DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
BERDEBAR-DEBAR: Fauzia Putri Pertiwi di sela latihan rutinnya. Siswi kelas 3 SMAN 4 Jogja ini tinggal selangkah lagi menjadi atlet nasional.

Tidak Menyangka Lolos Seleksi Nasional

Bagi atlet daerah, masuk Pelatnas merupakan tangga prestasi. Satu langkah lagi untuk menjadi atlet nasional. Inilah yang berhasil diraih Fauzia Putri Pertiwi diusia 18 tahun ini. Sembari menunggu SK Pengurus Pusat (PP) Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani) turun, Fauzia tetap mengisi hari-harinya dengan latihan.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja

SEJAK kecil, busur dan anak panah bukan hal asing bagi Fauzia. Kerap diajak menonton dan melihat saudaranya berlatih, Fauzia kecil akhirnya mau ikut berlatih memegang busur. Meski diakui, awal pertama kali latihan, dia belum ada ketertarikan untuk menggeluti olahraga ini secara serius.

Begitu memasuki bangku sekolah menengah pertama, Fauzia yang mulai mengikuti kejuaraan, baru mulai menunjukkan keseriusannya berlatih. “Ikut kejuaraan pertama kali belum berhasil jadi juara, itu yang membuat aku makin penasaran dan giat latihan,” ujar pemanah muda kelahiran Jogja, 22 Maret 1998 ini.

Mulai saat itu, dia memutuskan untuk serius dan tekun berlatih. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, busur dan panah jadi teman menghabiskan sore. Bahkan saat hari libur, ketika anak seusianya memanfaatkan waktu libur untuk main ke mal, Fauzia justru seharian berpanas-panasan di lapangan dengan busurnya.

Sebagian waktu aktifnya yang digunakan untuk memanah berbuah prestasi. Pada seleksi nasional (Seleknas) yang diikutinya pertengahan Februari lalu di Jakarta, Fauzia berhasil duduk di peringkat kedua dengan nilai 629. Padahal, jika mengingat durasi latihan, terbilang cukup singkat. Karena Fauzia hanya memiliki waktu satu bulan untuk berlatih di nomor recurve.

“Karena yang ikut Seleknas kan atlet-atlet pilihan, karena ada yang dapat undangan langsung dari PP Perpani. Tak menyangka bisa dapat nilai tinggi. Di urutan nomor dua,” ujarnya yang mengikuti Seleknas berdasar undangan dari PP Perpani bersama lima pemanah lain yang diundang mewakili DIJ.

Mengikuti Seleknas merupakan yang kedua kalinya bagi siswi kelas 3 SMAN 4 Jogja ini. Namun, baru pada kesempatan kedua ini dia bisa meraih nilai tinggi dan dinyatakan lolos seleksi. Meski begitu, Fauzia masih harus menunggu panggilan resmi dan SK PP Perpani untuk masuk Pelatnas. Baru setelah itu, dia bisa bergabung dengan dua pemanah DIJ, Titik Kusumawardani dan Hendra Purnama. Keduanya sudah lebih dulu masuk Pelatnas.

Sembari menunggu kabar, anak pasangan Umar Sutrisno dan Puji Lestari ini tidak pernah absen mengikuti latihan. Karena dia juga harus mempersiapkan diri mengikuti PON 2016 di Jawa Barat bulan September mendatang.

“Pelatnas progam panjang, SK-nya memang belum turun, semoga turunnya sehabis ujian nasional (unas). Kalaupun sebelum unas ya nanti saya minta izin untuk ikut ujian,” ujarnya yang tetap ingin fokus dan merampungkan sekolahnya.

Kendati sudah menjadi atlet panahan, cita-citanya untuk menjadi mahasiswi Teknik Sipil masih terbenam betul dalam benaknya. Meski fokus mengikuti program Puslatda, peraih 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu di Porda 2015 kemarin ini tidak ingin tertinggal mata pelajaran dan tugas sekolahnya.

“Demi mencapai nilai bagus. Impian menjadi mahasiswi teknik agar bisa terwujud. Tetap ingin masuk ke universitas,” ungkapnya. (ila/ong)

Boks