GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja
Peserta Membludak, Bangun Karakter lewat Wayang Kulit
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar Festival Dalang Cilik Nasional V di halaman Museum Pendidikan Indonesia (MPI). Festival yang berlangsung hingga 16 Mei ini mampu menjaring 47 dalang cilik. Terbagi dalam dua klasifikasi, tingkat SD dan tingkat SMP
DWI AGUS, Jogja
Menurut Rektor UNY Prof Dr Rochmat Wahab M.Pd, MA, kegiatan ini memiliki nilai penting bagi anak-anak. Salah satunya penanaman dan membangun karakter dengan media wayang kulit. Menanamkan nilai-nilai luhur dalam setiap tokoh maupun lakon pewayangan.
“Wayang kulit merupakan salah satu kesenian adiluhung. Tidak hanya sebuah tontonan, tapi juga menjadi tuntunan dan tatanan. Festival ini pun juga berfungsi untuk mewadahi semangat seni para dalang cilik,” ungkapnya dalam pembukaan Senin malam (11/5).
Memasuki tahun kelima penyelenggaran ini, semakin banjir peminat. Terbukti tahun ini mampu menarik 47 dalang cilik, baik dari SD maupun SMP. Selain itu dengan berkembangnya sanggar-sanggar wayang kulit, turut mempengaruhi minat anak-anak.
Penanggung jawab penyelenggaraan Festival Dalang Cilik Nasional V Sardiman mengungkapkan, ini adalah indikasi baik untuk dunia pewayangan, khususnya wayang kulit. Regenerasi wayang kulit pun telah berjalan dengan sangat baik.
“Indikasinya, jumlah peminat festival ini tinggi. Berbeda dengan awal-awal diadakannya festival dalang cilik dulu. Kini peminatnya membludak, bahkan kita harus membatasi,” ungkap Sardiman.
Festival ini, menurutnya, juga wujud tanggung jawab seni UNY atas dunia kesenian. Selain sebagai ajang lomba, ajang ini pun pun berguna untuk bertegur sapa. Bahkan mampu mengamati perkembangan setiap dalang cilik dari tahun ke tahun.
Festival dalang cilik tingkat SMP perdana dilakukan tahun ini. Tujuannya untuk melihat sejauh mana perkembangan dalang cilik. Apakah selepas dari bangku SD tetap melanjutkan. Hal ini pun mampu menjaring bibit dalang cilik, terutama dalang cilik yang berpartisipasi di tahun-tahun sebelumnya.
“Ternyata mereka konsisten tetap ikut di tahun ini. Jadi alumni yang dulu ikut di festival tahun sebelumnya, tetap ikut. Secara tidak langsung kita bisa memantau perkembangan ini,” katanya.
Untuk lakon, setiap dalang cilik dibebaskan membawakan jalan cerita masing-masing. Bahkan untuk gaya tidak hanya terpatok gaya Jogjakarta maupun Surakarta. Menurutnya, dalam tahapan ini anak masih perlu dikenalkan secara perlahan.
Setiap dalang cilik ini tampil dengan durasi maksimal 35 menit. Lakon yang dibawakan cenderung berkisah tentang kepahlawanan. Mulai dari babad alas atau kelahiran seorang tokoh wayang.
“Disesuaikan juga untuk tokohnya dan tetap menyentuh dunia anak-anak. Tujuannya agar tetap ada unsur edukasi dan tidak menghilangkan nilai seninya. Uniknya selesai pentas, setiap dalang tidak langsung pulang, ada yang menonton, bahkan membantu bermain gamelan,” kata Sardiman.
Selain Festival Dalang Cilik, MPI UNY juga mengadakan Lomba Melukis Wayang Tingkat SD pada Selasa (12/5). Lomba ini memperebutkan piala Rektor UNY, piagam dan uang pembinaan dari panitia. Penutupan Sabtu malam (16/5) di halaman Rektorat UNY menampilkan pentas wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugroho yang mengusung lakon Wahyu Kembang Waseso. (laz/ong)

Boks