YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KREATTIF: Sate salak, salah satu menu yang tersaji dalam lomba memasak berbahan dasar salak di Rumah Dinas Bupati Sleman kemarin (8/5).

Tinggal Pilih, Ada Rendang, Sate, Bahkan Pizza

 
 
Salak ternyata tak hanya lezat disantap. Buah yang menjadi ikon Kabupaten Sleman itu bisa diolah menjadi aneka macam olahan. Apa saja menu yang memperkaya kuliner di DIJ ini.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
Rendang tak lagi identik dengan daging sapi. Demikian pula sate. Dari tangan cekatan ibu-ibu PKK Sleman, tercipta rendang dan sate salak. Bahkan, ada pula pizza salak.
Sepintas agak aneh jika dua menu favorit masyarakat Indonesia itu berganti bahan baku. Tapi, itulah sebagian menu yang tersaji dalam lomba memasak berbahan dasar salak di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman kemarin (8/5).
Seperti namanya, rasa rendang dan sate salak tak ubahnya menu yang umum tersaji di warung-warung makan. Bumbunya sangat terasa menggugah selera. Bentuknya pun mirip dengan menu aslinya. Perbedaan hanya terasa di lidah saat daging buah dikunyah. Kesan manis salak cukup terasa tanpa menghilangkan bumbunya.
Sang inovator sate salak, Rofiah, mengaku awalnya sekadar coba-coba dengan menu terbarunya. Warga Mlati yang biasa jualan sate salak itu memanfaatkan salak yang cukup mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional. Kecuali bumbu, tak ada bahan lain.
Setelah dicuci bersih, daging salak direbus setengah matang. Itu untuk menghilangkan rasa sepatnya. Lalu ditiriskan dan dipotong sesuai selera. Kemudian ditusuk menggunakan lidi dan dioles bumbu kacang plus kecap, dan dibakar. “Bumbu satenya biasa, seperti bawang merah putih, gula pasir, kacang, minyak, dan kecap,” jelasnya usai penilaian lomba.
Hasilnya cukup memuaskan. Sate salak buatan Rofiah mampu mengundang selera juri lomba. Meski bukan menjadi jawara, sate salak mendapat peringkat II. Kalah bersaing dengan cup cake salak karya Nur Kumarawati dari Gamping. Sedangkan juara III diraih Hasanah Sofi dari Moyudan yang membuat muffin salak.
Menu-menu tersebut adalah olahan basah berbahan dasar salak pondoh. Ada lagi olahan kering. Juara I berupa semple salak karya Nuningsih asal Pakem, II cookies daging kelapa buatan Nanik Maryani dari Ngemplak. Nastar salak garapan Yuniasih dari Godean sebagai juara III.
Semua menu yang tercipta dalam memeriahkan HUT ke-99 Kabupaten Sleman merupakan terobosan baru. Meski tetap ada menu lama yang tetap menggugah selera. Seperti, dodol salak, tart, pudding, nastar, dan brownis.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman Kustini Sri Purnomo sengaja memilih salak sebagai bahan dasar lomba masak bukan tanpa alasan. Selain telah menjadi ikon, ada alasan ekonomisnya. Setiap panen raya, buah salak melimpah ruah, khususnya di wilayah Turi, Tempel, dan Pakem. Nah, saat itu harga salak akan jatuh pada titik terendah.
Membuat produk inovasi berbahan salak dianggap sebagai langkah jitu memasarkan hasil panen dalam bentuk lain. “Ini cara menyiasati lonjakan produk untuk mempertahankan harga,” ujarnya.
Lomba tersebut menghadirkan juri-juri professional. Di antaranya, Prof Dr Sri Anggraeni dan Zaki Utama dari Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM, Agus Lidwines dari Rumah Pastry dan Culinary Wahyu Austin, Chef Suswanto dari Jogjakarta Plaza Hotel, dan Sumirah dari Poltekes DIJ. (din/ong)

Boks