DWI AGUS/Radar Jogja

Ide Pameran Bersama Muncul saat Bertemu Lebaran

Jogjakarta masih dianggrap sakral dalam dunia seni. Termasuk keindahan dunia seni rupanya, baik patung maupun seni lukis. Para seniman dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pun merespons dengan pameran Hmengku di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY).
DWI AGUS, Jogja
Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) kembali menjadi tempat persinggahan para seniman. Kali ini para seniman yang tergabung dalam Segi Tiga Tulungagung unjuk karya. Sebanyak 11 perupa memamerkan keindahan karya mereka dalam pameran bertajuk Hmengku.
Edi Sunaryo mengungkapkan, seniman Tulungagung sejatinya memiliki potensi besar. Sayangnya, masih ada rasa malu untuk unjuk karya ke hadapan umum. Sehingga perlu ada dorongan dan bentuk apresiasi untuk berpameran.
“Seperti malam ini, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana perkembangan seni lukis di Tulungagung. Selain itu dengan berpameran di luar daerah, mereka juga ada manfaat positifnya. Salah satunya dapat bertukar ide, dan diskusi antarseniman lintas daerah,” kata Edi saat pembukaan pameran, Selasa malam (16/6).
Awal mula tercetusnya pameran ini ketika ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya sekampung di Tulungagung. Kebetulan para sahabatnya ini berprofesi sebagai seniman. Bahkan beberapa di antaranya pernah mengenyam pendidikan di ISI Jogja.
Pertemuan yang selalu terjadi saat Idul Fitri ini lalu melahirkan sebuah gagasan pameran bersama. Tidak lagi berpameran di daerah asal, tapi di Jogja. Tentu saja keputusan ini diambil untuk mengembangkan jiwa seni para seniman ini.
“Waktu itu saya diminta datang ke sanggar milik Widji Paminto Rahayu. Ternyata karya para seniman Tulungagung luar biasa. Tapi sayang kualitas karya ini kurang terapresiasi. Sebenarnya para seniman ini sudah aktif berpameran, namun dalam lingkup lokal saja,” ungkapnya.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Tulungagung Ahmad Pitoyo juga hadir dalam pameran ini. Menurutnya, Jogjakarta merupakan kawah candradimuka bagi para seniman. Terutama seniman Tulungagung dalam meningkatkan jiwa seni mereka.
Pitoyo menambahkan Jogjakarta ibaratkan center of culture. Di mana semua kebudayaan termasuk seni berkumpul di titik. Pertemuan-pertemuan inilah yang terus melahirkan ide-ide dalam berkarya, sehingga para seniman mendapatkan khasanah dalam menerapkan kesenian mereka.
“Saya melihat Jogjakarta menjadi salah satu jujugan seniman-seniman di Indonesia. Bahkan hingga ke level seniman internasional pula. Jadi saat para seniman Tulungagung berpameran di Jogjakarta dapat menjadi pembelajaran. Dapat menghasilkan karya yang bisa go regional, nasional hingga internasional,” kata pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini.
Sesepuh BBY Gabriel Possenti Sindhunata menilai, unjuk karya seniman daerah sangatlah penting. Terutama untuk melihat sejauh mana perkembangan seni di daerah tersebut. Dengan mengusung ke Jogjakarta, maka dapat melahirkan sebuah diskusi.
Dengan adanya pameran ini juga dapat menguak potensi seni di sana. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini pun berwarna. Bagi para penikmat seni yang kerap melihat pelukis Jogjakarta langsung merasakan perbedaan ini.
Perbedaan ini terlihat dari genre, konsep karya hingga teknik yang diusung. Pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini pun mengaku kagum atas semangat seni para seniman ini. Usut punya usut, sembilan dari seniman yang berpameran berprofesi sebagai guru.
“Patut kita hargai dan puji di tengah kegiatan mengajar mampu meluangkan waktu untuk karya rupa. Saya mengakui bahwa Jogjakarta sebagai sebagai pusat seni sudah sangat terkontaminasi dengan pengaruh pasar. Nah, karya dari teman-teman Tulungagung ini menjadi karya yang segar,” ungkapnya.
Dengan adanya pameran ini juga turut membuyarkan pemikiran selama ini. Terutama cara pandang akan seniman-seniman daerah, terutama otodidak. Pandangan ini lahir di Jogjakarta, Bandung, dan Jakarta, di mana bermukim sejumlah seniman senior ataupun pengamat seni.
Mereka beranggapan karya-karya seni yang dibuat oleh seniman daerah yang notabene otodidak, belum boleh tampil di gedung terhormat. Terutama di ruang pamer kota-kota besar yang dikuasai penyelenggara yang rata-rata sarjana seni.
Namun, seiring dengan perjalanan waktu, seni rupa modern akhirnya pelan-pelan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Para perupa otodidak yang awalnya kesulitan tampil akhirnya bisa berdiri sama tinggi dengan perupa yang sarjana seni. Bahkan, ada di antaranya yang lebih tenar dan melampui perupa lulusan institut seni.
“Di zaman milenium ini nampaknya siapa saja boleh tampil asalkan mempunyai kualitas dan pemikiran seni yang prima. Para penyelenggara seni akan dengan senang hati menerima mereka. Akan tetapi, belum semua seperti itu, masih ada beberapa penyelenggara seni yang menanyakan CV atau pengalaman berpameran, sebagai syarat untuk tampil di gedung mereka. Itulah sedikit gambaran peta senirupa Indonesia dari masa ke masa,” ungkapnya.
Padahal pandangan seperti ini, menurut Romo Sindhu menghalangi perkembangan seni. Sehingga warna seni rupa nasional tidak terangkum secara merata. Adanya semangat untuk berkarya dan berpameran ini yang patut didorong terus.
“Mereka bersebelas memamerkan karya-karya senirupa yang beragam. Mereka tidak terlalu peduli dengan genre senirupa yang dipamerkan, mereka lebih memilih kebersamaan dalam pameran kali ini,” ungkapnya.
Para seniman yang berpartisipasi hingga 24 Juni ini di antaranya Anang Prasetyo, Anton, Edi Dewa, M.Ruslan, Nurali, Puji Rahayu. Ada pula Roni, Sigit Priyananto, Sugiyo, Wiji Paminto Rahayu dan Yuga Hernawan, dan Sulton Hadiwiyana. (laz/ong)

Boks