di Surabaya yang sudah ditutup, maupun lokalisasi Kalijodo di Jakarta.

“Sarkem tidak usah ditutup. Karena nama jalan,” kelakar Ipung yang disambut tawa semua peserta jelajah kampung wisata.

Di hadapan peserta, Ipung menawarkan untuk menyusuri kampung Sosrowijayan Kulon. Tak sendiri, para peserta susur kampung ditemani Kepala Puskesmas Gedongtengen dr Tri Kusumo Wibowo. “Biar aman,” ujar Ipung yang lantas membuat suasana geerr.

Selang beberapa menit kemudian, rombongan berjalan menyusuri gang sempit selebar satu meter itu. Dimulai dari gang masuk di RW 02, Sosrowijayan Wetan. Di gang itu ada sebuah masjid yang berdiri di tengah padatnya permukiman yang telah beralih fungsi menjadi penginapan, kafe, dan jasa wisata lain. Tak ada tumpukan sampah. Juga aliran limbah rumah tangga.

“Masjid e dinggo wong bar seko kulon terus ndene tobat (masjidnya untuk orang dari barat, lokasi prostitusi, untuk bertobat). Ning sesuk bali meneh (tapi besok kembali lagi),” canda salah seorang peserta.

Dari masjid ini lantas berbelok ke barat, di sana kembali berjejer penginapan. Baru berjalan sekitar 30 meter, ada sebuah pagar berwarna biru. Pagar biru dilengkapi dengan gembok untuk mengunci pintu agar tak bisa dibuka. “Jam 22.00 dikunci. Agar, tidak menjadi akses pengunjung Sarkem,” tandas Ipung.

Pagar itu, menurut Ipung, yang menjadi batas antara Sosrowijayan Kulon dengan Sosrowijayan Wetan. RW 03 dengan RW 02. Dijelaskan, Sosrowijayan Wetan merupakan “kampung putih” yang terkenal sebagai kawasan turis backpacker. Sedangkan Sosrowijayan Kulon dikenal sebagai “kampung hitam” yang lekat dengan prostitusi ilegal.

Di kanan kiri gang di RW 03 hampir sama dengan RW 02, ada penginapan, kafe, dan jasa wisata lain. Hanya, pemandangannya lebih kumuh. Bekas aliran limbah bersatu dengan tanah basah. Di sepanjang gang juga terdapat rumah untuk karaoke. Juga ada sejumlah kamar mandi umum.

Masuk lebih dalam, Kepala Puskesmas Gedongtengen dr Tri Kusumo Wibowo mengambil sebuah papan yang bertuliskan peraturan kesepakatan lokal. Dalam papan itu tertulis kesepakatan untuk 100 persen menggunakan kondom dan penapisan (skrining kesehatan) rutin di Kampung Sosrowijayan Kulon. Kemudian, di bawah kop papan tulisan, ada rincian dan kesepakatan warga.

“Ini menjadi kesepakatan warga lokal. Ditandatangani RW, RT, Kapolsek, Danramil, dan saya sendiri sebagai petugas kesehatan,” tutur Tri Kusumo.

Dia menegaskan, di Sosrowijayan Kulon ini ada pendampingan. Berupa pemeriksaan kesehatan rutin. Bahkan, di kampung itu juga tegas melarang stigma negatif dan diskriminasi pada komunitas.

“Kesepakatan ini harus dilaksanakan, jika melanggar ada sanksinya. Kalau sampai tiga kali melanggar akan dikirim ke Dinas Sosial selama tujuh hari untuk mendapatkan pelatihan. Juga pembekalan mengenai HIV/AIDS,” terangnya. (ila/ong)

Boks