Hendri Utomo/Radar Jogja

Mei dan Oktober, Bulan Maria yang Selalu Dinanti

Sendangsono merupakan tempat ziarah bagi umat Nasrani. Di sana terdapat Goa Maria yang biasa diguanakan para peziarah untuk berdevosi atau menghaturkan sembah bhakti kepada Bunda Maria. Bagaimana suasana tempat cikal bakal dan benih-benih perkembangan umat Katholik di Jawa dalam peringatan Kenikan Isa Almasih tahun ini?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
SORE itu, jumlah pengunjung di Sendangsono sudah tembus angka seribu. Pengunjung datang dari berbagai daerah, di antaranya tampak warga asing yang memang sengaja menyempatkan diri untuk datang langsung ke Sendangsono dalam peringatan Kenaikan Isa Almasih kali ini.
Bulan Mei dan Desember setiap tahunnya, memang bulan yang sibuk di Sendangsono. Hal itu tidak terlepas dari banyaknya acara keagamaan dan tingkat kunjungan yang melonjak di lokasi yang akrab disebut Louders Sendangsono itu.
“Di hari-hari biasa, yang bekunjung ke sini kurang lebih hanya 150 orang saja. Juga saat hari libur di luar bulan Mei dan Desember, kisarannya hanya 200 orang – 300 pengunjung. Namun di bulan Mei dan Oktober merupakan puncak kunjungan di sini, karena dua bulan itu merupakan bulan Maria,” terang Matius Catur, 24, petugas jaga buku tamu di Sendangsono kepada Radar Jogja kemarin (14/5).
Benar saja, dari buku tamu jumlah pengunjung yang datang sejak pukul 07.00 – 15.00 sudah mencapai 1.268 orang. Sementara yang sudah masuk mulai pukul 15.00 – 18.00 mencapai 500-an orang. “Bulan Mei dan Oktober ramai karena bertepatan dengan adanya peringatan keagamaan,” imbuh Catur.
Tidak hanya tingkat kunjungan yang berbeda, untuk memberikan kenyamanan dan kekhususkan para jemaat yang berziarah, pengelola juga menambah petugas, khususnya untuk pertugas kebersihan. “Saya setiap hari bertugas membersihkan lokasi ini. Namun saat seperti ini saya mendapat tambahan teman. Kalau tidak, ya kuwalahan,” ucap Marjo, 51, warga Dusun Semagung, Banjaroyo, Kalibawang, Kulonprogo.
Marjo menjelaskan, di hari biasa ia ditemani empat rekannya yang bertugas membersihkan setiap sudut lokasi Sendangsono. Khusus perayaan Kenaikan Isa Almasih kali ini, ia mendapat tambahan teman dua orang. “Dia Taryanto, dan Supriyanto. Biasanya saya hanya bersama Marwanto, Esa, Suparno dan Narimo untuk keberisihan, ditambah penjaga dan petugas sekretariat Pak Triyono dan Mbak Kristin,” jelasnya.
Marjo menambahkan, seperti hari-hari biasa, Sendangsono buka selama 24 jam. Ada beberapa tempat yang dinilai sakral dan selalu dikunjungi di Sendangsono. Semuanya disambangi satu per satu dalam prosesi ritual ziarah. Setiap pengunjung rata-rata sudah tahu tata urutan dalam melakukan siarah.
Beberapa lokasi itu, antara lain, Gereja St Maria Lourdes Promasan, Padusan, Goa Maria Lourdes Sendangsono, Sendang Pembaptisan, Pohon Sono, Pengambilan Air Sendangsono, Kapel Tri Tunggal Maha Kudus, Kapel Maria, Lukisan Bunda Maria Bunda Segala Bangsa, Salib Milenium, Kapel 12 Rasul, Jalan Salib Pendek.
“Di sini juga ada penginapan, rumah panggung dan untuk mengkoordinasi segala aktivitas di sini ada sekretariatan. Acara rutin di antaranya Misa Bulan Maria di bulan Mei dan Oktober, Perarakan Maria Dolorasa, Perarakan Maria Lourdes, Perarakan Sakramen Maha Kudus, serta Misa dan Sholawatan Katholik,” tambahnya.
Istilah Sendangsono sendiri merupakan gabungan dari kata Sendang (ejaan Jawa yang berarti Sumber Air, Red) dan Sono atau merupakan pohon Sono atau Angsana. Sehingga secara harafiah Sendangsono merupakan sebutan dari mata air yang berada di bawah pohon Angsana.
Awalnya sumber air itu sering disebut sumber Semagung karena berdekatan dengan Dusun Semagung. Sendangsono sendiri tepatnya berada di Desa Banjaroyo, Kalibawang, Kulonprogo. Pengelolanya yakni Paroki St. Maria Lourdes di Promasan. Lokasi itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dari Kota Wates.
Luas kompleks Sendangsono hampir satu hektare, peziarah akan melewati jalan salib besar yang dimulai dari gereja yang ada di bagian bawah kompleks Sendangsono. Rute jalan salib kurang lebih berjarak satu kilometer hingga ke pemberhentian terakhir di atas Sendang.
Keberadaan Sendangsono tak lepas dari kiprah Romo Van Lith SJ (Rohaniawan Belanda yang lama tinggal di Pulau Jawa, Red). Sehingga keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katholik di Pulau Jawa. Pasalnya, Romo Van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwan yang menyebarkan ajaran Katholik di Pulau Jawa.
Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, sejarah Sendangsono bermula pada 14 Desember 1904 silam, di mana Romo Van Lith berhasil membaptis 171 warga setempat dengan air dari kedua Pohon Sono. Dua puluh lima tahun berjalan, tepatnya 8 Desember 1929, Sendangsono dinyatakan resmi menjadi tempat penziarahan oleh Romo J.B. Prennthaler SJ.
Patung Bunda Maria di Sendangsono dipersembahkan oleh Ratu Spanyol yang begitu susahnya diangkat beramai-ramai naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang. Pada 1945, Pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes, dari sana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendangsono sebagai reliqui, sehingga Sendangsono disebut Goa Maria Lourdes Sendang Sono.
Tahun 1974, kompleks Sendangsono kembali terangkat oleh kiprah budayawan sekaligus rohaniawan YB Mangunwijaya yang memberi sentuhan arsitektur. Konsep pembangunan kompleks Sendangsono kental dengan Jawa sekaligus didesain sangat sejuk dan ramah lingkungan. Hingga mendapat penghargaan arsitektur terbaik dari ikatan arsitek Indonesia, untuk kategori kelompok bangunan khusus. Pada 17 Oktober 2004, merupakan 100 tahun Sendangsono.
Joseph Linggar, 50, warga Jakarta mengaku senang bisa sampai Sendangsono. Ia mengaku baru pertama kali dating ke lokasi itu. Bersama keluarga, ia memutuskan untuk datang ke Sendangsono sekaligus mengisi liburan.
“Saya baru kali ini berada di lokasi yang damai, sejuk dan indah. Rasanya ingin lama-lama di sini, gak mau pulang, udaranya juga bersih sekali,” ucapnya. (laz/ong)

Boks