DWI AGUS/Radar Jogja
MAKIN BANYAK: Proyek pembangunan hotel di Jalan Pangeran Diponegoro, Jogja, kemarin (15/6). Diharapkan target pajak hotel untuk tahun ini mencapai target.

Selami Skizofrenia, Hilangkan Perlakuan Diskriminatif

Gangguan mental pada manusia tidak hanya menjadi sebuah beban dalam hidup. Di tangan Santi Pratiwi, gangguan mental diubah menjadi sebuah karya yang indah. Ini dibuktikan dalam karyanya berjudul Skizofrenia yang dipentaskan Jumat malam (12/6) di Ruang Multimedia, Pasca Sarjana ISI Jogjakarta.
DWI AGUS, Jogja
Beberapa lampu sengaja dimatikan di kampus Pasca Sarjana ISI Jogjakarta. Suasana pun terlihat mencekam di beberapa sudut. Heningngnya malam itu semakin menjadi taktala bebunyian yang terdengar dari Ruang Multimedia.
Maklum saja, malam itu sedang dipentaskan karya tari berjudul Skizofrenia karya Santi Pratiwi. Seorang pria mengenakan pakaian menyerupai badut menyapa di gerbang lorong. Kain hitam pun membungkus lorong itu hingga ruang pementasan.
“Selamat datang, hati-hati melangkah,” kata sang badut dengan mimik muka datar. Memasuki lorong, penonton disapa oleh puluhan balon yang menggantung. Dalam setiap balon ini berisi air dengan cahaya LED di dalamnya. Pengunjung semakin terperanjat karena sosok hitam duduk di depan kain hitam yang terbentang.
Sontak beberapa anak kecil yang turut hadir terlihat histeris. Bahkan seorang anak kecil enggan melanjutkan langkah kakinya karena takut. Memasuki ruang pementasan tidak ada kursi. Semua pengunjung bebas duduk di mana pun mereka suka.
“Konsep menontonnya memang dibebaskan, tapi dengan penonton yang dibatasi. Tujuannya agar bisa membaur dan merasakan langsung tema yang diangkat. Selain itu juga ada interaksi langsung dalam beberapa fragmen tarian,” kata sang koreografer, Santi Pratiwi.
Skizofrenia sendiri merupakan gangguan mental dalam individu manusia. Ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, paranoid, hingga keyakinan atau pikiran yang salah.
Pola pikir yang timbul adalah tidak adanya logika dalam berpikir. Cenderung berpikir dalam ketakutan dan di luar akal sehat. Ini pun berimbas pada disfungsi sosial di masyarakat hingga dan menurunnya aktivitas harian.
Meski begitu perempuan kelahiran Surabaya 1 Oktober 1987 ini justru melihat celah lain. Secara cerdas Santi mengemas kelainan pola pikir ini menjadi sebuah karya. Tentunya dengan melakukan riset dan pendalaman tentang Skizofrenia.
“Saya tertarik karena selama ini Skizofrenia kerap diperlakukan diskriminatif. Terutama kerap dibandingkan dengan pola pikir normal yang tentu saja jauh berbeda. Padahal jika dilihat dari sudut pandang mereka ada sebuah keindahan,” kata Santi.
Melalui karyanya ini Santi seakan mengajak pengunjung menjadi gila dalam semalam. Ini terlihat dari tata panggung, suara hingga tarian yang dihadirkan. Beberapa wujud ketakutan pun tercermin jelas dari gerakan sang penari.
Asep Hendrajat menjadi penari utama dalam pertunjukan ini. Secara apik Asep merepresentasikan suara-suara dalam kepalanya menjadi tarian. Wujud kecemasan pun hadir melalui empat penari lainnya, Galih, Patry Eka, Puri, dan Rizka.
Gerakan yang dihadirkan pun cenderung menyakiti diri sendiri. Menjatuhkan diri ke lantai, terpasung, hingga terikat dalam tempat tidur. Santi mengungkapkan wujud ketakutan ini menjadi salah satu simbol dari Skizofrenia.
“Imajinasi mereka saya hadirkan dalam berbagai koreo. Untuk mendalami Skizofrenia terlebih dahulu melakukan riset. Kurang lebih 1,5 tahun di Rumah Sakit Menur Surabaya, juga di panti rehabilitasi,” ungkapnya.
Santi juga mengajak para pengunjung berpikir secara luas. Tidak hanya menjadikan penderita Skizofrenia sebagai kambing hitam. Permasalahan ini kerap ditemui dalam kehidupan masyarakat dengan adanya individu Skizofrenia.
Stigma negatif hingga perlakukan diskiminatif kerap dijumpai oleh Santi selama riset. Menyalahkan penderita Skizofrenia atas tindakan yang tidak dilakukannya. Padahal seorang dengan skizofrenia tidak seharusnya diberlakukan secara semena-mena.
“Apalagi negara kita belum ada kekuatan hukum untuk mem-back up mereka. Sehingga ketika ada permasalahan di masyarakat, kerap menjadi kambing hitam. Kita juga seharusnya tidak mengibaratkan mereka seperti orang gila,” ungkapnya.
Santi menambahkan orang dengan Skizofrenia juga tetap bisa berprestasi. Seperti lukisan Kucung karya Louis Wain yang terlihat apik. Ada pula John Nash, seorang ahli matematika dari Amerika Serikat. Bahkan pria ini mendapatkan Penghargaan Nobel di Bidang Ekonomi pada tahun 1994.
Diakui olehnya, selama riset selain dua orang ini, banyak prestasi yang dibangun orang dengan Skizofrenia. Terutama para seniman yang mampu berkarya indah melalui imajinasi mereka. Tentunya diperlukan pola pikir terbuka untuk melihat sisi lain dari Skizofrenia ini.
“Stigma sosial merupakan salah satu kendala utama dalam penyembuhan pasien Skizofrenia. Pastinya tanamkan empati dahulu dan jangan men-judge dari apa yang dilihat dari luar,” kata Santi. (laz/ong)

Boks